"Di antara nasi uduk yang udah pernah gua makan, nasi uduk teh Eneng emang paling mantul sih alias mantap betul." Puji Zidane.
"Aih si aa bisa aja." Balas sang penjual yang bernama Eneng yang sedang menaruh nasi uduk yang dipesan oleh ketiganya.
Kini ketiga laki-laki tersebut sedang berada di tukang nasi uduk yang Zidane maksud.
Rehan melahap nasi uduk itu dengan pikiran dan hati yang sedang tidak baik-baik saja.
Kenzo beberapa kali menatap Rehan karena laki-laki itu sesekali bengong.
"Makan duku Han, gak usah dipikirin terus-terusan." Ujar Kenzo, Rehan hanya mengangguk menanggapi hal itu.
Ketiganya sibuk melahap nasi uduk teh Eneng hingga Rehan beranjak lebih dulu karena miliknya sudah habis lebih duluan.
"Teh ini uangnya sekalian sama mereka berdua, kembaliannya ambil aja." Rehan berjalan menuju sang penjual memberikan uang kepadanya.
"Hatur nuhun a'."
"Sama-sama teh, kalau gitu saya pergi dulu." Pamit Rehan kepada sang penjual. "Engga nungguin temennya dulu gitu a’?" Tanya sang penjual, Rehan menatap temannya itu yang sedang menikmati nasi uduk. "Engga teh, saya ada urusan penting."
"Oh gitu.. yaudah a' hati-hati atuh." Rehan mengangguk sebagai bentuk jawaban. Lalu setelah itu menghampiri keduanya.
"Bro gue cabut duluan." Pamit Rehan yang mendapatkan protes dari Zidane. "Lah? kata lo kita mau ke rumah Keza."
"Gak jadi, gue ngantuk."
"Ah lo mah gak asik, padahal gue suka keributan." Kata Zidane kemudian mendapatkan pukulan dari Kenzo. "Kampret sakit." Adu Zidane, Kenzo pura-pura tidak mendengar.
"Yaudah Han, kalau gitu hati-hati dijalan jangan ngebut." Pesan Kenzo. Rehan mengangguk "Siap bro, makasih gue balik duluan."
"Hati-hati Han, salam buat Zalva." Ucap Zidane, setelah itu Rehan pergi meninggalkan warung nasi uduk tersebut.
...
Dipertengahan jalan Rehan memberhentikan motornya di tepi jalan, dirinya mengangkat telpon yang masuk. Ternyata sang adik yang menelpon.
"Lo lagi dimana Han?" Bukan suara sang adik yang terdengar melainkan suara Seana.
"Gue lagi di jalan, ada apa?"
"Ke rumah bisa? Zalva butuh lo sekarang."
"Iya gue kesana sekarang."
"Oke hati-hati."
Telpon dimatikan oleh Seana di seberang sana. Tanpa basa-basi Rehan segera melanjutkan perjalanan itu.
Dengan kecepatan yang lumayan akhirnya Rehan sampai di Rumah Seana. Dirinya di sambut oleh mang Jajang dan kemudian di persilahkan masuk ke dalam.
"Rehan." Sambut Seana ketika melihat Rehan.
"Zalva dimana?" Tanya Rehan dengan khawatir.
"Dikamar gue, dia—" Seana tidak melanjutkan ucapannya ketika melihat Rehan yang langsung pergi kearah kamar nya itu.
"Zalva.." panggil Rehan. Zalva yang mendengar suara sang kakak langsung keluar dari kamar.
Rehan langsung memeluk Zalva."Maafin gue udah ninggalin lo dengan segala kekacauan yang terjadi semalem." Zalva menangis di pelukan sang kakak, dirinya kembali teringat akan kejadian semalam.
"Maafin gue." Ujar Rehan sekali lagi. Zalva melepas pelukannya dan mengusap wajah sang kakak."Ayah pukul lo keceng banget ya semalem? sampe biru gini Han." Ucap Zalva menghawatirkan wajah Rehan yang terdapat lebam.
"Gue gak gapapa, lo gak usah khawatir."
Seana yang melihat itu hanya diam, pasti rasanya sakit ada di posisi mereka berdua.
"Lo udah sarapan?" Tanya Rehan kepada Zalva, gadis itu menggeleng pelan. Rehan mengusap sisa air mata yang benar pipi sang adik.
"Kebetulan gue juga belum." Ucap Rehan bohong. "Kita cari sarapan bareng yu?" Ajak Rehan agar adiknya tidak terlalu memikirkan apa yang telah terjadi semalem.
Zalva yang mengerti pun mengangguk dan mengiyakan ajakan Rehan.
"Lo mau gue beliin apa Na?" Tawar Rehan.
Seana menolak."Makasih Han tapi gak perlu, gue udah sarapan tadi."
"Oh yaudah kalau gitu gue sama Zalva izin pergi ya. Makasih udah jaga Zalva." Ucap Rehan tulus.
"Santai kali Han kaya sama siapa aja. Semangat oke? Gue yakin semuanya bakalan baik-baik aja." Balas Seana sambil mengusap bahu laki-laki itu dengan tujuan memberikan kekuatan.
Rehan mengangguk dan tersenyum. "Makasih Na."
"Makasih ya Na, gue sama Rehan izin pergi." Pamit Zalva. "Iya, hati-hati kalian berdua."
Setelah kepergian kakak beradik itu, Seana menghela nafas. "Takdir tuhan emang gak ada yang tau ya?"
...
See u next chapter!
KAMU SEDANG MEMBACA
ABISATYA | END
Teen Fiction"Kalau gue bilang 'Gue cinta sama lo' gimana? apa lo percaya?" "Engga!" "Kenapa? apa karena kita temenan dari kecil mangkanya lo gak pernah mau terima perasaan gue, dengan alasan karena takut pertemanan ini hancur?" "Ja-" "Gue cinta lo Seana! gue e...
