Halo Annyeonghaseyo aku kambek is kembali lagi.
Sorry baru bisa up,
Seperti biasa jan lupa vote sebelum baca and jan lupa buat share cerita ini ygy.
Okee happy reading...
______
"Bu Dokter, Kak Asa ada di mana?" tanya Najma di sela tangisnya.
"Kenapa? Mau ketemu Asa?" tanya dokter Hana dengan senyum menggoda yang ia tujukan pada putranya.
"Enggak. Kak Asa, masih di sekolah kan?" dokter Hana tersenyum. "Aku mau minta maaf sama dia."
"Bicara langsung aja. Kan orangnya ada di samping kamu." ucap dokter Hana sembari tangannya menunjuk Anzel yang berdiri tak jauh dari Najma.
"Kak Asa? Sejak kapan?" batin Najma. Matanya menoleh ke arah samping. Harap-harap cemas.
Tadaaa!! Ada Anzel berdiri di sana sedang menatapnya sangat-sangat tajam dengan tangan yang terlipat di dada dan senyum sinis yang ia sunggingkan. Meskipun terlihat santai tapi auranya mengintimidasi.
"Kenapa? Apa Kak Asa sudah tahu?" tanya Najma dalam hati.
"Kalau gitu, selamat ngobrol-ngobrol." ucap dokter Hana ceria. Beliau juga pergi, memberi mereka ruang untuk bicara berdua.
Najma semakin resah saat Anzel tak juga bersuara. Tangannya memilin selimut yang ssedang dipakai. Apa Anzel marah padanya? Kenapa dari tadi dia menatap se intens itu ke arahnya.
"Kak Asa, jangan pelototi aku terus," ujar Najma. Wajahnya menunduk tidak berani menatap mata Anzel.
Tapi Anzel diam saja. Dia masih berdiri di sana menatap tajam ke arah gadis di depannya. Tatapannya tajam seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Kak Asa, aku minta maaf. Aku salah. Aku ceroboh, maaf," tutur Najma semakin takut kala orang yang diajaknya bicara masih tetap geming tak memberi respon apapun. Bergerak pun tidak.
"Kak Asa, jangan liatin aku kayak gitu. Aku takut," ujar Najma lagi. Kali ini suaranya sedikit bergetar.
Anzel menghembuskan nafasnya, menyugar rambut ke belakang dan mendesis pelan.
Bukan, saat ini Anzel bukan sedang marah. Dia hanya sedang mode serius. Pikirannya sedang fokus menebak siapa kira-kira yang mengurung Najma di toilet dan membuatnya seperti itu. Kalau saja sudah ketemu Anzel pasti tidak akan segan-segan padanya.
Kalau saja tadi Najma terlambat ditemukan. Kalau saja tadi Anzar terlambat menolongnya. Apa yang akan terjadi pada Najma. Ish kenapa dari sekian banyaknya orang yang menghuni SMA Tamra, kenapa harus Anzar yang menolongnya?
Anzel duduk di samping Najma. Tangannya terulur mengelus puncak kepala gadis itu. Tak lupa senyum manis juga ia sunggingkan.
"Kak Asa maaf," ujar Najma semakin menunduk. Baginya senyum Anzel saat ini lebih menakutkan dibanding saat dia mengomelinya.
Menurutnya, laki-laki yang tengah menatapnya kini itu mirip seperti air laut. Terlihat tenang di permukaan tapi tak tahu apa yang tersembunyi di dalamnya.
Anzel menghentikan aksi tangannya di kepala Najma. Beralih menangkup kedua pipi Najma dan menolehkannya supaya menatap ke arahnya.
"Kenapa? Kenapa minta maaf?" tanya Anzel heran. Alisnya terangkat satu tanda dia benar-benar bingung dengan pertanyaan gadis yang berstatus pacarnya kini.
Matanya bergerak liar menghindari sorot tajam dari mata berwarna hazel yang tengah menatapnya. Jujur Najma tak berani menatapnya.
"Kenapa, Nana?" tanyanya masih sabar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Najma Sagara (END)
DiversosKarena kekeliruan dalam mengenali presensi tubuh, Najma salah memeluk sembarang orang. Kesalahan itu menjadi alasan garis hidup Najma bersinggungan dengan Anzel, seorang badboy yang mengidap haphephobia. Banyak hal rumit terjadi setelah tragedi itu...
