Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
𝟎:𝟏𝟐 ━━❍───── 𝟑:𝟒𝟓 ⇆ㅤㅤ◁ㅤ❚❚ㅤ▷ㅤㅤ↻
Di lain tempat, Hanbin sedari tadi terjebak situasi tak menguntungkan. Perasaan disergap tak karuan. Bilah bibir bungkam, pula air muka kentara terlihat begitu masam.
Waktu terus berlalu. Sedang, Hiyan dan Jeonghyun, presensi keduanya sama-sama nihil. Tiada tanda-tanda tunjukkan rimba.
Apa kali ini pun, dia harus berpura-pura tidak tahu? Berkedok sebagai si empu hati penyabar yang buta dan tuli, padahal nyatanya Hanbin lihat dan dengar semua tanpa terkecuali.
Lebih-lebih lagi, agresi rasa cemburu teramat lihai kuasai anatomi. Buat Hanbin dikukung, terkurung dalam penjara takut kehilangan—tidak, lebih tepatnya takut semesta yang ia curi kembali kepada orbit semestinya.
“Kau laki-laki kejam, Han.”
Sejenak, Hanbin alih pandang ke arah eksistensi Hana yang lagi-lagi tenggak cairan pekat bernama Whiskey hanya dalam sekali nafas. Dia benar-benar maniak alkohol.
“Kau tahu mereka berdua masih saling cinta, tetapi kenapa kau begitu betah bertahan dalam dunia pura-pura?” sambung Hana, tepat setelah tandaskan minumannya.
“Memaksa Jeonghyun berpura-pura akan melaksanakan pertunangan denganku, sekadar untuk melihat bagaimana reaksi Hiyan. Apa kau yakin, Hiyan akan memilihmu alih-alih kembali kepada Jeonghyun?” Seraya goyang-goyangkan gelas di udara, timbulkan suara gesekkan es dengan kaca. Dingin. Mengigil. Tetapi bukan tentang temperatur, melainkan hati.
Sungguh lucu. Hanbin bahkan tidak ingin diceramahi oleh Hana, meski tahu betul cara yang dia gunakan sangat keliru.
Kendati, hanya ini langkah terakhir yang Hanbin punya untuk pastikan Jeonghyun benar-benar menyerah pada ambisinya. Pula, buat Hiyan tetap jadi miliknya.
“𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘏𝘪𝘺𝘢𝘯, 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢.” Ungkap Jeonghyun, dua hari lalu. Lekat dalam ingatan, bagaimana pemuda itu temui Hanbin di sela-sela kesibukan, sekadar katakan kebenaran yang sialnya tak pernah Hanbin harapkan. “𝘋𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.”
Mendengar itu, tentu saja Hanbin bergeming. Tidak tahu harus beri reaksi semacam apa. Ronanya memang tenang, tetapi hati beriak gamang. Tak dapat dipungkiri, Hanbin senang Jeonghyun kembali.
Pokok masalahnya, Hanbin tak bisa lepas wanita yang sudah dimiliki kembali kepada pelukan sang tuan asli.
Sejak pertama kali bertemu Hiyan di perpustakaan bertahun-tahun lalu, Hanbin sudah menetapkan tambatan kalbu.
Boleh saja, dahulu Hanbin sempat menyerah kala Jeonghyun tetiba perkenalkan wanita yang ia damba sebagai kekasihnya. Tetapi tidak dengan sekarang. Kesempatan serupa tak datang dalam bentuk kedua.
Hanbin ingin berjuang hingga titik darah penghabisan. Ia tidak ingin terus-terusan menjadi seorang pengecut atau bahkan bajingan. Ia ingin menjadi ksatria yang berani maju ke medan perang.
Ironisnya, Hanbin gunakan taktik licik sebagai intrik.
“𝘚𝘦𝘵𝘶𝘫𝘶.” Antap pemuda Lee itu mantap buat kesepakatan.
Terlalu naif andai kata Hanbin bilang jika ia baik-baik saja. Karena, Hanbin tidak cukup yakin prihal perasaan yang selama ini ia curahkan mampu buat Hiyan tetap bersamanya.
Tetapi, berkilas balik hal yang dialami Hiyan dua bulan belakangan, pula apa saja yang sudah diarungi selama ini, hati kecil Hanbin ingin percaya bahwasa Hiyan akan memilihnya.
“Hiyan akan memilihku.” Hanbin terlihat yakin.
“Oh, ya?” Hana tertawa, ragukan keabsahan 𝘴𝘵𝘢𝘵𝘮𝘦𝘯𝘵 si lawan bicara yang terdengar begitu hampa layak udara sisa.
Tersenyum sumir. “Hiyan akan tetap mempertahankanku ..., ”
Ada jeda cukup lama, Hanbin lempar pandang pada padang cakrawala yang kini redam. Tiada rembulan hiasi singgasananya.
“..., dan bayi kami dalam kandungannya.”
Itu adalah jawaban paling mengejutkan dan tak pernah disangka-sangka. Dan kabar buruknya, Jeonghyun dengar semua.