Sinar mentari masuk membuat tidur gadis berambut putih itu terusik. Mata keemasannya perlahan terbuka, dia duduk dan merasakan pinggangnya agak sakit akibat semangat Zephan tadi malam. Saat Pricilla menunduk, dia bisa melihat banyak tanda merah menghiasi setiap sudut tubuhnya membuat pipinya memerah, kejadian semalam terputar di kepalanya.
"Kya! Astaga! Suamiku sangat bersemangat~" Teriak Pricilla riang. Sayangnya Zephan lebih dulu pergi karena ada urusan di istana, Pricilla juga meyakinkan dia bahwa semua akan baik-baik saja.
Namun, ketukan pintu tiba-tiba membuat kesenangannya menghilang. Dia mendapatkan laporan bahwa ada yang bertamu dan itu tanpa pemberitahuan. Saat Pricilla bertanya siapa itu, pelayan mengatakan bahwa itu seseorang yang penting baginya membuat Pricilla gelisah.
Pricilla segera bersiap, dan saat dia tiba di pintu ruang tamu, jantungnya berdetak kencang. Dia merasakan firasat buruk. Pintu terbuka dan benar saja, nampak seorang pria berambut putih sedang menunggu nya sambil menikmati secangkir teh yang telah disajikan oleh pelayan.
"Periku~ kau sudah tiba~ senang melihat wajahmu yang baru saja bangun dari tidur nyenyak mu" Pria itu tersenyum manis membuat Pricilla merinding.
Pintu tiba-tiba tertutup, Pricilla menelan ludah nya dan mencoba menenangkan diri lalu duduk di depannya. Mata keemasan Pricilla bergetar saat bertemu dengan mata merah darah itu. Di satu sisi dia merasakan sangat merindukan sosok pria di depannya ini dan di sisi lain, dia takut akan jatuh ke sebuah jurang yang dalam di suatu tempat di dalam dirinya.
"Ada apa, Periku? Ekspresi mu mengatakan bahwa kehadiran ku adalah sesuatu yang tak kau harapkan. Apakah itu benar?" Seringai Zeno, membuat bibir Pricilla semakin kelu.
"Y-ya. Aku sama sekali tidak mengharapkan mu... Zeno" Jawab Pricilla memberanikan dirinya. Membuat senyuman diwajah Zeno hilang.
"Aku jadi sedih lho~ bagaimana jika aku mengingatkan lagi pertemuan kita, Lucyaku~"
Flashback on!
Sekian lama telah berlalu sejak Lucya, seorang peri cantik, pertama kali bertemu dengan Pangeran Zeno yang tersembunyi di antara hutan yang lebat. Lucya adalah peri yang ceria, penuh dengan kegembiraan dan kebaikan hati. Sedangkan Pangeran Zeno, seorang pria yang tampan dan bijaksana, memiliki pesona yang tak tertandingi.
Peri-peri di hutan memandang Lucya sebagai sosok yang istimewa karena dia adalah ibu dari para peri .Keindahannya memancar dari setiap gerakan dan rambut putih sehalus sutra dan mata keemasan yang memancarkan kekuatan yang tiada tara.Namun, hanya sedikit yang tahu bahwa di balik keceriaannya, Lucya merasa kesepian. Ia merindukan cinta sejati yang dapat mengisi hatinya yang kosong. Sampai suatu hari, takdir mempertemukan Lucya dengan Pangeran Zeno.
Zeno adalah pangeran yang terkenal di seluruh kerajaan. Ia memiliki kebijaksanaan yang luar biasa dan hati yang mulia. Namun, di balik semua itu, Zeno merasa terjebak dalam perjodohan yang tidak diinginkannya. Ia merindukan cinta yang tulus, di mana ia dapat bersama dengan seseorang yang benar-benar memahaminya.
Suatu hari, Lucya dan Zeno bertemu di tepi danau yang tenang. Lucya yang belum pernah bertemu dengan manusia tertarik padanya dan menolongnya, dan Zeno yang terpesona akan kecantikan peri itu langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka saling berbicara, saling mengenal, dan dalam waktu singkat, Lucya merasakan kilatan cinta yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Cinta di antara Lucya dan Zeno tumbuh dengan cepat. Mereka menghabiskan waktu bersama, berbagi cerita, dan menemukan kesamaan dalam impian dan harapan mereka. Lucya merasa bahwa Zeno adalah sosok yang mampu melengkapi dirinya, sementara Zeno merasa bahwa Lucya adalah sosok yang bisa membuka hatinya yang terkunci.
Pada hari itu, Zeno yang penuh tekat berlutut di hadapan Lucya dengan kotak cincin berlian yang terbuka. Suasana langit orange dengan angin semilir sejuk di Padang rumput yang luas itu. Jantung Lucya berdetak kencang dengan pipi yang merona.
"Periku, aku sadar bahwa aku sudah menemukan belahan jiwaku, itu kamu, Lucya ku. Aku ingin selalu bersama mu, maukah kamu menikah dengan ku dan menghabiskan seluruh hidupmu bersama ku?" Tatapan Zeno padanya sangat tulus dan mata merahnya gemetar penuh harapan.
