Annyeong haseyeo, hai aku kembali setelah beberapa minggu hiatus. Suasana lebarannya sudah berakhir, dan kita kembali lagi ke rutinitas awal.
Yo jan lupa share cerita ini ke teman kalian dan ajak mereka buat baca cerita saya ini.
Yuhuu happy reading ...
_____
Suasana kantin hari ini sedikit sepi, membuat Najma leluasa untuk bercerita kepada Naya. Ya, saat ini Najma dan Naya sedang duduk berhadap-hadapan di meja pojok yang kebetulan sedang tidak ada penghuninya. Karena biasanya meja ini selalu digunakan oleh Anzel cs.
"Na, sebenarnya apa yang pengen kamu omongin?" Naya membuka percakapan. Tangannya sibuk mengaduk-aduk es teh yang baru datang dua menit lalu.
Najma geming. Kepalanya sedang sibuk merangkai kata, dari mana memulai percakapannya dengan Naya. Jujur Najma sendiri juga bingung dengan cara berpikir Ray yang menurutnya aneh. Kenapa tidak Ray sendiri yang menyampaikannya kepada Naya. Bukan malah menyuruhnya.
"Na!" Naya sedikit meninggikan suaranya. Gadis berhijab itu merasa kesal dengan lawan bicaranya yang malah sibuk dengan pikiran sendiri, tidak menghiraukan pertanyaan yang dilontarkannya dari tadi.
"Kamu, ada yang pengen diomongin sama aku,'kan?" Tangannya masih setia mengaduk es teh di depannya.
"Iya. Tapi aku bingung mulainya dari mana," Najma berkata jujur.
"Tentang Kak Ray kan?" Gadis berhijab itu menebak tepat sasaran. Yang otomatis membuat lawan bicaranya sedikit terkejut. Tapi tak berlangsung lama. Najma langsung menganggukinya. Toh awal akhir pun dia harus memulainya. Dia bersyukur Naya yang membahasnya duluan.
"Kenapa?" pertanyaan itu menuntut jawaban.
"Oke. Tapi kamu dengerin baik-baik. Aku gak pandai ngejelasin, suka berputar-putar gak jelas."
Gadis berhijab itu merespon dengan anggukan.
Najma menarik nafas panjang. Lalu mengeluarkannya.
"Nay tadi aku bicara sama Kak Ray. Soal omongannya tadi di kelas dia serius katanya ..."
"Brengsek," umpat gadis berhijab itu.
"Nay dengerin aku dulu," Naya menghembuskan nafasnya. Lalu mengangguk mengiyakan. "Dia beneran suka sama kamu. Tapi waktu dia udah gak banyak lagi," Najma menjeda kalimatnya. Melihat respon dari Naya. Yang sedang memicing ke arahnya.
"Kenapa? Kanker stadium akhir? Gagal ginjal atau apa?" suara gadis berhijab itu terdengar sarkas.
"Bukan. Dia sehat. Katanya dia cuma punya waktu seminggu lagi di sini."
"Ya aku tahu. Karena berurusan dengan polisi jadi kepulangannya dipercepat." potong Naya cepat. Yang memang berita itu hanya diberitahukan kepada jajaran OSIS saja.
"Iya. Tapi bukan itu pointnya," Naya tidak merespon apa-apa seakan memberi Najma ruang untuk melanjutkan kalimatnya.
"Katanya dia harus ke Berlin—"
"Kan bisa LDR?" Naya memotong kalimat Najma. Dia tidak terima.
"Tapi Kak Ray akan menetap di sana."
Naya diam. Di kepalanya sedang menyusun argumen untuk mendebat perkataan Najma. Ya Naya memang suka pada Ray. Mendengar Ray juga menyukainya tentu saja Naya senang. Tapi mendengar kata seminggu. Naya merasa terhina. Bagaimanapun dia bukan mainan. Bukan barang kreditan yang bisa ditentukan tenggat waktunya. Ini tentang perasaan yang gak tahu kapan akan berakhirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Najma Sagara (END)
AcakKarena kekeliruan dalam mengenali presensi tubuh, Najma salah memeluk sembarang orang. Kesalahan itu menjadi alasan garis hidup Najma bersinggungan dengan Anzel, seorang badboy yang mengidap haphephobia. Banyak hal rumit terjadi setelah tragedi itu...
