Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
𝐂𝐇𝐀𝐏𝐓𝐄𝐑 𝟎𝟑. 𝐅𝐈𝐑𝐒𝐓 𝐊𝐈𝐒𝐒
𝟐:𝟏𝟏 ━━❍───── 𝟒:𝟐𝟑 ⇆ㅤㅤ◁ㅤ❚❚ㅤ▷ㅤㅤ↻
Dalam keterdiaman, Ricky ternganga tiada mampu lontar sepatah kata. Duduk satu meja dengan kelinci menyebalkan seperti Mamat saja sudah membuat tekanan darah meningkat pesat, tetapi pesta minum teh kali ini justru membuatnya harus duduk satu meja dengan tikus sewarna pelangi, kucing melayang, hingga makhluk-makhluk unik lain persis seperti ilustrasi dalam buku 𝘈𝘭𝘪𝘤𝘦 𝘪𝘯 𝘞𝘰𝘯𝘥𝘦𝘳𝘭𝘢𝘯𝘥.
“Kau belum menyentuh tehmu, Ricky. Apa ada yang kurang?” Seraya simpan kue jahe di depan taruna Taurus yang sedari tadi diam. Bahkan, deru napas tak terdengar. Saking heningnya aura yang menyelimuti si pemuda Shen kini.
“Tidak 𝙃𝙪𝙞, aku akan menikmatinya.” Menaut kurva tipis pada bibir.
Untunglah, bukan hanya Ricky dan Rossie yang berwujud manusia di pesta kecil-kecilan ini.
Seorang kawan bernama Hui setidaknya sedikit lebih normal dari makhluk berwujud hewan tetapi bisa bicara bahasa manusia di sana—meski teknisnya wajah Hui terlihat seperti seorang badut dengan kedua bola mata berwarna perpaduan antara hijau dan merah yang sedikit menyeramkan.
Oh, jangan lupakan, rambut mie kuning eksentrik yang kerap dia panggil dengan sebutan 𝙂𝙚𝙤𝙧𝙜𝙞𝙖 itu.
Setelah Ricky telisik dengan seksama, wajah Hui seperti mengingatkan Ricky pada seseorang. Tetapi untuk kali ini, dia tidak mengetahui ‘seseorang’ itu siapa.
𝘑𝘢𝘮𝘢𝘪𝘴 𝘝𝘶, atau 𝘋𝘦𝘫𝘢 𝘝𝘶? Entah, Ricky tidak tahu. Intinya, wajah Hui sangat tidak asing bagi Ricky.
“Silahkan dinikmati, brownies ini adalah buatan Mamat. Di antara kami semua, Mamat memang yang paling pandai membuat kue.” Rossie memasukkan beberapa potong kue pada wadah kecil di samping Ricky.
Bersamaan dengan itu, tatapan memicing tajam berkobar dari kedua bola mata Mamat yang tengah mengindera adegan klise—tatap-menatap antara Ricky dan Rossie yang durasinya cukup lama. Seperti adegan-adegan manis dalam drama romansa.
“Terima kasih, Rossie,” jawab Ricky ramah meski mendapat tatapan tak suka dari si kelinci.
Dari perkenalan bersama Hui sebelumnya, Ricky mampu tarik banyak kesimpulan (bersumber hipotesis amatan) betapa pria itu sangat peduli pada Rossie dan teman-temannya, bahkan untuk orang baru seperti Ricky, Hui perlakukan layaknya keluarga. Hui juga bisa dengan cepat menyadari, siapa saja yang tidak hadir hari ini.