Keza mengacak rambutnya yang masih basah selepas mandi itu dengan handuk di tangan kanannya. Kemudian Laki-laki itu meraih hpnya yang berada di atas nakas untuk melihat jam sekaligus memastikan apakah ada pesan dari Seana atau tidak, tapi ternyata tidak ada.
Keza berjalan menuju lemari pakaian mencari seragam sekolah nya lalu bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
Pagi ini dirinya akan menjemput Seana, Keza mengeluarkan Sepeda dari dalam rumahnya, hari ini dia tidak menggunakan motor untuk pergi ke sekolah karena alasan irit bensin.
Sebetulnya jarak sekolah dan rumahnya lumayan memerlukan waktu yang tidak sedikit, berhubung jam masih menunjukkan pukul 05.50 dirinya tidak begitu panik akan terlambat datang ke sekolah.
Sebelum berangkat Keza berpamitan pada bunda tercinta.
"bunda aku berangkat." Ucap Keza sembari memeluk bundanya dan tak lupa bersalaman.
"Abi beneran gak mau sarapan dulu?." Tanya bundanya pada Keza.
Bunda Keza memang selalu menyebut Keza dengan nama Abi. Nama panggilan sejak dirinya masih bayi, Abi yang diambil dari nama belakangnya yaitu Abiandra.
Hanya bunda dan Seana yang memangil dirinya Abi, namun semenjak tumbuh menjadi seorang remaja Seana tak lagi memanggil Keza dengan sebutan Abi.
Keza pun sama, dirinya tak lagi memanggil Seana dengan sebutan Ana, padahal panggilan Abi&Ana begitu lucu dan mempunyai kenangan indah di masa kecil.
"Aku sarapan di sekolah, hari ini ada upacara aku juga mau jemput Seana bun."
"Engga naik motor aja bi, biar cepet?."
"Aku lagi mau naik sepeda, lebih tepatnya sih lagi irit bensin."
"Yaudah kalau gitu bunda titip salam buat mamah dan ayahnya Ana ya." Pesan bunda Keza.
"Siap bunbun."
"Hati-hati bawa sepedanya."
"Iya bunda juga jaga diri, kalau bang Ghazi bikin ulah kasih tau aku, biar aku kasih dia pelajaran. Kalau bunda mengizinkan sih aku mau ajak baku hantam bang Ghazi."
"Hus siapa yang ngajarin kamu begitu."
"Aku bercanda, kalau beneran mungkin itu khilaf."
"Bunda gak mau anak-anak bunda sampe berantem begitu."
"Iya bunda, kalau gitu aku pamit. Dah bunda."
Setelah berpamitan dengan bunda, Keza langsung berangkat menjemput Seana dengan Sepeda berwarna hitam pemberian mendiang ayahnya.
...
Diperjalanan Keza bertemu dengan Aziel dan Cakra, mereka berdua sepertinya hendak berangkat sekolah juga.
"Bang Keza." Pangil Cakra yang sedang dibonceng Aziel diatas sepeda.
Ngomong-ngomong Cakra dan Aziel baru memasuki sekolah menengah atas alias kelas satu SMA tapi tidak satu sekolah dengan Keza.
Keza satu sekolah dengan Zidane,Kenzo, dan Rehan tentunya juga dengan Seana.
"Tumben lo berdua pagi gini udah rapih, sekolah juga belum buka tuh kayanya" Ucap Keza melihat dua bocah yang sudah rapih untuk pergi ke sekolah.
"Bang Keza sendiri juga tumben banget pagi-pagi gini udah rapih." Ujar Aziel.
"Bang Keza mau ke rumah ka Seana?" Tanya Cakra.
"Iya nih, kalau gitu gue duluan ya mau jemput calon kaka ipar kalian, takut kesiangan."
"Buset bang kayanya sekolah juga belum buka tuh." Aziel mengulang perkataan Keza tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABISATYA | END
Teen Fiction"Kalau gue bilang 'Gue cinta sama lo' gimana? apa lo percaya?" "Engga!" "Kenapa? apa karena kita temenan dari kecil mangkanya lo gak pernah mau terima perasaan gue, dengan alasan karena takut pertemanan ini hancur?" "Ja-" "Gue cinta lo Seana! gue e...