"Ya, tentu. Bagaimana bisa aku menolakmu..." Air mata haru menetes dari mata emas itu membuat Zeno meleleh dan dengan cepat memeluknya erat.
Namun, satu hal yang tak Lucya beri tahu pada Zeno. Bahwa dia tidak boleh meninggalkan hutannya.
'Tidak. Ini akan baik-baik saja, lagi pula aku dan Zeno saling mencintai. Aku akan melakukan apapun untuk nya'
Dengan keberanian dan tekad, Lucya dan Zeno memutuskan untuk melawan segala rintangan. Mereka berjuang untuk mempertahankan cinta mereka, meyakinkan Raja bahwa cinta sejati tidak dapat dipaksa atau dibatasi oleh status sosial atau kepentingan politik. Lucya yang mengungkapkan identitasnya sebagai peri tentu mendapatkan perhatian dari berbagai penjuru negeri.
Mereka berdua menikah dan Zeno dilantik menjadi Raja. Dengan kebahagiaan yang melimpah ruah mereka memerintah Kerajaan dengan baik, perpaduan antara mereka begitu sempurna. Dan Lucya menggunakan kekuatan perinya untuk membawa kedamaian bagi rakyatnya.
Hingga kebahagiaan itu perlahan mulai sirna karena fakta bahwa Lucya tak bisa memiliki keturunan, itu membuat kerajaan dilanda kegelisahan.
"Semua akan baik-baik saja, periku~ aku akan selalu bersama mu. Cukup memiliki mu di hidup ku saja itu sudah sempurna, jadi jangan memikirkan apapun lagi..." Zeno mencium kening istri sekaligus ratunya itu.
Namun tetap saja, itu tak bisa meredakan kegelisahan Lucya. Hari demi hari tawaran untuk Zeno memiliki selir terus berdatangan, membuat kegundahan Lucya bertambah. Lucya sadar bahwa dia tak bisa memberikan apa yang diinginkan oleh kerajaan ini.
"Rajaku... Sepertinya akan lebih baik kau terima tawaran selir itu..." Lirih Lucya dengan putus asa membuat Zeno kecewa.
"Tidak. Aku tidak gila, Lucya! Persetan dengan keturunan! Aku hanya ingin kamu satu-satunya wanitaku... Tenangkan pikiran mu..." Zeno pergi dari sana dengan kekecewaan membuat Lucya tak kuasa menahan tangisannya untuk hari itu.
Lucya merasa pasrah dan putus asa. Hingga suatu malam hal buruk terjadi. Saat itu sedang ada kunjungan dari beberapa kerajaan lain, Lucya sangat lelah dan begitu pintu kamarnya dia melihat pemandangan mengerikan.
Zeno berdiri dengan pakaian yang berlumuran darah dan pedangnya yang tajam di lapisi oleh darah segar, lalu saat matanya beralih dia melihat sosok gadis berambut pirang tergeletak tak bernyawa di atas tempat tidur dengan bersimbah darah.
Lutut Lucya gemetar, waktu seolah berhenti dan Zeno terkejut melihatnya. Zeno melangkah menghampirinya, namun Lucya refleks mundur membuat hati Zeno sakit. Mata keemasan itu bergetar menyiratkan ketakutan.
"Lucya... Aku bisa menjelaskannya..." Lirih Zeno dengan nada penuh penyesalan.
"Kalau begitu, jelaskan... Ku mohon..." Ucap Lucya gemetar dan terduduk di lantai.
"Dia, berani masuk ke kamar kita dan menggoda ku... Aku sudah menyuruhnya untuk pergi... Tapi dia malah semakin tak terkendali, lalu..." Zeno terdiam sesaat. "Lalu karena kemarahan yang besar aku membunuhnya...." Pedang itu jatuh ke lantai dan Zeno menutup wajahnya dengan tangannya frustasi.
Jantung Lucya berdetak kencang, dia sangat takut. Ini tidak seperti Zeno yang dia kenal lemah lembut. Tapi dia harus percaya pada suaminya. Saat Lucya berusaha berdiri tiba-tiba pintu terbuka lagi menampilkan beberapa prajurit dan Mentri serta raja dari Kerajaan lain.
"Raja telah membunuh putri kerajaan seberang!"
To Be continued
Semoga kalian masih stay ya~
Aku nulis chapter ini campur aduk bgt apalagi chapter depan benar-benar full sad sih😭😭😭
Jangan lupa vote dan komen Minna <3
KAMU SEDANG MEMBACA
Male Lead Itu Milikku
RomansaStatus : End Male Lead itu hidupku, satu-satunya yang dapat membuat ku bertahan di dunia yang memuakkan ini. Jika dia mati maka apalagi yang harus membuat ku bertahan? Ku kira aku mati, ternyata takdir mengizinkan ku untuk tinggal di dunianya. "Gran...
