Angin sejuk di pagi hari, Pricilla tampak sedang bersantai di taman sambil menikmati segelas susu dan dessert. Kenapa bukan teh? Karena Pricilla sedang ingin minum susu saja. Rasanya nikmat dipadukan dengan dessert.
Sudah seminggu sejak Pricilla sakit. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Selama sakit dia hanya berdiam diri di kamar. Terus merenung, sesekali dia membaca buku mengenai pengobatan herbal namun, tak ada yang bisa dia temukan di sana. Satu keanehan yang terjadi pada rambutnya, dimana warna rambut ujungnya mulai memutih. Itu bukan chat seperti yang dikatakan Zephan, tapi benar-benar warna rambutnya. Di novel tak diceritakan bagaimana gejala penyakit Pricilla.
Jadi dia tak terlalu memikirkan hal itu. Zephan juga berkunjung jika dia punya waktu, meski hanya sekedar melihat keadaan Pricilla saja. Itu membuat Pricilla senang.
Mungkin tak lama lagi, Zephan akan menyerahkan hatinya padanya. Pricilla percaya hari itu akan datang. Tapi di saat bersamaan dia gelisah. Sebab sebentar lagi jalan novel akan dimulai. Dimana hari kebangkitan kekuatan tokoh utama yang tepat di hari itu Zephan jatuh cinta padanya.
Pricilla mengepalkan tangannya, ia sudah menerima undangan untuk menghadiri acara itu di istana. Bertuliskan kewajiban di sana bagi para bangsawan oleh Kaisar.
"Bukankah mereka terlalu membanggakan kekuatan itu? Ck. Lyli, maaf tapi kali ini tak akan ada adegan dimana Zephan akan jatuh cinta terhadap gadis berketurunan peri." Pricilla mengedarkan pandangannya.
Pricilla mempertajam penglihatan, ia melihat di pintu masuk muncul kereta kuda. Lalu seorang gadis turun dari sana. Pricilla menyeringai mengetahui siapa gadis itu sebenarnya. Ia bangkit dari duduknya dan segera melangkah masuk ke mansion.
"Gadis licik! Kali ini habis kau!"
____________________
Zephan melakukan aktivitas seperti biasa. Berkutat dengan tumpukan kertas di mejanya. Kepala pelayan masuk ke ruangan, Zephan terus saja melanjutkan aktivitasnya.
"Tuan kereta Duke Hella sudah tiba" Lapornya. Zephan masih saja menggores penanya di atas kertas.
"Suruh dia untuk menunggu sebentar. Aku akan menyelesaikan dokumen ini sedikit lagi" pinta Zephan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tapi tuan, yang datang bukanlah Duke melainkan Lady Olivia" Goresan pena itu terhenti. Zephan menghembuskan nafas kasar.
"Dia mengingkari janjinya! Sudah kukatakan untuk tak mau lagi melihat wajah gadis itu. Dia ternyata begitu meremehkan ku. Batalkan kerjasamanya dan usir gadis itu sekarang!" Pinta Zephan, namun sebelum ia kembali beralih ke dokumennya lagi. Ketukan pintu membatalkan niatnya.
Kepala pelayan membukakan pintu dan nampaklah seorang pengawal dengan wajah yang panik.
"Tuan, maaf saya menganggu waktu anda. Ada kejadian gawat tuan! Nyonya sedang beradu mulut dengan Lady Olivia"
Deg! Zephan refleks bangkit dari duduknya. Ia segera keluar dengan raut wajah panik disusul oleh lelaki tadi. Langkah ia percepat menuruni anak tangga, ia sekarang nampak melihat kedua gadis itu dari sana. Mereka tak menyadari kehadirannya karena sibuk berdebat.
Saat ingin menuruni dua anak tangga terakhir, mata Zephan membulat melihat istrinya sudah terduduk di lantai. Tak berapa lama gadis itu kembali berdiri. Zephan semakin mempercepat langkahnya.
PLAK!
Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi gadis berambut pink itu dengan keras. Zephan terdiam, ia terkejut melihat gadis berambut hitam itu yang dipenuhi amarah.
"Sekali lagi aku melihat kau mendekati suamiku! Maka bukan tamparan lagi yang akan ku berikan untuk mu!" Teriak gadis itu dengan kesabaran yang sudah habis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Male Lead Itu Milikku
RomanceStatus : End Male Lead itu hidupku, satu-satunya yang dapat membuat ku bertahan di dunia yang memuakkan ini. Jika dia mati maka apalagi yang harus membuat ku bertahan? Ku kira aku mati, ternyata takdir mengizinkan ku untuk tinggal di dunianya. "Gran...
