Park Hanbin - If You

173 54 12
                                        

𝐈 𝐅   𝐘 𝐎 𝐔

𝐂𝐇𝐀𝐏𝐓𝐄𝐑 𝟎𝟓. 𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐀𝐊𝐇𝐈𝐑𝐍𝐘𝐀

𝟎:𝟏𝟐 ━━❍───── 𝟑:𝟒𝟓⇆ㅤㅤ◁ㅤ❚❚ㅤ▷ㅤㅤ↻

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

𝟎:𝟏𝟐 ━━❍───── 𝟑:𝟒𝟓
⇆ㅤㅤ◁ㅤ❚❚ㅤ▷ㅤㅤ↻

Di lain tempat, Hanbin sedari tadi terjebak situasi tak menguntungkan. Perasaan disergap tak karuan. Bilah bibir bungkam, pula air muka kentara terlihat begitu masam.

Waktu terus berlalu. Sedang, Hiyan dan Jeonghyun, presensi keduanya sama-sama nihil. Tiada tanda-tanda tunjukkan rimba.

Apa kali ini pun, dia harus berpura-pura tidak tahu? Berkedok sebagai si empu hati penyabar yang buta dan tuli, padahal nyatanya Hanbin lihat dan dengar semua tanpa terkecuali.

Lebih-lebih lagi, agresi rasa cemburu teramat lihai kuasai anatomi. Buat Hanbin dikukung, terkurung dalam penjara takut kehilangan—tidak, lebih tepatnya takut semesta yang ia curi kembali kepada orbit semestinya.

“Kau laki-laki kejam, Han.”

Sejenak, Hanbin alih pandang ke arah eksistensi Hana yang lagi-lagi tenggak cairan pekat bernama Whiskey hanya dalam sekali nafas. Dia benar-benar maniak alkohol.

“Kau tahu mereka berdua masih saling cinta, tetapi kenapa kau begitu betah bertahan dalam dunia pura-pura?” sambung Hana, tepat setelah tandaskan minumannya.

“Memaksa Jeonghyun berpura-pura akan melaksanakan pertunangan denganku, sekadar untuk melihat bagaimana reaksi Hiyan. Apa kau yakin, Hiyan akan memilihmu alih-alih kembali kepada Jeonghyun?” Seraya goyang-goyangkan gelas di udara, timbulkan suara gesekkan es dengan kaca. Dingin. Mengigil. Tetapi bukan tentang temperatur, melainkan hati.

Sungguh lucu. Hanbin bahkan tidak ingin diceramahi oleh Hana, meski tahu betul cara yang dia gunakan sangat keliru.

Kendati, hanya ini langkah terakhir yang Hanbin punya untuk pastikan Jeonghyun benar-benar menyerah pada ambisinya. Pula, buat Hiyan tetap jadi miliknya.

“𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘏𝘪𝘺𝘢𝘯, 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢.” Ungkap Jeonghyun, dua hari lalu. Lekat dalam ingatan, bagaimana pemuda itu temui Hanbin di sela-sela kesibukan, sekadar katakan kebenaran yang sialnya tak pernah Hanbin harapkan. “𝘋𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.”

Mendengar itu, tentu saja Hanbin bergeming. Tidak tahu harus beri reaksi semacam apa. Ronanya memang tenang, tetapi hati beriak gamang. Tak dapat dipungkiri, Hanbin senang Jeonghyun kembali.

Pokok masalahnya, Hanbin tak bisa lepas wanita yang sudah dimiliki kembali kepada pelukan sang tuan asli.

Sejak pertama kali bertemu Hiyan di perpustakaan bertahun-tahun lalu, Hanbin sudah menetapkan tambatan kalbu.

Boleh saja, dahulu Hanbin sempat menyerah kala Jeonghyun tetiba perkenalkan wanita yang ia damba sebagai kekasihnya. Tetapi tidak dengan sekarang. Kesempatan serupa tak datang dalam bentuk kedua.

Hanbin ingin berjuang hingga titik darah penghabisan. Ia tidak ingin terus-terusan menjadi seorang pengecut atau bahkan bajingan. Ia ingin menjadi ksatria yang berani maju ke medan perang.

Ironisnya, Hanbin gunakan taktik licik sebagai intrik.

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘢𝘺𝘰, 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘩,” usul Hanbin setelah sekian lama diam, memendam. Ia menjeda sejenak ucapan, sebelum kembali melanjutkan, “𝘉𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘢-𝘱𝘶𝘳𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘶𝘯𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘋𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘳𝘦𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘏𝘪𝘺𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩𝘮𝘶, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪, 𝘵𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘵𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘏𝘪𝘺𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩-𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩, 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘨𝘪, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢. 𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪-𝘬𝘶 𝘦𝘨𝘰𝘪𝘴 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘰𝘱𝘰𝘳𝘵𝘶𝘯𝘪𝘴. 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘥𝘪 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵, 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘶 𝘳𝘶𝘮𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘨𝘪. 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢?”

“𝘚𝘦𝘵𝘶𝘫𝘶.” Antap pemuda Lee itu mantap buat kesepakatan.

Terlalu naif andai kata Hanbin bilang jika ia baik-baik saja. Karena, Hanbin tidak cukup yakin prihal perasaan yang selama ini ia curahkan mampu buat Hiyan tetap bersamanya.

Tetapi, berkilas balik hal yang dialami Hiyan dua bulan belakangan, pula apa saja yang sudah diarungi selama ini, hati kecil Hanbin ingin percaya bahwasa Hiyan akan memilihnya.

“Hiyan akan memilihku.” Hanbin terlihat yakin.

“Oh, ya?” Hana tertawa, ragukan keabsahan 𝘴𝘵𝘢𝘵𝘮𝘦𝘯𝘵 si lawan bicara yang terdengar begitu hampa layak udara sisa.

Tersenyum sumir. “Hiyan akan tetap mempertahankanku ..., ”

Ada jeda cukup lama, Hanbin lempar pandang pada padang cakrawala yang kini redam. Tiada rembulan hiasi singgasananya.

“..., dan bayi kami dalam kandungannya.”

Itu adalah jawaban paling mengejutkan dan tak pernah disangka-sangka. Dan kabar buruknya, Jeonghyun dengar semua.


(𝐄 𝐍 𝐃)

𝙃𝙖𝙡𝙡𝙤, 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙖𝙡𝙞𝙠 𝙡𝙖𝙜𝙞. 𝘽𝙚𝙧𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙪𝙥𝙙𝙖𝙩𝙚 𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙚𝙩, 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙙𝙤𝙪𝙗𝙡𝙚 𝙖𝙟𝙖 𝙗𝙞𝙖𝙧 𝙜𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙣𝙖𝙜𝙞𝙝 𝙠𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙧𝙞 𝙋𝙖𝙧𝙠 𝙃𝙖𝙣𝙗𝙞𝙣 𝙩𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙠𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙜𝙞𝙡𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙋𝙞𝙘𝙠 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙙𝙞𝙗𝙪𝙖𝙩.

𝐀𝐍𝐓𝐀𝐖𝐀𝐂𝐀𝐍𝐀 𝐑𝐀𝐒𝐀 (𝘉𝘰𝘺𝘴 𝘗𝘭𝘢𝘯𝘦𝘵 𝘜𝘯𝘪𝘷𝘦𝘳𝘴𝘦) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang