Hai sorry telat mulu update nya.
Jan lupa vote.
Happy reading ...
"Tapi gue gak suka kalau si Anzel berubah." Ujar Virgan berterus terang.
Anzar dan Taqi melayangkan tatapan curiga kepada Virgan. Mereka gak habis pikir kok Virgan bisa bicara begitu. Padahal kan bagus kalau Anzel berubah, gak akan banyak lagi orang yang harus jadi korban kegilaannya yang akan membuat mereka kerepotan lagi. Apa Virgan berpikiran lain?
Ditatap penuh curiga seperti itu membuat Virgan kelabakan. Seperti maling yang ketahuan, diapun mencari topik buat peralihan.
"Maksud gue bukan gak suka tapi ke arah gimana yah. Eh kan aneh kalau Anzel tiba-tiba berubah. Emang kalian gak aneh? So ... kalian pasti tahu gimana Anzel kan?" Virgan beralasan.
"Iya sih. Gue juga sedikit gak ngerti. Si Anzel kan gak suka di sentuh orang. Kok bisa habis di gampar dia malah makin lengket? Aneh kan. Biasanya bakalan makin benci, kok malah makin lengket." Taqi sependapat dengan Virgan.
Tak ingin memperpanjang perdebatan yang gak jelas Anzar memilh untuk mengakhirinya dengan menghidupkan mesin motornya.
"Si Anzel kan dari dulunya emang aneh. Qi bareng yuk."
Anzar mengajak Taqi dan langsung di setujui oleh Taqi.
"Gan kita duluan. Lo juga cepat balik sana. Obati luka lo."
Anzar dan Taqi menancap gas dan menghilang dari pandangan Virgan. Menyisakan Virgan yang masih terdiam dengan berbagai pikiran di kepalanya.
Virgan menghela nafas berkali-kali. Dia butuh persiapan ekstra untuk kembali ke rumahnya menghadapi segala kemungkinan yang sudah menunggunya. Dia enggan pulang ke rumah apalagi dengan penampilan berantakan seperti ini. Baju acak-acakan dan luka lebam hampir di seluruh tubuh. Apa yang akan orang tuanya katakan. Kalau luka selain di wajah mungkin Virgan masih bisa menyembunyikannya. Tapi kalau luka di wajah. Entahlah.
Padahal Virgan tadi pamit untuk mengerjakan tugas kelompok. Dan malah pulang dalam keadaan hancur kaya gini. Kerja kelompok apa yang sampai membuat lebam-lebam seperti ini? Gak mungkin kan Virgan bilang habis ngerjain tugas kelompok 'tawuran' kan gak lucu kalau namanya menghilang dari kartu keluarga.
"Aaaahhhhhh!!!" Virgan berteriak frustasi.
"Kenapa gue gak kayak mereka sih!!"
Lagi-lagi hanya angin malam yang mendengar teriakannya. Virgan sendiri tak tahu kepada siapa dia berteriak. Tak tahu kepada siapa marah. Ayah? Ibu? Najma? Anzel? Atau dirinya? Virgan sendiri tak tahu. Yang jelas saat ini dia sangat marah.
___________
Esok hari di sekolah. Najma sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Anzel. Dia sangat tidak percaya dengan apa yang diterimanya dari Anzel kemarin. Hampir semalaman dia gak tidur karena kepikiran. Makanya saat ini Najma di sini, menunggu Anzel di depan gerbang untuk meminta klarifikasi darinya.
Meski sudah menunggu dari pagi, orang yang di tunggu belum datang juga. Bahkan sampai bel masuk berbunyi Anzel balum juga datang. Bukan hanya Anzel, Taqi, Anzar dan Virgan juga gak ada. Entahlah dengan Ray karena Najma tak pernah berpapasan dengan Ray saat pagi hari.
Najma jadi kepikiran. Apa mereka kalah? Dan mereka terluka sampai gak bisa ke sekolah hari ini? Pikiran Najma mulai rumit menimbang-nimbang segala kemungkinan yang telah terjadi.
"Apa aku tanyain sama kak Anzel? Tapi kalau dia terluka gimana? Aku malah bakal ganggu dia, apa aku jenguk aja?"
Dengan langkah gontai Najma berjalan ke arah kelasnya. Mengabaikan semua tatapan yang tertuju ke arahnya. Karena sampai saat ini orang-orang masih membicarakan tentangnya yang menampar Anzel tempo hari. Bukannya Najma gak risih ataupun malu Najma hanya sedang berusaha bersikap bodo amat tentang semua itu. Kalau sampai mempengaruhi pikirannya, Najma akan jatuh dan harus memulai semuanya dari awal lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Najma Sagara (END)
RandomKarena kekeliruan dalam mengenali presensi tubuh, Najma salah memeluk sembarang orang. Kesalahan itu menjadi alasan garis hidup Najma bersinggungan dengan Anzel, seorang badboy yang mengidap haphephobia. Banyak hal rumit terjadi setelah tragedi itu...
