"Kok anak-anak bunda sedih sih." Diandra menatap ke-duanya dengan perasaan sedih.
"Abang kok nangis, kamu gak malu sama adek?" Ujar Diandra agar merubah suasana.
Sejujurnya Diandra pun ingin menangis namun dirinya harus kuat untuk kedua anaknya.
"Dengerin bunda." Rehan dan Zalva menatap sang bunda dengan sendu."Apapun yang udah terjadi kita harus merelakan, semua ini adalah takdir yang tuhan berikan. Kalau bunda ditanya kecewa atau engga? bunda jujur bakal jawab, bunda kecewa. Tapi semuanya kembali kepada takdir, mungkin masa bunda sama ayah cuma sampai disini. Sebenci apapun kalian sama ayah, kalian harus selalu ingat bahwa ayah adalah orang tua kalian berdua." Diandra diam sejenak kemudian melanjutkan ucapannya."Abang inget engga, waktu pertama kali yang ajarin abang naik sepeda siapa?" Tanya Diandra kepada sang putra.
"Ayah." Jawabnya dengan lirih.
"Dan adek inget gak siapa yang pertama kali anter adek sekolah waktu tk?" Kali ini Diandra bertanya kepada Zalva.
"Ayah dan bunda." Diandra tersenyum menatap keduanya. "Ayah pernah menjadi bagian terhebat dalam hidup kalian, jadi sebenci apapun kalian sama ayah, ayah tetep orang tua kalian. Ayah sayang kalian, begitupun dengan bunda."
"Tapi kenapa harus jalan seperti ini bun?" Tanya Rehan. Diandra menatap sang putra dengan sedih, sepertinya apa yang sudah terjadi betul-betul melukai perasaannya.
"Tuhan ngga minta kita buat terus jadi orang kuat, hancur sesekali itu wajar. Kita manusia yang punya batas kekuatan masing masing. Tuhan tau kalau manusia itu selalu menganggap hal yang menurutnya benar ternyata ga sepenuhnya benar menurut Tuhan." Diandra memeluk keduanya dengan erat dan dirinya menangis.
"Abang sama adek pernah mikir gak kalau sebenernya Ayah sama bunda udah berusaha untuk mempertahankan semuanya? tapi takdir berkata lain. Mengakhiri segalanya ada hal yang terbaik, mangkanya kenapa Ayah sama bunda memilih untuk berpisah, ya karena hanya itu jalan terbaik." Diandra mengusap air mata yang membasahi kedua pipi sang anak.
"Abang percaya sama takdir?" Tanya Diandra. Rehan mengangguk pelan."Bukan tanpa sengaja kita diberi ujian sehebat ini. Semua udah ada garisnya, Abang harus percaya kalau semuanya bakalan baik-baik aja."
"..."
"Bunda, Abang, dan Adek, pasti bisa hidup tanpa Ayah." Ucap Diandra membuat Zalva menangis kembali.
...
Beberapa hari kemudian setelah merasakan kekecewaan yang begitu besar terhadap sang ayah. Rehan dan Zalva sudah ikhlas dengan apa yang terjadi.
Mereka menjalani kehidupan seperti biasanya, bercengkrama dengan Zidane yang selalu saja ada tingkat langku yang membuat Zalva tertawa seperti sekarang ini.
"Lo semua kalau gak jadi manusia mau jadi apaan?" Tanya Zidane tiba-tiba.
"Mau jadi matcha." Jawab Kenzo menanggapi pertanyaan aneh dari Zidane. Nafisa menatap Kenzo dengan bingung."Kenapa jadi matcha?" Tanya Nafisa.
"Karena kamu suka matcha, mangkanya aku mau jadi kesukaan kamu." Jawab Kenzo sambil tersenyum kepada Nafisa. Membuat Zidane, Keza dan Rehan geli melihat tingkah laku Kenzo.
"Anjing lah bisa aja si kinerjoy." Ujar Zidane."Kalau lo mau jadi apa Ja?" Lanjut Zidane kepada Keza.
"Mau jadi payung." Jawab Keza, Zidane bertepuk tangan.
"Wah gue juga mau jadi payung." Balas Zidane antusias.
"Kenapa mau jadi payung?" Tanya Seana.
"Kalau gue biar bisa melindungi Zalva di tengah-tengah hujan deras." Ucapan Zidane mampu membuat Rehan menatap geli kearah Zidane.
"Zalva gak butuh payung kaya lo." Timpal Rehan bercanda.
"Emang iya?" Tanya Zidane seperti orang bingung. Zalva tertawa melihat ekspresi Zidane."Eh kenapa ketawa?"
"Gapapa, abisnya ekspresi lo lucu." Jawab Zalva yang masih terkekeh.
"Waduh gue udah di notice adek lu nih Han, jadi gimana boleh apa engga gue aja ke pelaminan?" Tanya Zidane kepada Rehan.
"Harus jadi dokter dulu lo kalau mau nikahin adek gue."
"Siap 86! Tunggu gue jadi dokter ya bep." Ujar Zidane kepada Zalva. Zalva mengangguk pelan membuat Zidane kegirangan.
"Aneh amat sih Lo Zid, nanya hal yang gak bermutu gitu." Ujar Nafisa.
"Gapapa, yang penting bisa bikin Zalva seneng." Balas Zidane.
Mengenai Keza yang mengetahui bahwa sang tante menikah dengan ayah dari Rehan dan Zalva, membuat dirinya sedikit malu dan merasa bersalah.
Namun Rehan dengan dewasanya berkata kepada dirinya bahwa semua yang terjadi adalah takdir.
Keza sangat bangga pada temannya itu.
...
See u next chapter!
KAMU SEDANG MEMBACA
ABISATYA | END
Teen Fiction"Kalau gue bilang 'Gue cinta sama lo' gimana? apa lo percaya?" "Engga!" "Kenapa? apa karena kita temenan dari kecil mangkanya lo gak pernah mau terima perasaan gue, dengan alasan karena takut pertemanan ini hancur?" "Ja-" "Gue cinta lo Seana! gue e...
