Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
𝟐:𝟏𝟏 ━━❍───── 𝟒:𝟐𝟑 ⇆ㅤㅤ◁ㅤ❚❚ㅤ▷ㅤㅤ↻
Andai, dunia ini seimflusif manifestasi novel bergambar atau ragam komik yang dijual di gerai komersial, mungkin sepasang tanduk panjang akan menyembul keluar dari kepala 𝙃𝙤𝙣𝙜 𝙅𝙚𝙣𝙖, tak lupa kepulan asap membumbung tinggi keluar dari hidung dan telinga.
Suara makian tercekat pada ujung ternggorokan, berdesak-desakan, tak kuasa ingin segera di lampiaskan. Pada dasarnya, lahir dengan sumbu pendek buat Jena tidak kenal apa itu kata sabar. Namun, pada kesempatan kali ini, dia harus kesampingkan temperamen buruk agar tidak rusak reputasi.
Demikian, bagaimana keluh-kesah dara kesayangan bulan lima yang tiada mampu tersuara. Sekadar bisa loloskan dengkus kasar dengan tangan berulang kali sugar poni, frustrasi.
“Denger ya, tugas kamu itu cuman belajar dan menghafal. Di dunia ini, tidak ada yang namanya orang bodoh, tapi individual itu sendiri yang malas buat keluar dari zona nyaman. Jadi, kalo mau pinter, kamu harus belajar.” Pasang senyum paksa, mati-matian tahan amarah agar tidak membuncah.
Mau bagaimana pun juga, Jena tidak bisa membentak apalagi memarahi anak orang seperti keinginan lubuk terdalam. Jena harus atur otoritas kontrol emosi. Jangan sampai kelepasan jika tidak ingin kehilangan pekerjaan yang susah payah didapatkan.
Anak lelaki di hadapan hanya sekadar berdecih, kentara meremehkan. Sedari tadi, dia hanya sibuk berkutat dengan ponsel di tangan tanpa sudi memperhatikan.
Cukup lelah bila harus menjadi guru les-nya, apalagi untuk Jena yang pada dasarnya miliki kesabaran setipis tissue di rendam. Ini benar-benar seperti ajang uji adrenalin dengan tantangan tahan kekesalan dengan senyuman.
𝙋𝙖𝙧𝙠 𝙅𝙞𝙝𝙤𝙤 namanya, siswa SMA kelas akhir yang bebal luar biasa. Pantas, dalam sebulan lebih-kurang lima kali bergonta-ganti guru privat. Dan, tidak ada satu pun yang bertahan.
Andai lebih pentingkan ego, mungkin Jena juga akan pilih opsi sama. Berikan surat pengunduran diri pada kedua orang tua Jihoo. Ironisnya, Jena tidak bisa lakukan hal tersebut. Sebab, dia sedang membutuhkan uang tambahan untuk biaya kuliah serta bayar sisa tunggakan kost.