Mentari tenggelam, pekat menjemput malam, rembulan perlahan naik ke singgasana perpaduan, ikut baur bersama selindung awan. Mencipta, fenomena langit kelam mengamit kegelapan.
Pada tiap riak tirta danau yang membentang, menghasil sebuah fenomena 𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢 yang andai kata keindahannya dijabarkan dalam bentuk narasi, tak ada satu diksi yang mampu memberi deskripsi.
Di bawah cahaya redup sang pelita, 𝙍𝙚𝙣𝙟𝙖𝙣𝙖 𝘾𝙝𝙖𝙣𝙙𝙧𝙖𝙢𝙖𝙮𝙖 berjalan agak tergesa menuju tempat janji temu rahasia bersama sang tambatan sanubari. Takut bilamana dia terlalu lama menanti.
Sebab, hawa yang akrab disapa Renjana itu tahu persis betapa tidak enak menanti tanpa afirmasi pasti. Selain membosankan, menanti juga menyebabkan penyakit makan hati.
Saking misuhnya berjalan, beberapa kali Renjana nyaris jatuh terpelanting—tidak sengaja menginjak batuan terjal. Beruntung, tidak sampai jatuh benaran. Kan tidak lucu, sudah capek-capek dandan cantik malah belepotan karena jatuh dengan posisi paling tidak aestetik.
“Kamu selalu telat.” Begitu sampai di tempat tujuan, Renjana langsung dihardik oleh wajah tak bersahabat milik 𝙒𝙪 𝙈𝙪𝙩𝙞—sang kekasih hati.
Pemuda itu silang dua tangan depan dada, menatap dengan sirat yang entah memiliki arti apa. Sebab, semakin lama Renjana dalami afeksi miliknya, semakin buntu pula praduga yang hinggap dalam kepala. Sungguh, Renjana tidak bisa menebak tentang apa yang sedang Wu Muti pikirkan sekarang.
“Maaf.” Hanya kalimat itu yang mampu terucap. Ujung poni ia acak berkali-kali, bertingkah cengengesan. Merasa tidak enak hati. Dan bersamaan dengan itu, perasaan lara tiba-tiba datang menghampiri. Namun, tidak terlalu Renjana gubris prihal eksistensinya dalam hati. Berusaha untuk tetap berpikir positif prihal apa maksud dan tujuan Wu Muti tiba-tiba mengajak bertemu malam-malam begini.
Menggendikkan bahu. “Karena aku orang baik, aku maafkan kamu. Ya, meski belum hari raya juga.” Kemudian tertawa garing—yang entah karena apa faktornya. Jangan heran, Wu Muti memang memiliki sifat ‘agak’ tidak jelas.