Single Mom: Bab 22

16.4K 939 40
                                        

Airin menatap pantulan dirinya di cermin. Pagi-pagi wanita itu sudah terlihat rapi karena hari ini ia akan ke perusahaan milik papanya.

Outfit yang Airin pakai pagi ini hanya rok plisket dan blouse dengan dilapisi blazer abu-abu, sedangkan hijabnya, menyamakan warna blazernya.

"Bunda cudah cantik kok," ucap Aiden yang sedari tadi menatap sang bunda.

Airin tersenyum lebar mendengar ucapan putranya. "Oh ya? Bunda sudah cantik?"

Aiden mengangguk. "Bunda cantik! Paling cantik cedunia ..."

Airin berbalik menghampiri anaknya. "Aduh, senang banget dipuji si gantengnya bunda ini," ucapnya lalu mencium hidung pria kecil itu.

Aiden tersenyum memperlihatkan giginya, ia senang mendapatkan ciuman dari bundanya yang cantik.

"Abang baik-baik di rumah sama nenek ya? jangan nakal, apalagi ganggu Aera, jangan bikin adiknya nangis!" pesan Airin.

"Iya, Bunda ..." Aiden mengangguk paham.

"Ayo antar bunda ke depan." Airin mengambil tasnya, lalu menggenggam tangan Aiden mengajaknya keluar kamar.

Airin merasa cukup gugup, ia tidak pernah membayangkan menjadi CEO di perusahaan yang cukup besar. Ia tidak menyangka akan menjadi CEO di perusahaan papanya. Meski sebelumnya ia mempunyai jiwa kepemimpinan, rasanya pasti beda dengan menjadi CEO di pabrik cokelat miliknya. Tapi di sisi lain, ia yakin dengan dirinya sendiri, yakin bisa mengelola perusahaan itu.

"Aww, cantiknya janda yang satu ini ..." Eliza berdecak kagum melihat penampilan berbeda adiknya.

"Iya dong ... Anda baru tau? Saya sudah cantik sejak baru lahir," balas Airin. "Aera ... Bunda pergi kerja dulu ya. Aera jangan nakal, nurut apa kata nenek, jangan bandel!" Airin menunduk menatap putrinya.

"Iya, Bunda ..." jawab Aera mengangguk.

"Pintar ... kiss dulu bundanya." Airin menunjuk pipinya, Aera langsung mencium pipi sang bunda.

"Kicc Aela." Aera ikut menunjuk pipinya. Airin pun mencium pipi Aera lalu beralih mencium Aiden.

"Titip si kembar ya, Bun. Aku berangkat dulu."

"Iya. Hati-hati nyetirnya!" ucap Zoya.

Setelah berpamitan, Airin melangkah pergi menuju mobil milik papanya. Karena tidak ada yang menggunakannya, ia yang akan menggunakan mobil papanya yang baru dibeli tiga bulan yang lalu.

Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit untuk sampai di perusahaan, kini mobil Airin berhenti di parkiran kantor. Ia pernah ke kantor papanya, tapi itu dulu saat ia masih kuliah, sudah cukup lama.

Airin menghela napasnya mengusir rasa gugupnya, lalu keluar dari mobil. "Bismillah," ucapnya lirih. Airin mengambil kardus kecil yang berisi cokelat untuk ia bagikan pada karyawannya.

Seorang pria paruh baya tersenyum lebar saat melihat Airin.

"Selamat pagi, Bu Airin," ucap pria itu saat Airin sudah dekat dengannya.

"Pagi juga, Pak. Jangan panggil ibu dong, berasa gak pantas," ucap Airin.

Pria paruh baya itu adalah Bram, sekretaris papanya dan orang yang paling papanya percayai.

"Ahaha ... Sudah siap bekerja?"

"Siap, Pak!"

"Bagus! Itu kardus apa?"

"Ah ini, niatnya mau bagi-bagi cokelat."

"Sini biar saya yang bawa kardus itu." Bram mengambil kardus itu dari tangan Airin.

Airin, Single Mom (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang