Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
𝟐:𝟏𝟏 ━━❍───── 𝟒:𝟐𝟑 ⇆ㅤㅤ◁ㅤ❚❚ㅤ▷ㅤㅤ↻
Kalbu beri harap rancu. Bahwasanya aku mendamba menjadi sosok salju, yang selalu datang diam-diam sembari menggenggam sebuah kejutan bersama waktu.
Aku ingin menjadi salju, yang dalam kebekuan mengundang kehangatan walau terkadang tak begitu dihiraukan.
Aku ingin menjadi salju, yang membawa senyum di bibir kala dunia mencibir. Hadirkan gelora, aroma bahagia terbawa semilir.
Aku ingin menjadi salju, ingin menjadi seperti dirinya yang sederhana tetapi miliki begitu banyak makna tak terungkap kata.
Tetapi, dia menginginkanku menjadi matahari, agar aku membakar habis jiwanya yang beku—tak utuh lagi. Dia menginginkanku menjadi bara, agar aku bisa memeluk erat keping-keping dingin hatinya yang sukar sekali untuk dijamah dengan mudah.
Juga, dia menginginkanku menjadi bunga liar yang tumbuh megah bersama bulir salju musim dingin, agar batinnya yang kosong itu dipenuhi warna-warna sederhana yang semula tanpa gradasi maupun aurora.
“Kenapa?” Bibir ini tak kuasa lagi menahan tirakat untuk lebih lama simpan tanya. Di antara hening yang meraja, kutatap wajah si empunya buana tanpa raga yang pias, juga sorot mata hampa mengarah pada tumpukan salju menghampar, penuhi jalan. Rupanya tak lagi bersih, sebab terinjak-injak lalu-lalang orang.
Helaan napasnya terdengar saur. Jemarinya yang dingin menggenggam jemariku yang tak jauh berbeda. Aku mengalihkan tatap dengan wajah merona parah (suhu yang membuatnya begitu) pada ranting-ranting kering jajaran pepohonan di sebrang.
“Kau tahu Jeongyeon? Sebuah delusi tidak memerlukan alasan untuk kehadirannya.” Kata-kata itu terbang bersama hembus angin. Samar tak terdengar, tetapi telinga masih dapat tangkap rambatan suaranya. Tubuhku menggigil. Jarum-jarum imajiner merajut perih dalam dada, pengap terasa.
Butir salju masih senantiasa berjatuhan dari atas cakrawala redam tanpa cahaya. Hanya kelabu berselimut kelam tersisa.
Entah kapan tepatnya, sekadar yang ku ingat adalah di hari itu aku pernah bertanya kepada seseorang di masa lampau, apakah bentuk salju serupa 𝘩𝘦𝘬𝘴𝘢𝘨𝘰𝘯𝘢𝘭 seperti yang orang-orang bilang? Atau, abstrak tak berbentuk sebagaimana netra melihatnya secara telanjang tanpa alat bantu?
𝙇𝙚𝙚 𝙅𝙚𝙤𝙣𝙜𝙝𝙮𝙪𝙣—laki-laki yang selalu kusandingkan hadirnya dengan salju itu hanya mendengkus sembari menggumamkan kata bodoh. Aku hanya mampu tertawa tanpa suara. Tak tersinggung, sudah terbiasa dengan mulut pedasnya.
Faktanya, aku dan dia sama-sama tidak mengetahui bentuk pasti salju itu seperti apa. Entah begini, entah begitu. Masih menjadi tanda tanya. Lebih ironis, merasakan dinginnya pun tidak pernah barang satu kali.