Airin: End

30.9K 783 43
                                        

Suara derap langkah kaki mengalihkan pandangan Airin yang dari tadi fokus menonton TV. Ia tersenyum lebar saat melihat kedatangan suami dan kedua anaknya, Arkan baru saja menjemput si kembar sekolah. Airin sedang tidak enak badan, ia juga hari ini tidak ke kantor.

"Bunda ..." teriak Aera berlari menghampiri sang bunda yang berbaring di sofa. "Kata Ayah Bunda sakit, pelasan pagi tadi Bunda ndak sakit."

"Iya, pagi tadi bunda merasa baik-baik saja. Setelah nganter kalian ke sekolah, tiba-tiba bunda merasa pusing, jadi Ayah antar bunda pulang," jawab Airin sambil mengusap kepala sang putri.

"Badan Bunda hangat!" ucap Aiden meletakkan punggung tangannya di kening Airin.

"Elus-elus, Sayang. Bunda pusing." Airin memejamkan matanya saat Aiden mengusap lembut kepalanya. "Duh enaknya, bunda jadi pengen tidur."

"Bunda tidul aja!" Aiden melepaskan tasnya, menaruhnya di lantai lalu duduk di atas karpet dan kembali mengelus kepala sang bunda.

"Sudah minum obat kan?" tanya Arkan.

"Hem ..." respon Airin lalu membuka matanya menatap sang suami. "Bunda punya hadiah untuk kalian bertiga." Airin mengambil kotak kecil yang ia sembunyikan di belakangnya.

"Hadiah? Dalam rangka apa nih? Kok tiba-tiba pengen ngasih hadiah." Arkan mengambil kotak itu, ia duduk di bawah di depan Aiden.

Aera yang penasaran langsung duduk di pangkuan Arkan. "Buka, Yah!" ucapnya.

"Boleh dibuka nih?" Arkan menoleh menatap Airin.

"Bukalah."

"Ayo buka, Ayah!" ucap Aiden terlihat tidak sabar.

Arkan membuka tutup kotak berwarna hitam itu, saat kotak terbuka Aera dan Aiden mengerutkan kening mereka, sementara Arkan reflek membuka mulutnya lalu menoleh menatap Airin dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Isi kotak itu adalah tiga buah testpack dengan hasil yang sama.

"K-kamu hamil?" tanya Arkan terbata dan matanya sudah berkaca-kaca.

Airin tersenyum lalu mengangguk. "Iya, Mas."

"Alhamdulillah ... terima kasih ya Allah ..." lirih Arkan tersenyum lebar, ia mengusap air matanya yang tiba-tiba keluar, air mata bahagia.

"Kok hadiah ini sih?" protes Aera yang tidak tahu benda apa itu. Arkan dan Airin terkekeh mendengarnya.

"Apa yang Aera dan Abang inginkan Allah kabulkan, Nak! Sebentar lagi kalian akan ... kalian akan ... akan ..."

"Akan apa, Yah?!" ucap Aiden nampaknya kesal.

"Tau nih Ayah! Akan apa?" tanya Aera yang juga merasa kesal.

Arkan tertawa lalu mencium pipi Aera. "Sebentar lagi kalian punya adik! Bunda hamil!" ucapnya.

Aera menatap sang bunda dengan mata yang melotot. "Aela punya adik, Bun?!" tanyanya.

"Iya, Sayang ..."

Aera bangkit dari duduknya lalu melompat-lompat sambil bersorak kegirangan. "Aaa .... Aela punya adik, Aela punya adik ..." Aera menarik sang Abang mengajaknya melompat-lompat, karena Aiden juga merasa bahagia, ia melompat bersama kembarannya.

"Yeay ... Bunda hamil ... Bunda hamil!" ucap Aiden, ia tidak tahu apa itu hamil, tapi ia menyebutnya karena tadi ayahnya bilang bundanya hamil.

Airin dan Arkan terkekeh sambil tersenyum mendengar ucapan kedua anaknya. Si kembar terlihat sangat-sangat bahagia.

Dari kemarin, Airin sudah curiga dengan dirinya. Namun, pagi tadi ia baru memberanikan diri untuk menceknya dan memastikan apa yang ia duga ternyata benar. Sungguh ia sangat bahagia saat hasilnya sesuai dengan apa yang ia harapkan. Saking bahagianya ia, ia sempat menangis di kamar sendirian sambil memeluk testpack yang ia gunakan. Ia tidak menyangka akan secepat ini Allah kabulkan keinginannya. Usia pernikahan mereka hampir memasuki bulan ketiga. Iya, tidak terasa sudah hampir tiga bulan ia tinggal bersama Arkan.

Airin, Single Mom (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang