Single Mom: Chapter 16

22.4K 1.2K 61
                                        

Semenjak Reyhan bertemu dengan si kembar, pria itu setiap hari mengunjungi rumah mantan istrinya hanya untuk bertemu anaknya. Sepulang dari kantor, Reyhan selalu menyempatkan mampir, setiap kali berkunjung, ia membawakan makanan atau mainan untuk si kembar, pasti ada sesuatu yang ia bawa untuk kedua anaknya.

Airin tidak marah, dari awal ia memang mengizinkan pria itu bertemu dengan anak-anak, ia tidak membatasinya. Sekarang, memang sudah saatnya si kembar dekat dengan papa mereka. Sudah cukup hampir empat tahun ia memisahkan mereka. Mungkin dengan hadirnya Reyhan, bisa membuat si kembar merasakan bagaimana rasanya memiliki ayah dan merasakan kasih sayang dari seorang ayah yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.

Si kembar pun perlahan mulai bisa menerima kehadiran Reyhan, hanya saja ... Aiden kadang sedikit canggung dan kaku jika papanya mengajaknya main ataupun bicara. Ia tidak seperti Aera, ia sedikit sulit menerima kehadiran orang baru.

"Nona, di depan ada papanya si kembar," ucap seorang wanita paruh baya menghentikan aktivitas Airin yang sedang mengaduk puding.

"Bibi liat si kembar gak?" tanya Airin.

"Aiden main sama Azam dan Rasya, kalau Aera main di rumah Ibu Asiah, rumahnya yang ada di sebrang."

"Bibi pudingnya tuang ke cetakan ya, sudah mendidih nih."

"Iya, Non."

Airin melangkah keluar dapur. Sore seperti ini memang jadwal Reyhan datang ke rumahnya.

"Masuk aja, Mas. Aiden ada di ruang bermain, kalau Aera main di sebrang. Aku panggilkan dulu."

"Iya, Rin," jawab Reyhan langsung masuk kedalam dan Airin menuju rumah yang ada di sebrang sana.

Sering bertemu Reyhan, membuat Airin merasa tidak canggung lagi jika bertemu dengan pria itu.

"Mas ... Aera ada di sini?" tanya Airin pada seorang pria yang sedang sibuk mencuci mobilnya.

Pria itu menoleh menatap Airin. "Ada, di dalam. Siapa ya?" tanyanya.

"Bundanya."

Pria itu terdiam sejenak sambil terus menatap Airin.

"Ngapain liatnya gitu banget?"

"Sepertinya kita pernah bertemu? Ah, memang pernah bertemu!"

Airin mengerutkan keningnya. "Dimana?"

"Di taman! Saya ingat banget, walaupun itu sudah lama, saya masih ingat."

Kini giliran Airin yang terdiam, ia juga merasa sedikit familiar dengan pria itu, ia merasa pernah bertemu.

"Coba ingat-ingat. Waktu itu kamu lagi ngajak anak kamu ke taman. Sebelumnya kamu ngobrol bareng ummi, terus saya datang."

"Aku lupa."

"Ayolah ingat-ingat lagi," paksanya.

Lama terdiam, Airin membulatkan matanya tidak percaya. "Aku ingat! Kamu kan yang pernah bilang 'saya tunggu jandamu' Kamu kan yang pengen aku jadi janda?!"

"Betul sekali! Akhirnya kamu ingat ..." Pria itu nampak senang saat Airin mengingat pertemuan mereka.

Ya, mereka memang pernah bertemu. Saat itu Airin sedang mengajak Adel main ke taman, lalu seorang ibu-ibu duduk di sampingnya dan mengobrol dengannya, ibu-ibu itu adalah Asiah. Itu sebabnya, ia merasa familiar dengan Asiah saat Asiah hadir di acara tahlilan malam itu. Ternyata, mereka pernah bertemu bahkan ngobrol.

"Wah ... Apakah ini takdir? Gak nyangka bisa bertemu kamu lagi! Dan rumah kita bersebrangan! Tapi, kenapa saya baru liat kamu?"

"Itu rumah bunda, aku tinggal di Kalimantan."

Airin, Single Mom (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang