Partnya lebih panjang dari part-part sebelumnya. Jadi, kalian harus ngevote, semoga part ini lebih banyak votenya dari part sebelumnya!
Kasih tau kalau ada typo ya
.
.
.
Airin beranjak pergi meninggalkan kamarnya menuju lantai bawah. Sekarang sudah saatnya ia bertemu keluarganya, ia sangat-sangat gugup, ia tidak pernah merasa gugup seperti sekarang.
Kini, Airin sudah ada di depan kamar tempat papanya berada. Dengan sedikit ragu-ragu dan deg-degan ia membuka pintu kamar itu.
Orang-orang yang ada di kamar itu terkejut melihat kedatangannya yang tidak terduga. Sedangkan Airin, matanya memanas melihat kondisi papanya yang terbaring lemah di atas ranjang dengan dibantu alat-alat medis yang terpasang ditubuh sang papa. Di sebelah papanya, ada sosok wanita hebat yang sangat Airin rindukan, dia adalah Zoya, bundanya. Namun, bundanya tidak melihatnya karena pandangan bundanya hanya fokus pada papanya yang terbaring lemah.
"Airin ..." lirih Intan, kakak pertamanya.
Zoya mendengar lirihan anak sulungnya akhirnya mengangkat kepalanya, matanya langsung tertuju pada sosok anak bungsunya yang berdiri di depannya. Ia seperti bermimpi melihat putrinya kembali, ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
Airin berjalan mendekati Ibrahim, lalu berlutut di samping ranjang papanya sambil terisak pelan. Hatinya sangat sakit melihat papanya terbaring lemah di atas ranjang. "Papa ..." ucapnya lirih. "Maaf ... Maaf aku baru pulang." Isakan yang sangat memilukan keluar dari mulut Airin. Tangisannya pecah, ia menangis tersedu-sedu.
Zoya menatap putrinya yang berlutut di depannya sambil menangis. Dengan cepat, ia merengkuh tubuh anaknya membawanya kedalam pelukannya. "Hiks ... kemana saja kamu, Sayang? Maafin bunda ..." ucapnya. Zoya dihantui oleh perasaan bersalah, ia yang dulunya memaksa putri bungsunya menikah dengan pria pilihannya. Namun, siapa sangka, pernikahan anaknya berakhir perceraian. Pria yang ia pilihkan ternyata tidak berjodoh lama.
"Maafin aku, Bunda ..." Airin terus meminta maaf pada sang bunda disela-sela tangisannya. Sedangkan Zoya, tidak berhenti mengatakan bahwa ia merindukannya.
Semua orang yang melihatnya ikut menangis haru, akhirnya adik mereka kembali pulang setelah empat tahun pergi dari rumah.
Zoya melepaskan pelukannya, lalu memegang wajah Airin sambil mengusap pipi tirus anaknya. Mata mereka terkunci satu sama lain. Zoya mengamati wajah anaknya yang terlihat sangat cantik ditambah lagi anaknya sekarang sudah memakai hijab. "Terima kasih, terima kasih kamu sudah mau kembali, Sayang. Bunda bahagia bisa melihat kamu lagi. Terima kasih hiks ... jangan pergi lagi."
"Maafin aku, Bunda. Maaf aku baru pulang."
"Tidak apa-apa, Nak. Yang penting sekarang kamu sudah pulang," ucap sang bunda. "Pa, bangun ... Putri kita sudah pulang. Ayo bangun," lanjutnya sambil menatap sang suami.
Airin menggenggam tangan papanya yang terasa dingin. "Papa, aku pulang. Papa harus cepat sadar, papa harus kembali sehat hiks ... Aku ingin mengenalkan seseorang ke Papa, Papa harus cepat bangun."
"Ayo bangun, Mas," ucap Zoya lagi.
Airin tersentak kaget saat merasakan tangan papanya bergerak. "Papa?" panggil Airin ragu, tapi ia yakin, tadi tangan papanya bergerak. "Periksa Papa, Kak Intan," titahnya.
Intan yang berprofesi sebagai dokter sekaligus menangani papanya langsung memeriksanya. "Papa sadar," ucapnya membuat semua orang mengucap syukur. "Bicaralah."
Airin kembali menggenggam tangan papanya. "Papa ... ini aku Airin."
Perlahan, Ibrahim membuka matanya, lalu tersenyum. Ternyata putri bungsunya sudah kembali. "A-airin? I-ini beneran kamu, Nak?" tanyanya sedikit tidak percaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Airin, Single Mom (End)
RomanceTiga hari setelah resmi bercerai, Airin baru tahu bahwa dirinya tengah hamil. Ia merahasiakan kehamilannya dan memilih mengasingkan diri tinggal di sebuah villa yang ada di hutan Kalimantan Selatan. Di sana Airin memulai kehidupan barunya bersama a...
