Isi Paper bag

219 28 0
                                        

Hai aku kembali lagi, sekarang tepat waktu kan?
Jan pada pelit vote, amal di bulan Ramadhan loh.

Okee start!

Happy reading ...

"Ck, menyebalkan." Virgan berucap sambil memandang tajam Najma yang saat ini sudah berjalan ke lapangan kembali.

"Siapa yang menyebalkan?" Taqi bertanya sambil mengikuti arah pandang Virgan. "Najma?" lanjutnya.

"Bukan lah. Gue cuma gak mau sholat dhuha, males," Virgan mengelak.

"Oh kalau gitu gue temenin bolos deh." Taqi memberikan kode kepada Virgan.

"Ogah ah gue- aaww!!"

"Cepetan sana keburu dimulai." Anzel menendang kaki mereka berdua.

Anzar menyeret Taqi dan Virgan ke arah barisan siswa kelas mereka. Dan Anzel dia melipir ke pinggir lapangan bersama para nonis lainnya.

Anzel memperhatikan mereka. Dari mulai takhbirotul ikhrom sampai salam semuanya tak luput dari pindaian Anzel.

Anzel membayangkan seandainya Anzel ada disana menjadi salah satu dari mereka apa akan ada yang berbeda dari hidupnya? Apa dia bisa mengisi kehampaannya? Apa mungkin bisa menutupi lubang di hatinya? Anzel belum yakin. Tapi selama beberapa bulan di sini dia jadi tertarik pada agama mayoritas orang-orang disini. Dia sering searching tentang agama Islam di internet, makanya tadi dia berani menegur Najma meski ujungnya jadi masalah. Akhir-akhir ini dia sering memutar playlist lagu-lagu religi atau sholawat karena menurutnya nadanya bikin tenang. Bahkan dia sudah hampir kecanduan dengan suara merdu pelantun sholawat tanpa musik milik Ai Khodijah yang cukup populer.

"Apa gue harus belajar cara sholat dhuha juga?" gumam Anzel.

Setelah berdo'a bersama, jama'ah membubarkan diri. Para siswa kembali ke kelas masing-masing dan para guru kembali ke kantor bersiap-siap untuk agenda selanjutnya.

Begitu juga dengan Anzel, dia berjalan bersama teman-temannya menuju kelas mereka di lantai dua.

Saat menyusuri koridor kelas sebelas, Anzel bertemu Najma di depan kelasnya. Seperti sedang menunggunya. Melalui gerakan bibir Najma mengajak Anzel bertemu di perpustakaan. Dan Anzel menganggukinya.

Ekor mata Virgan menangkap interaksi kecil antara Anzel dan Najma. Tangannya terkepal sepertinya Virgan sedang menahan kesal pada seseorang.

"Lo gak boleh berubah," batin Virgan.

*****

Sepertinya berita tentang Anzel yang memukul Pak Yudhis sedang menjadi topik panas sekolah ini. Karena begitu Najma masuk kelas dia langsung mendapat brondongan pertanyaan dari teman sekelasnya - yang dari dulu gak pernah bertegur sapa apalagi mengobrol dengannya.

Najma mengacuhkan mereka. Dia memilih melewati semua pertanyaan dari mereka dan duduk di kursinya, lalu memandang ke luar jendela.

"Cewek sombong,"

"Kita kan cuma nanya,"

"Kayanya berita itu benar. Dia itu pacarnya Kak Anzel."

"Terus Kak Ray gebetannya?"

"Idih najis, sasimo."

"Padahal dia biasa aja,"

Najma hanya bisa menutup kedua telinganya dengan headset dan memutar lagu idolanya dengan keras.
"Cuma karena aku kebetulan terlibat sama dia, kenapa harus di bilang pacaran. Padahal deket aja enggak. Kenapa juga harus bawa-bawa Kak Ray. Kak Ray itu baik cuma nolongin. Coba kalau Kak Ray gak nolongin, Kak Anzel bakal di tolong sama siapa? Mereka gak mikir kalau bikin gosip tuh harus masuk akal. Masa aku pacaran sama Kak anzel. Di rebutin dua cowok ganteng. Bagus kalau nemang benar. Lah inikan gak ada apa-apa. Mereka juga gak bakal mau sama orang kaya aku. Kasihan mereka kalau mendengarnya. Mereka pasti jijik banget," Najma menggerutu dalam hati.

Najma Sagara (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang