Bab 15

22 6 0
                                        

Ark 1: Tragedi di kota Runville

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ark 1: Tragedi di kota Runville

Bagian 3: Pengkhianat

Bagian 3: Pengkhianat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

~∆~

Dinginnya angin malam menusuk tulang ketika kami tiba di rooftop Mall bekas. Aku masih merasakan denyut nyeri di sekujur tubuhku akibat perkelahian sengit di sekolah hari ini.

Meskipun aku berhasil membela diri dengan mahir, tubuhku dipenuhi oleh luka yang membuatku merasa hancur. Ameena melangkah maju dengan mantap, semangat dan kegembiraan terpancar dari wajahnya, seolah tidak ada hal yang bisa merusak mood-nya.

"Ameena." Panggilanku keluar dengan suara serak. "Aku tidak bisa berterima kasih cukup banyak untuk segala dukunganmu. Kamu adalah cahaya dalam hidupku, sumber kekuatan dan cinta di tengah badai yang kurasakan."

Ameena langsung tersenyum lembut, matanya berbinar dengan kebahagiaan. Ia menggenggam tanganku dengan lembut, saling membalas sentuhan di antara kami. Perasaan hangat itu semakin menguat, seakan ada kekuatan magis yang tumbuh di dalam hati kami.

"Milky, kamu juga adalah cahaya dalam hidupku," kata Ameena dengan penuh rasa. "Ketika dirimu datang ke dalam hidupku, segalanya berubah. Kamu mengajarkan aku tentang keberanian, ketabahan, dan perasaan cinta yang tak tergoyahkan. Kita adalah dua jiwa yang saling melengkapi, dan bersama-sama, kita berdua bisa menghadapi apa pun."

Dalam keheningan yang indah, kami saling memandangi wajah. Kata-kata tak terucapkan terbang di antara kami, menyatu dengan aliran energi yang mengalir di antara keberadaan kami. Di atas rooftop Mall bekas ini, kami mulai merasakan ikatan yang tak terpisahkan, rasa cinta yang menguat dari setiap perjuangan yang telah dilalui bersama.

"Milky, lihatlah pemandangan di sini!" serunya sambil mengayunkan tangan, antusias. "Hal itu sangat indah, bukan?"

Kususuri langkahku dengan ragu-ragu, masih terluka dan tersiksa oleh rasa sakit. Namun, aku tak kuasa menahan senyuman ketika melihat kegembiraan yang terpancar dari wajah Ameena. Aku berusaha melupakan rasa sakit sejenak, dan mencoba menikmati momen indah berduaan bersamanya.

Bimasakti - Dark Beggining Of AllCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang