"Gimana hari-hari lo tanpa gue kemarin?" Keza memulai percakapan diantara keduanya.
"Harusnya gue yang nanya gitu."
"Agak berantakan tapi gapapa." Balas Keza sambil terkekeh.
Mendengar perkataan laki-laki itu sontak saja membuat Seana terdiam. Dirinya teringat akan perbuatan sang ayah kepada keluarga Keza.
"..."
Keza melirik Seana yang berada disampingnya lalu mengusap surai hitam milik gadis tersebut. "Gue baik-baik aja Sea—"
"Maaf atas apa yang udah ayah lakuin." Potong Seana cepat.
"Gapapa. Lagian semuanya udah terjadi kan? Ayah lo juga udah jelasin semuanya. Gak usah dibahas lagi oke?"
Seana tersenyum miris kemudian mengangguk paham.
Setelah itu keadaan menjadi hening, tak ada yang membuka suara diantara keduanya.
Mungkin Keza dan Seana masih merasa canggung setelah tidak berjumpa selama berbulan-bulan lamanya.
Kini kedua remaja tersebut sedang berada di tepi sungai. Keza yang mengajaknya kemari dan duduk di salah satu kursi yang mengarah langsung pada sungai itu.
Seana menatap kosong sungai dihadapannya, hingga tatapan itu teralihkan kepada Keza yang beranjak dari duduknya.
"Mau kemana?" Tanya Seana.
"Pulang." Jawab Keza singkat.
Seana menatap Keza dengan tatapan tidak percaya.
Pulang katanya?
Memang tidak ada yang ingin di bicarakan lagi apa?
"Kenapa?" Tanya Keza.
Seana menggeleng cepat." Gapapa, ayo pulang." Ajak gadis itu lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Keza disana.
Keza berjalan menyusul Seana kemudian menarik gadis itu dan membawa ke dalam pelukannya.
Terkejut? tentu saja Seana merasakan hal itu, namun dirinya hanya diam ketika Keza memeluknya.
"Maaf karena udah ninggalin lo dirumah sakit waktu itu." Ucap Keza merasa bersalah atas kejadian dimana ia meninggalkan Seana dirumah sakit tempat Kenzo dirawat.
Seana dapat merasakan jika teman sedari kecilnya itu sedang menangis sekarang.
Lalu ia mengusap surai legam milik laki-laki itu. "Maaf Seana."Lirih Keza kemudian melepas pelukannya.
Seana mengusap air mata yang membasahi pipi Keza.
Setelah itu Keza menggenggam jemari tangannya. "Gue gak akan pernah ninggalin lo lagi Na. Gue janji."
Kini mata keduanya saling bertemu, ada rasa rindu yang membelenggu di sana. Tanpa sadar Seana mengeluarkan air matanya.
"Nama lo masih tertulis di hati gue Na, kayanya emang udah gak bisa di hapus." Ujar Keza. Kemudian genggamannya beralih pada surai hitam Seana, lalu mengusapnya lembut.
"Modus lo yang gak bisa di hapus." Balas Seana disela-sela isakanya, lalu mengusap air mata yang membasahi pipinya dengan kasar.
"Gue serius." Ucap Keza tulus membuat Seana salah tingkah dan berusaha untuk tidak menatap laki-laki itu.
"Gue gak akan ninggalin lo lagi Seana. Cukup antartika aja yang jauh, antar kita jangan."
Seana memukul bahu Keza. "Apaan sih gak jelas." Ucap Seana sedikit kesal sekaligus salah tingkah.
"Perempuan yang waktu itu bukan pacar gue Na." Ujar Keza membuat Seana sedikit bingung atas perkataan tersebut namun beberapa menit kemudian ia mengerti akan maksud Keza.
"Namanya Manda. Gue dan dia cuma—"
"Iya Keza Abiandra. Gue percaya."
Keza tersenyum sumringah. "Kalau gue bilang ‘Gue cinta sama lo’ gimana? apa lo percaya?"
Seana menggeleng. "Engga!" Ucapnya sedikit bercanda.
Hei, dirinya pun mencintai laki-laki itu.
"Kenapa? apa karena kita temenan dari kecil mangkanya lo gak pernah mau terima perasaan gue, dengan alasan karena takut pertemanan ini hancur?" Tanya Keza serius.
Seana menatap laki-laki itu dengan tatapan sendu. " Ja—"
"Gue cinta lo Seana! gue engga tau apa alasan Tuhan mempertemukan kita kembali. Apakah ingin supaya gue sadar bahwa kita hanya bisa saling mengenal atau bahkan memberi kesempatan agar gue dan lo kelak bisa menjadi satu?" Keza menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya. "Tapi sekarang gue cuma pengen liat lo lebih lama lagi. Udah gak ada lagi hasrat ingin memiliki, karena emang gak mungkin. Dan sekarang gue cuma mau lo baik-baik aja Seana. Gue ngga mau kehilangan lo meski cuma sebatas teman. Gue bakal berusaha untuk—"
"Keza Abiandra tolong kasih kesempatan gue buat ngomong!" Tegur Seana.
Laki-laki itu diam.
"Gue manusia paling egois yang pernah lo temuin Ja. Tapi satu hal yang harus lo tau, Gue cinta sama lo melebihi rasa cinta yang gue punya untuk Juyeon." Ucap Seana membuat Keza menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
Keza berdecih pelan. "Lo cinta gue melebihi rasa cinta lo sama Juyeon, serius?"
"Lo gak percaya?"
"Engga."
"Gue cinta lo Keza!" Ucap Seana tulus.
Keza terdiam ketika mendengar ucapan tersebut, namun beberapa detik kemudian dengan refleknya ia langsung memeluk gadis dihadapannya itu dengan erat.
hM.. perasaan tdi ada yang bilang ‘udah gak ada lagi hasrat ingin memiliki’ tapi kok peluk-peluk si Ja?
"Akhirnya cewek lo cinta sama gue Juy." Ucap Keza sedikit dramatis.
Seana terkekeh ketika Keza mengatakan hal itu. "Sebenernya Juyeon yang buat gue jatuh cinta sama lo" Ucap Seana dipelukan Keza.
"Apa gue harus berterimakasih sama Juyeon?"
"Kayanya iya.."
Keza melepas pelukannya lalu berkata. "Mana nomor WhatsApp dia? sini mau gue chat. Gue mau bilang makasih banyak-banyak."
Seana menyentil dahi Keza membuat laki-laki itu meringis. "Kampret sakit."
"Abisnya pikiran lo jauh banget sih!"
Saat Keza ingin membalas perkataan Gadis itu tiba-tiba saja Seana terlihat panik, sontak saja membuat Keza bingung.
Dari kejauhan terlihat seekor anjing yang sedang berlari dan menggonggong kearah mereka berdua.
Dengan cepat Keza menyuruh gadis itu naik ke punggungnya.
"Cepet naik!"
Seana menolak. "Gak mau, gue berat tau!"
"Gue kuat, udah cepet naik." Suruh Keza dan dengan terpaksa Seana menuruti perkataan temannya itu.
iya masih teman ㅋㅋㅋㅋ
Keza berlari dari tempat itu dengan Seana yang berada diatas gendongannya.
"KEZAAAA ANJING NYA MAKIN DEKET" teriak Seana tepat ditelinga Keza.
"DIEM SEANA JANGAN BIKIN GUE PANIK!"
"TAPI GUE SERIUS!"
Dengan sekuat tenaga laki-laki bernama lengkap Keza Abiandra itu berlari sekencang mungkin agar lolos dari kejaran anjing tersebut.
Bisa kalian bayangkan bagaimana paniknya mereka berdua saat ini.
...
See u next chapter!
KAMU SEDANG MEMBACA
ABISATYA | END
Teen Fiction"Kalau gue bilang 'Gue cinta sama lo' gimana? apa lo percaya?" "Engga!" "Kenapa? apa karena kita temenan dari kecil mangkanya lo gak pernah mau terima perasaan gue, dengan alasan karena takut pertemanan ini hancur?" "Ja-" "Gue cinta lo Seana! gue e...
