Yuhuu aku datang lagi, jan bosan-bosan datang ke sini.
Eits, keknya kalian ada yang lupa deh pas buka part ini. Yup, kalian lupa memberikan vote. So, vote dulu sebelum baca. Jan pada pelit.
Okee kita next!
Happy reading yeorobun ...
Hari ini Najma berangkat pagi-pagi sekali. Dia tidak ingin orang rumah melihat wajah sembab dan mata bengkaknya karena begadang— menangis hampir semalaman.
Najma bersikeras berjalan kaki meski berkali-kali Kak Erik menawari tumpangan. Menurut Najma berjalan kaki sambil mendengarkan musik menjadi kesenangan tersendiri.
Karena hari ini hari Jum'at, dia memakai seragam pramuka, serta membawa seperangkat alat sholat untuk menunaikan sholat Dhuha bersama. Bukan seperangkat alat sholat dibayar tunai ya gays.
Sudah menjadi rutinitas bagi murid SMA Tamra menunaikan sholat Dhuha bersama di hari Jum'at. Para siswi harus membawa mukena juga sejadah dan para siswa harus membawa sarung dan kopiah. Memang SMA Tamra bukan berbasis SMA khusus muslim. Tapi karena mayoritas murid beragama Islam kerap sekali sekolah mencantumkan program-program keagamaan. Sholat Dhuha di hari Jum'at adalah salah satunya.
Sampai di sekolah. Keadaan masih lenggang. Hanya ada satu atau dua orang dari kelas lain yang Najma yakini giliran piket hari ini. Di kelas juga masih belum ada satu insan pun yang tampak. Karena Najma bukan tugas piket hari ini dia memilih mendengarkan musik sambil menunggu panggilan untuk melaksanakan sholat Dhuha di lapangan. Satu persatu teman sekelasnya datang. Najma segera keluar meninggalkan mereka yang sedang tugas piket, tanpa ada niatan membantu. Kenapa harus membantu, orang kelas juga sudah adil membagi rata siswa yang bertugas di setiap harinya.
Najma berdiri di luar kelas. Melihat siapa-siapa saja yang datang ke sekolah. Tapi kebanyakan Najma tidak mengetahuinya. Dari jauh di ujung koridor sana dia melihat Anzar, Taqi dan Virgan, mereka tengah asik mengobrol sambil sesekali tertawa. Tapi Najma tidak melihat Anzel. Di mana Anzel? Biasanya mereka selalu bersama kemanapun mereka pergi. Najma berdo'a semoga saja Anzel gak sekolah hari ini. Dengan begitu dia akan menikmati hari yang damai di sekolah. Atensinya beralih kala ada sesosok laki-laki yang berjalan tak jauh dari teman-teman Anzel. Najma pertama kalinya melihat sosok itu, atau mungkin karena Najma yang jarang keluar jadi dia baru melihat cowok itu di sekolah? Penampilannya sangat menonjol dibanding yang lain. Postur tubuh tinggi, badan kecil, kulit putih sangat putih melebihi putihnya kulit wanita. Yang paling menonjol dari semuanya warna rambut yang pirang seperti orang Eropa. Apa dia blasteran Eropa atau pirang karena diwarnai. Dia siapa? Rasanya dia bukan murid sekolah sini.
"Dia Rayhan Rizaski, siswa pertukaran antar sekolah. Kamu tahu kan Kak Robin? Dia siswa pertukaran dari Kak Robin. Katanya juga dia kerabat dari Bapak Bupati," jelas si ketua kelas.
Sejak kapan si ketua kelas ada di sampingnya? Kenapa Najma tidak menyadari kehadirannya? Apa dia terlalu fokus memperhatikan orang di seberang sana. Dan sejak kapan Najma si seleb kelas peduli sama dia.
"Maaf soal kemarin, aku gak bisa hentiin Kak Anzar nyeret kamu. Aku gak tahu masalahnya apa, tapi terlibat dengan mereka bukan hal yang baik." ucap ketua kelas yang disetujui Najma dalam hati. Hanya saja Najma tak mengerti kenapa dia meminta maaf, padahal dia gak salah.
"Oh ya gapapa. Gak ada yang terjadi kok." ucap Najma sambil melenggang masuk ke dalam kelas. Najma gak suka pada si ketua kelas yang tiba-tiba saja sok peduli padanya. Kalaupun cuma karena tugas sebagi ketua kelas, Najma tetap gak suka. Kalaupun dia benar peduli pada Najma tanpa ada maksud lain, terus dari mana saja dia kemarin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Najma Sagara (END)
De TodoKarena kekeliruan dalam mengenali presensi tubuh, Najma salah memeluk sembarang orang. Kesalahan itu menjadi alasan garis hidup Najma bersinggungan dengan Anzel, seorang badboy yang mengidap haphephobia. Banyak hal rumit terjadi setelah tragedi itu...
