"Sebagai subjek eksperimen, kamu tidak pantas untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan."
•
Di depan pintu gerbang SMA yang megah, sebuah babak baru dalam perjalanan kehidupan Milky telah dimulai. Hatinya penuh harap dan penasaran, menghadapi dunia sekol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ark 1: Tragedi di kota Runville
Bagian 9: Dark Beggining Of All
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
~∆~
Rasa duka meresap dalam sanubari dan kenangan tentang hidup tanpa cinta, yang selama ini aku jelajahi. Ameena hadir dalam kehidupanku, sosok yang memikat hatiku, menjadi cintaku yang pertama. Namun, sahabat-sahabatku di masa silam mengkhianati kami. Mereka telah menggenggam nyawa Ameena, merenggut semua kebahagiaanku, menghancurkan pondasi kehidupan yang indah bersama dengan Ameena.
Aku ingin selalu bersama dengannya, bernyanyi bersama, membaca sebuah buku sembari terbang di angkasa, dan berdiam diri dalam momen tenang, beristirahat. Aku membayangkan bagaimana jika kami bersatu dalam pernikahan, memperoleh anugerah putra-putri yang manis, kadang bertengkar, lalu mengajaknya damai dengan rayuan manis. Namun air mataku terhenti, tak mampu menetes atas segala rencana dan harapanku, yang kini menguap dalam kehampaan.
Rasa putus asa mulai menyeruak di dalam jiwaku saat aku bertanya-tanya mengapa takdirku begitu buruk. Tak seorang pun mau mengulurkan tangan, bahkan Tuhan sendiri hanya mampu menyaksikan penderitaanku, tanpa ikut campur. Aku memandangi bulan di langit, menanyakan kepada rembulan suram mengapa kekejaman selalu menghampiriku, mengapa? Mengapa kesengsaraan dan kemalangan selalu menari untuk mengelilingi takdirku?
Napasku tersangkut, terhenti, suaraku bergemuruh dan menyebar ke seluruh penjuru, menciptakan aura yang kelam. "Kalian, kalian sahabat-sahabatku yang pernah ada di masa laluku. Namun, pengkhianatan ini menimbulkan keraguan dalam arti persahabatan kita," ucapku tanpa menatap mereka.
Elsa berusaha menjawab, namun aku memotongnya dengan tegas. "Ameena, dialah satu-satunya sosok yang pernah memenuhi hatiku dengan rasa cinta. Akhirnya doaku yang selama ini, terpancar juga, aku merasakan cinta dan menjadi seseorang yang dicintai. Namun, kalian, dengan perbuatan keji ini telah merampas segalanya dariku, menghancurkan dahaga hasratku untuk meraih sebuah kebahagiaan."
Eric menjawab dengan sikap santainya. "Sudahlah, lagipula kami pasti akan membunuhmu setelah ini," ungkapnya.
Aku menjawab dengan suara lirih yang terhanyut di dalam keputusasaanku. "Jika dengan tindakan itu kalian ingin membunuh jiwaku, maka kalian telah berhasil melakukannya. Aku yang dulu telah mati, dan hanya meninggalkan bayang-bayang kehampaan. Sekarang aku memahami, aku yang hadir di sini bukan lagi diriku yang dulu. Aku bukanlah pribadi yang penuh dengan kebaikan seperti yang kalian duga, dan jika itu berarti aku harus mengadopsi kekejaman, maka aku pasti akan melakukannya tanpa ragu. Kalian telah menciptakan versi baru dari diriku, sosok yang kehilangan kemampuan merasakan, dan dihuni oleh kilatan amarah dendam yang berkobar-kobar."