Di kantin SMA Winata terlihat tiga laki-laki sedang menikmati makan siang dengan penuh nikmat tanpa ada yang membuka suara sedari tadi.
Keadaan sangat canggung. Biasanya salah satu dari mereka selalu berisik, namun hari ini entah kenapa menjadi sangat diam.
"Gue denger ada anak baru dikelas kalian." Rehan membuka suara berniat untuk mencairkan suasana.
Zidane mendecih "Dia sepupu lo kan?" Tanyanya.
"Bukan." Rehan menjawab dengan cepat.
Mendengar jawaban yang diberikan Rehan membuat Kenzo menaikkan satu alisnya.
"Maksud lo gimana? secara kan dia sepupunya Seana otomatis sepupu lo juga dong." Ucap Kenzo heran.
"Dia emang bukan sepupu gue." Jelas Rehan.
'Tapi adik gue' lanjutnya dalam hati.
"Gue selesai." Zidane beranjak dari duduknya membuat Rehan dan Kenzo saling menatap satu sama lain.
"Temen lo kenapa?." Tanya Rehan.
"Putus cinta." Jawab Kenzo asal.
Rehan menatap punggung Zidane yang kian menjauh.
Semalam selepas dari rumah Seana lalu mengantarkan adiknya pulang, dirinya langsung menjumpai laki-laki bernama Zidane itu. Semuanya masih baik-baik saja tidak ada yang berubah, lalu kenapa hari ini Zidane sangat diam tidak seperti biasanya.
"Gue juga selesai, duluan bro." Ucap Kenzo lalu pergi meninggalkan Rehan.
"Kampret gue ditinggal." Misuh Rehan lalu memilih untuk pergi ke kelas.
...
Bel sekolah berbunyi tanda pelajaran terakhir telah usai dan semua murid berhamburan keluar untuk pulang ke rumah masing-masing.
Seana dengan cepat langsung membereskan barang-barangnya dan memasukkan ke dalam tasnya itu.
"Buru-buru banget, mau kemana?" Tanya Nafisa yang sedari tadi memperhatikan Seana.
"Mau ke ru— "
"SEANA ANNYEONG." Perkataan Seana terpotong oleh suara Zalva yang kini berada di ambang pintu kelasnya.
"Sepupu lo?" Seana mengangguk mendengar pertanyaan Nafisa.
"Kalau gitu gue duluan." Pamit Seana.
"Ya, hati-hati."
Seana berlari menghampiri Zalva kemudian keduanya berjalan bersama. Saat keduanya melewati lapangan sekolah tak sengaja berpapasan dengan Rehan, Zidane dan juga Kenzo.
Zalva yang ditatap oleh Zidane langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Mau ke rumah Keza, Na?" Tanya Kenzo.
"Iya, kalian mau pada ikut gak?." Tanya Seana.
"Kita emang mau kesana kali." Ujar Rehan.
"Bagus deh, kalau gitu kita boleh numpang kan?." Seana menatap ketiganya berganti.
"Gak." Jawabannya serempak.
"Oh oke."
"Gue bercanda, ayo lo sama gue." Rehan menarik tangan Zalva untuk mendekat.
"Ck, gak usah tarik-tarik dong." Protes Zalva.
"Maaf." Ucap Rehan kemudian mengusap surai hitam milik adiknya itu.
Zidane memperhatikan keduanya lalu mengalihkan pandangannya kepada Seana.
"Lo sama gue Na." Ucap Zidane lalu pergi menuju parkiran sekolah.
"Oke deh, cus kita berangkat."
Setelah itu mereka pergi menuju rumah Keza namun di tengah perjalanan Kenzo memisahkan diri entah pergi kemana.
...
"Keza~" Panggil Seana didepan pintu rumah laki-laki itu.
Tak lama keluar sosok Ghazi seperti baru bangun tidur.
"Ngapain lu pada." Tanyanya sewot.
Zalva yang shock ketika melihat sosok Ghazi yang seperti preman itu langsung bersembunyi dibalik tubuh rehan.
"Mau ketemu Keza." Seana menjawab pertanyaan Ghazi.
"Dia gak ada dirumah." Ucap Ghazi membuat Seana tidak percaya pada omongannya itu.
"Bang Ghazi kalau bohong gak aku traktir mie ayam lagi." Ancam Seana.
"Gue bercanda, masuk Keza ada didalem." Ghazi mempersilakan semuanya masuk.
Didalam terlihat Keza yang sedang duduk memakan buah apel dan berbagai jenis buah lainnya.
Melihat kehadiran teman-temannya ia beranjak dari duduknya dan mempersilahkan mereka duduk.
"Gue kira lo ke sini bakalan sendiri." Ucap Keza pada Seana.
"Oh jadi lo ga seneng ada kita di sini?." Cibir Zidane.
"Gak gitu maksud gue kampret." Ujar Keza.
"Eh ngomong-ngomong si Tejo kemana? Perasaan tadi dia dibelakang gue deh." Tanya Rehan heran.
"Lah iya, gue baru sadar." Ucap Seana ketika baru menyadari tidak ada laki-laki itu.
"Lo udah mendingan ja?" Tanya Zalva yang sedari diam.
"Udah, cuma demam biasa doang gue." Jawab Keza sambil menyuapi Seana buah apel yang sudah ia potong tadi.
"Kalau lo gimana selama dibandung?." Tanya Keza.
"Biasa aja sih gak gimana-gimana." Jawab Zalva.
"Lo kangen Rehan ya mangkanya milih tinggal disini" Ujar Keza.
Zalva mengangguk sebagai jawaban, Rehan yang mendengar ucapan Keza langsung mencibir.
"Gue gak mau kali dikangenin sama orang modelan gitu." Ucap Rehan membuat Zalva menatapnya sinis.
Saat ketiganya asik mengobrol, Seana terus memperhatikan Zidane yang sedari tadi diam, tumben sekali pikiranya.
"Eh Zid ada panggilan masuk tuh." Ucap Rehan memberitahu.
Zidane langsung menatap hpnya kemudian mengangkat panggilan itu dan pergi keluar agar tidak menggangu teman-temannya.
Tak selang berapa lama Zidane masuk kembali dengan wajah panik membuat semuanya bingung sekaligus penasaran.
"Ada apa? ko lo keliatan panik gitu" Tanya Seana.
"T—tejo..." Ucap Zidane sedikit gugup sekaligus panik.
"Kenapa Kenzo?." Kali ini Rehan yang bertanya.
"Gue dapet kabar kalau d—diaa.. kecelakaan." Ucap Zidane membuat semuanya terkejut.
....
See u next chapter
KAMU SEDANG MEMBACA
ABISATYA | END
Roman pour Adolescents"Kalau gue bilang 'Gue cinta sama lo' gimana? apa lo percaya?" "Engga!" "Kenapa? apa karena kita temenan dari kecil mangkanya lo gak pernah mau terima perasaan gue, dengan alasan karena takut pertemanan ini hancur?" "Ja-" "Gue cinta lo Seana! gue e...
