"Keza bangun!." Seana berusaha untuk membangunkan Keza yang tertidur di kelas, jam pelajaran telah usai beberapa jam yang lalu.
"Keza bangun ish! lo mau nginep ya disini?" Seana mengguncang bahu laki-laki itu agar terbangun.
"Pada kemana?." Keza yang merasa tidurnya terganggu pun bangun lalu bertanya ketika melihat keadaan kelas yang begitu sepi hanya ada dirinya dan Seana.
"Ini udah waktunya pulang." Seana menatap Keza."Lo keliatan cape banget ja." Ujar Seana.
"Iya cape habis olahraga tadi." Balas Keza kemudian beranjak dari tempat duduknya bersiap untuk pulang.
"Bentar." Seana menahan lengan Keza, kemudian tangannya menyentuh dahi laki-laki itu "Badan lo panas banget Keza." Ucap Seana.
"Gue gapapa, paling cuma demam biasa doang." Keza meyakinkan Seana agar tidak terlalu khawatir mengenai dirinya.
"Lo udah makan?." Seana bertanya, pasalnya tadi ia tidak menemui Keza selepas upacara ataupun ketika istirahat sekolah, karena dirinya ada rapat bersama anggota eskul KIR.
Iya, Seana mengikuti eskul KIR atau Karya Ilmiah Remaja di sekolah. Walaupun dirinya anak jurusan IPS tapi tak masalah untuk mengikuti eskul tersebut, sebab tidak ada peraturan jika yang mengikuti eskul KIR wajib anak mipa, semua jurusan bisa bergabung.
"Keza ko diem, lo udah makan?" Seana bertanya kembali.
"Belum."
"Astaga! Gue udah berkali-kali bilang sama lo buat gak lewatin makan Keza, lo lupa kalau lo punya maag?" Seana mengusap gusar wajah nya.
"Nanti gue makan, sekarang ayo pulang." Ajak Keza.
Seana begitu khawatir dengan keadaan laki-laki itu, suhu tubuh Keza benar-benar tinggi.
"Gue gapapa." Keza meyakinkan Seana.
Dan keduanya pergi untuk pulang, Seana menggenggam tangan Keza karena begitu merasa khawatir.
Namun ketika melewati lapangan sekolah, Seana dan Keza melihat Kenzo dan juga Nafisa yang sedang bermain basket bersama.
"Keza, itu beneran nafisa sama kenzo kan?" Tanya Seana pada Keza.
"Iya itu beneran mereka." Jawab Keza. "Sejak kapan tuh bocah jadi suka main basket." Keza bertanya entah pada siapa.
"Ayo kita samperin sebentar." Ajak Seana dan Keza mengiyakan.
"Cie ada yang lagi basket date nih cerita nya." Goda Seana membuat Nafisa dan Kenzo menoleh ke sumber suara.
Nafisa terkejut melihat Seana dan juga Keza. Dia pikir sudah tidak ada lagi murid yang berbeda di sekolah, karena sekolah sudah begitu sepi sejak tadi.
"Apaan sih Na, orang tadi dia minta ajarin gue doang ko." Ucap Nafisa sedikit panik.
"Iya apanya yang basket date sih, orang gue cuma mau minta ajarin doang." Elak Kenzo.
"Yakin?" Keza bertanya dengan jail.
"Iya lah emang ada hal lain?" Kenzo balik bertanya.
"Sejak kapan lo tertarik sama basket? terus kenapa gak minta ajarin bang Mahen jo?" Tanya Keza dengan gaya tengilnya.
"Se..jak.. sejak.. sejak gue nonton basket bareng cakra!, iya sejak nonton basket bareng cakra" Jawab Tejo dengan nada sedikit gugup dan juga ngegas. "Dan soal kenapa gue gak minta ajarin ke bang Mahen, ya karena sekarang bang Mahen lagi sibuk sama kuliahnya, kan lo sendiri juga tau dan gue gak mau ganggu Dia." Alasan yang masuk akal namun tidak dengan pikiran Keza.
"Oh begitu.. oke deh selamat pdkt." Ucap Keza setelah itu di susul Seana yang tertawa.
"Dah.. kita pulang duluan ya, jangan lupa pajak pdktnya." Ucap Seana kemudian pergi meninggalkan lapangan sekolah bersama Keza.
Nafisa melihat keduanya pergi sambil menggenggam tangan satu sama lain.
'Ada ya temen begitu.' pikir Nafisa.
"Ayo kita lanjut lagi, gak usah dengerin omongan mereka, mereka emang rese." Ucap Kenzo pada Nafisa.
Dan keduanya melanjutkan permainan basket yang sempat di ganggu oleh kedua manusia yang sedang terjebak friendzone itu.
...
"Gue aja yang bonceng lo oke? kondisi lo gak memungkinkan Keza." Seana tetap kekeuh dengan perkataannya.
"Gue baik-baik aja Seana, lagian emang lo kuat bonceng gue?." Tanya Keza.
"Kuat, gue kuat!."
"Engga, mending lo sekarang diem gue yang bawa sepeda, jangan banyak omong." Final Keza.
"Sorry."
Keza menatap Seana, perempuan itu menundukan kepalanya.
Kemudian Keza mengulurkan tangan nya untuk mengusap rambut gadis itu.
"Jangan terlalu khawatirin gue Na, Gue gapapa." Katanya lembut.
Seana menatap Keza.
"Gue lebih kuat dari yang lo kira Na." Katanya lagi. "Sebentar gue ambil sepeda dulu." Keza mengambil sepedanya yang tak jauh dari tempat Seana berada.
"Ayo naik." Ucap Keza.
Seana akhirnya menurutin apa kata Keza.
Di perjalanan keduanya sama-sama diam, tidak ada yang membuka suara. Seana yang merasa tidak nyaman akhirnya memulai percakapan.
"Udah lama banget gue gak dibonceng lo naik sepeda gini"
"Lo lebih suka naik joko ting-ting atau sepeda ini?" Tanya Keza.
"Gue suka keduanya, karena lo yang bonceng gue." Jawaban yang tak terduga terlontar oleh Seana membuat Keza tersenyum lebar.
"Lebih seneng di bonceng Keza atau juyeon?" Tanya Keza lagi.
"Kenapa menanyakan sesuatu yang udah tau jawabannya."
"Ah iya juga ya, juyeon kan kesayangan lo banget."
"Bego, jelas gue lebih seneng di bonceng sama lo lah."
"...."
"Sebab gue gak tau rasanya di bonceng juyeon gimana, kan belum pernah."
...
See u next chapter
KAMU SEDANG MEMBACA
ABISATYA | END
Fiksi Remaja"Kalau gue bilang 'Gue cinta sama lo' gimana? apa lo percaya?" "Engga!" "Kenapa? apa karena kita temenan dari kecil mangkanya lo gak pernah mau terima perasaan gue, dengan alasan karena takut pertemanan ini hancur?" "Ja-" "Gue cinta lo Seana! gue e...
