Hai aku kembali.
Sorry up nya gak konsisten.
Jan lupa vote dulu.
Happy reading ...
"Woi lo kenapa? Tampar pipi sendiri?"
Anzel terkejut dengan tingkah aneh Najma yang tiba-tiba memukul pipinya sendiri.
"Biar sadar," jawab Najma jujur.
Anzel tertawa mendengar jawaban dari Najma. Najma tak menyangka Anzel bisa tertawa selepas itu. Menurutnya itu lebih cocok dibanding Anzel yang biasanya suram.
Tiba-tiba ada motor yang menyalip, membuat motor yang dikendarai Anzel oleng hampir menabrak tiang listrik. Tapi untung Anzel cukup mahir dia segera menguasai motornya kembali. Dan berhasil menghentikan kajadian na'as yang hampir saja terjadi.
"Sorry tadi ada orang gila lewat."
Najma sangat terkejut. Kalau saja Anzel tidak sigap, mungkin entah apa yang akan terjadi pada tubuhnya. Di samping jalan ada got dan di depan sana ada batu besar. Untuk sekedar membayangkannya saja Najma sudah gemetaran.
"Lo gak papa kan?"
Najma belum bisa menjawab pertanyaan dari Anzel. Najma masih sibuk menetralkan detak jantungnya yang susah diajak kompromi.
Melihat Najma seperti itu, Anzel kesal. Dia sempat melihat orang yang nenyalipnya barusan. Anzel bejanji akan membuat orang itu jera. Tunggu saja.
Anzel menepikan motornya di depan pos ronda atas permintaan dari Najma. Awalnya Anzel memaksa untuk mengantarnya sampai halaman rumah, tapi Najma menolak dengan sangat keras.
"Makasih Kak."
"Yang tadi beneran sorry banget."
"Gak papa bukan salah Kakak. Kak pestanya semangat yah." Najma memberi semangat dengan mengangkat dua tinjunya ke udara. Bagi Anzel saat ini Najma tampak sangat lucu.
"Kalau gue menang kita temenan. Kalau gue kalah ... itu gak mungkin. Pokoknya tetap temenan."
Najma tersenyum menanggapi keanehan Anzel. Melihat senyuman Najma seketika Anzel tersadar kalau Najma memang cantik. Pantas aja Anzar susah move on dari dia.
Anzel menepis jauh-jauh pikiran itu. Murni dia hanya ingin berteman dengan Najma tanpa ada maksud lain. Anzel menguatkan tekadnya.
"Iya aku mau temenan sama Kakak. Tapi Kakak harus menang." Ucap Najma dengan senyum yang membuat Anzel ketar ketir.
"Duh jantung berhenti nge dj dong," bisik Anzel lirih.
Seperginya Anzel, Najma melanjutkan perjalanan menuju rumah Ayahnya. Pikirannya sedikit ringan setelah berinteraksi dengan Anzel tadi. Najma tidak mengira jika Anzel orang seperti itu. Orang yang cukup menyenangkan jika bicara dengannya. Najma jadi penasaran apa kira-kira isi dari paperbag yang diberikan Anzel yang katanya sogokan itu. Najma jadi tidak sabar untuk membukanya.
Jika biasanya Najma tak ingin cepat-cepat sampai ke rumah kali ini Najma berjalan lebih cepat supaya cepat sampai dirumah dan segera membuka paperbag yang di berikan Anzel.
Begitu sampai Najma langsung menyalami Ayah dan juga Ibu tirinya. Tak luput ucapan salam sebelumnya. Setelahnya Najma bergegas pergi ke kamarnya. Ayahnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya yang gak biasa. Ayahnya mengira mungkin putrinya habis bicara dengan 'dia. Karena biasanya Najma akan sangat berbeda jika sudah bertemu atau bicara dengannya.
Najma menutup pintu kamar dan langsung membuka paper bag itu.
"Wow," hanya kata itu yang bisa Najma keluarkan saat melihat isi dari paperbag itu. Dia sangat terkejut, benar-benar terkejut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Najma Sagara (END)
RandomKarena kekeliruan dalam mengenali presensi tubuh, Najma salah memeluk sembarang orang. Kesalahan itu menjadi alasan garis hidup Najma bersinggungan dengan Anzel, seorang badboy yang mengidap haphephobia. Banyak hal rumit terjadi setelah tragedi itu...
