Single Mom: Chapter 18

19K 1.1K 46
                                        

Airin dan kedua anaknya baru saja sampai di Banjarmasin. Ya, mereka kembali tapi hanya beberapa hari karena ada banyak barang yang harus Airin ambil. Dan sekarang, ia sudah berada di mobil, supir pribadinya yang menjemputnya dari bandara.

Tidak membutuhkan waktu satu Minggu untuk memikirkan permintaan Zoya, Airin sudah memutuskan untuk mengambil alih perusahaan papanya dan memimpin perusahaan papanya itu. Ia sudah memikirkannya, karena ia lah satu-satunya anak yang kuliah mengambil jurusan perkantoran. Sebelumnya, Airin sudah meminta pendapat kedua anak-anaknya dan mereka pun setuju dengan keputusan sang bunda untuk menetap di Surabaya. Mereka tidak masalah, yang penting mereka masih bersama sang bunda.

Airin pulang karena selain ingin mengambil pakaiannya dan pakaian si kembar, ia ingin memberitahu secara langsung pada karyawannya bahwa ia akan tinggal di Surabaya. Untuk pabrik, Tiara orang yang ia percayai untuk mengurusnya. Nanti, jika ada sesuatu yang penting atau ada masalah di pabrik, Airin akan pulang, dalam sebulan ia pasti akan pulang ke Banjar.

"Yeay sampai!" Aera bersorak gembira saat mobil memasuki halaman villa.

Airin hanya tersenyum melihatnya, kedua anaknya yang paling semangat saat ia mengatakan akan pulang sebentar ke Banjar.

"Pelan-pelan turunnya!" ucap Airin kaget melihat Aera yang meloncat keluar dari mobil.

"Yeee ... Kembar pulang!" ucap Laila berdiri di depan pintu menyambut mereka.

"Mbak Laila ... Aela kangen!"

"Alololo ... Senangnya mbak Laila dikangenin sama si cantik. Sini, Sayang." Laila berjongkok sambil merentangkan tangannya meminta Aera memeluknya.

Airin keluar dari mobil membawa paper bag yang berisi oleh-oleh untuk mereka yang tinggal di villa.

"Bu ... Bu. Di depan ada dua remaja yang butuh pertolongan, si cewek terluka," ucap seorang pria yang menjaga keamanan villa.

"Terluka? Di mana mereka, Bam?"

"Di depan."

"Ya udah, bawa masuk ke dalam," titah Airin.

"Gapapa nih, Bu?"

"Yaelah, Bam. Kan kata kamu dia terluka, kita bantu. Suruh masuk."

"Siap, Bu."

"Mbak Laila, suruh mereka masuk ya."

"Iya, Dek." Laila langsung menghampiri orang yang Bambang maksud. Sedangkan Airin dan si kembar, masuk ke dalam terlebih dahulu.

"Wah, akhirnya sampai juga ya," ucap Ika.

"Mbak Ika rapi banget, mau kemana nih?" tanya Airin.

"Mbak mau jenguk nenek sakit, Dek. Baru dapat kabar kalau nenek sakit, terpeleset di kamar mandi. Mbak izin ya, Dek."

"Iya, Mbak. Gapapa, pulang aja. Semoga nenek gak apa-apa."

"Aamiin ... makasih, Dek."

"Suruh pak Adi nganterin, Mbak."

"Iya, Dek. Mbak pulang dulu ya ... Duh, kangen banget mbak sama kalian." Ika mencubit pipi Aiden.

"Nanti mbak pulang kan?" tanya Aiden.

"Pulang dong. Mbak pergi dulu ..."

"Iya, Mbak."

"Abang mau minum."

"Aela juga," ucap Aera mengikuti sang Abang menuju dapur.

Mata Airin tertuju pada Laila yang sedang memapah seorang gadis dan di sampingnya ada pria yang mengiringi mereka. "Ya ampun, kakinya kenapa bisa terluka gitu? Duduk-duduk," ucapnya.

Airin, Single Mom (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang