Broken Of Friendship

158 17 2
                                        

Annyeong...
Aku kembaliii, jan lupa kasih support untuk aku ya.
Jan lupa juga buat ajak teman sesama readers wp kalian untuk mampir ke cerita ini ya gays.

Okee happy reading...

Pagi-pagi sekali di saat arunika belum mengabsen kehadirannya, Najma sudah ada di sekolah. Selain karena hari ini bagian piket kelas, Najma juga sedang butuh waktu dan ruang untuk benar-benar sendiri.

Seperti biasa. Setelah menyelesaikan tugas piketnya Najma duduk di bangkunya. Jika biasanya dia duduk sambil memandang keluar jendela, kali ini beda. Bedanya kali ini Najma menelungkupkan kedua tangannya dan menyembunyikan wajah sembab di antaranya. Meski samar isakannya masih terdengar.

Tak terlalu lama seorang siswa masuk ke dalam kelas lalu duduk di bangku di depan Najma, dengan posisi tubuhnya menghadap ke arah Najma.

Menyadari ada orang yang duduk di depannya. Najma semakin menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya yang terlipat.

"Na liat gue bentar. Gue pengen nanya," siswa di depannya itu bersuara masih sangat tenang. Tangannya terulur untuk membelai surai hitam milik Najma. Tapi harus ia urungkan karena Najma beringsut menjauh tanpa menunjukkan wajahnya.

"Na lo benci banget yah sama gue? Gue minta maaf kalau gue salah. Maaf," suara murid laki-laki itu terdengar penuh kesungguhan.

"Minta maaf? Atas apa?" tanya Najma, suaranya serak karena habis menangis.

"Gue minta maaf buat kesalahan gue. Gue udah hampir ngerusak lo. Gue udah paksa ambil first kiss lo. Berapa kali lagi gue harus ngomong, gue lakuin semua itu karena gue cinta sama lo, gue sayang sama lo, Nana!" suara cowok itu mulai meninggi.

Najma memang tidak bereaksi. Dia masih seperti tadi, menelungkup menyembunyikan wajahnya. Tapi di luar sana ada seseorang yang tangannya terkepal erat menahan gejolak di dalam dada. Perasaan marah menguasai dirinya dan membuat dadanya sesak.

"Nana? Jawab! Gue butuh jawaban sekarang!"

"Apa yang harus aku jawab?" Najma memandang wajah cowok itu. Sebelah tangannya menghapus air matanya kasar.

"Lo benci kan sama gue?"

"Aku gak benci. Hanya kecewa."

"Kalau lo gak benci sama gue. Terus apa yang lo lakuin sama si Anzel. Lo tau kan Anzel teman gue. Tapi lo. Tega Na. Lo ... gue mau Nana yang dulu."

"Emang kenapa dengan aku yang sekarang?"

"Lo berubah Na." Jawab siswa itu lemah.

"Ya aku akui, aku memang berubah. Dan kamu juga tau berubah itu kata pamit yang diperhalus. Zar aku sudah pamit sejak lama. Sejak hari itu aku sudah berpamitan." Najma menekankan kata pamit.

"Terus sekarang lo pacaran sama si Anzel. Lo masih dendam sama gue karena gue udah hampir merawanin lo." Anzar tersenyum smirk. Kata-kata yang dia keluarkan terdengar vulgar.

"Sayang banget waktu itu gak dilanjutin," lanjut Anzar. Nadanya terkesan mengejek. "Kalau lo mau boleh kok dilanjut." Nadanya bukan mengejek lagi. Ini lebih terkesan merendahkan.

Pupil mata Najma membesar. Dia tak percaya Anzar berubah sedrastis itu. Dimana Anzar yang dulu. Dimana Anzar yang selalu bertutur kata lembut. Dimana Anzar yang dikenalnya. Kemana perginya sosok itu?

Najma Sagara (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang