Single Mom: Chapter 15

24K 1.4K 97
                                        

Ini hari ketiga setelah kepergian Ibrahim. Keluarga masih berduka, Airin masih sering menangis jika teringat dengan papanya. Ia berniat tinggal lebih lama di rumah orang tuanya. Zoya juga memintanya tinggal lebih lama, Zoya tidak ingin ia cepat kembali ke Kalimantan.

Suasana rumah masih ramai, keluarga yang jauh belum pulang, termasuk nenek dan kakeknya Airin, mereka belum kembali ke Kalimantan. Azizah juga, nanti jika Lilis dan Ilham pulang, ia akan ikut pulang.

Untuk pekerjaan, Airin serahkan semuanya pada Tiara, gadis itu yang mengambil tanggung jawab sebagai bos. Jika ada sesuatu yang penting nanti ia akan berdiskusi dengan Airin dan memberitahunya. Untuk beberapa minggu kedepan, Airin berkerja hanya lewat ponsel.

"Kak Airin ..." panggil Azizah.

"Kenapa, Zah?" tanya Airin mengalihkan pandangannya dari ponsel.

"Dipanggil ibu, disuruh ke ruang tamu. Ada yang pengen bertemu Kakak."

"Iya, Zah." Airin bangkit dari duduknya. "Anak-anak mana?"

"Main di ruang main, Kak. Sepertinya pria yang ada di ruang tamu itu ... papanya si kembar." Ucapan Azizah berhasil membuat Airin terkejut.

"Kok kamu tau?"

"Cuma nebak, soalnya mirip banget sama Abang hehe ... Kakak gapapa?" Azizah menatap Airin.

Airin tersenyum tipis. "Gapapa, mungkin memang sudah waktunya. Hah ..." Airin menghela napasnya lalu menuruni tangga.

"Semangat Kak!"

"Ck, kamu kira kakak mau ujian atau bekerja disemangati segala."

"Semangat bertemu mantan maksudnya heheh ..."

Cepat atau lambat ia pasti akan bertemu pria itu dan siapa sangka, sekarang sudah saatnya mereka bertemu.

Deg ... Deg ... Deg

Tatapan mereka bertemu, Airin langsung mengalihkan pandangannya. Jantungnya berdetak kencang, bukan karena perasaan cinta yang masih tersisa. Ternyata, bertemu mantan cukup menakutkan.

Jantungnya berdebar-debar karena gugup bertemu pria itu, pria yang notabenenya adalah mantan suaminya, orang yang menjadi alasannya pergi meninggalkan Surabaya untuk menenangkan dirinya yang tengah terluka. Syukurnya rasa cinta itu tidak terlalu besar, hingga tidak membutuhkan waktu lama untuk menghilangkan perasaan itu dan menyembuhkan luka dihatinya.

"Airin?" ucap seorang wanita paruh baya dengan sorot mata yang berbinar menatapnya, wanita itu adalah Naila, mertuanya dulu.

"Mama ..." Airin mencium punggung tangan Naila, Naila langsung memeluknya.

"Akhirnya mama ketemu kamu lagi, Nak. Mama senang banget. Kemana saja kamu?! Nenangin diri lama banget, gak ada kabar lagi. Kamu apa kabar?"

"Alhamdulillah aku baik, Ma. Mama gimana?"

Naila melepaskan pelukannya lalu menatap Airin. "Alhamdulillah, mama juga baik. Maaf mama sama Rey baru bisa datang hari ini. Ayah kamu juga sakit, dirawat di rumah sakit Malaysia, sedangkan Reyhan, dia baru kembali dari Korea. Makanya baru sekarang mama ke sini."

"Ayah sakit apa? Sekarang keadaan ayah gimana?"

"Empat hari yang lalu operasi jantung, Alhamdulillah sekarang sedikit membaik. Ayah masih di sana, nanti malam mama kembali ke Malaysia," jawab Naila. "Kamu kemana saja, hmm?"

"Masih di bumi kok, Ma." Wanita paruh baya itu langsung mencubit pipi Airin.

"Bukan jawaban itu yang pengen mama dengar, is!"

Airin terkekeh. "Aku tinggal di Kalsel, gak jauh dari rumah kakek," jawabnya. "Duduk, Ma. Masa kita berdiri gini."

"Sekarang tinggal di sini kan?"

Airin, Single Mom (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang