"Sebagai subjek eksperimen, kamu tidak pantas untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan."
•
Di depan pintu gerbang SMA yang megah, sebuah babak baru dalam perjalanan kehidupan Milky telah dimulai. Hatinya penuh harap dan penasaran, menghadapi dunia sekol...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•••
Saat itu, kami masih terdiam di dalam bioskop yang suram, atmosfernya terasa semakin mencekam. Ameena kembali menatapku dengan penuh keingintahuan, dan aku bisa merasakan kegelisahan di dalam dirinya. Seakan ada pertanyaan besar yang ingin dia ajukan, dan aku merasa sudah saatnya untuk mengungkapkan satu kebenaran.
"Milky, aku sering kali menyaksikanmu melakukan prestasi yang luar biasa. Kekuatanmu sungguh mengagumkan. Namun, aku merasa penasaran setiap saatnya. Sebenarnya, dari mana asal-usul kekuatanmu itu, ya?" tanya Ameena, dipenuhi rasa keingintahuan.
Aku menelan ludah, menyadari bahwa saat ini adalah momen yang tepat untuk mengungkapkan kebenaran yang sengaja aku sembunyikan dari Ameena.
"Ameena, sebenarnya, aku merasa jika ingatanku perlahan kembali setelah aku bertemu kembali dengan ibuku." Aku berkata dengan pelan, meskipun suaraku hampir tak terdengar olehnya.
"Hmm?" tanyanya.
"Ameena, kamu tahu bahwa nama asli ibuku adalah Elena. Dia adalah seorang ilmuwan hebat yang bekerja di sebuah laboratorium di Rusia, sambil merawat diriku yang masih berusia empat tahun," kataku dengan suara bergetar, hatiku berdebar-debar ketika ingatan tentang ibuku, mulai terbuka kembali.
"Namun, jalan hidup ibuku berubah drastis ketika dia menemukan sebuah penemuan besar yang melibatkan pembangunan senjata biologis Rusia. Tentara bayaran dari Amerika ingin memanfaatkan penemuan itu, untuk tujuan yang jahat," lanjutku, berusaha menjaga suara tetap stabil, meskipun perasaanku tengah dalam kekacauan.
Ameena menatapku dengan rasa heran, dan aku bisa merasakan keinginan dalam matanya untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya dalam kisahku.
"Mereka mengancam akan membunuh aku dan ibuku, jika ibuku enggan untuk melakukan kerja sama dengan mereka. Untungnya, ibuku menolak tawaran tersebut dan melarikan diri bersamaku. Kami bersembunyi di tempat-tempat yang berbeda, mengubah identitas setiap saat demi kelangsungan hidup," lanjutku, mengisahkan kembali, dengan kedua mata yang berkaca-kaca ketika mengenang masa-masa yang suram itu.
"Sejak saat itu, aku menyadari bahwa ada sesuatu di dalam diriku, suatu kekuatan yang tidak dapat dijelaskan. Aku percaya bahwa penemuan ibuku mempengaruhi diriku, memberiku kekuatan luar biasa yang muncul sekarang ini," lanjutku dengan suara lembut, mencoba memahamkan Ameena tentang situasi yang rumit ini.
"Namun, saat usiaku menginjak lima tahun, ibuku menyerahkanku kepada seorang teman ayahku yang bertugas di 'kamp Militer', jauh dari laboratorium ibuku di Moskow. Sejak saat itu, aku telah kehilangan semua ingatanku. Satu-satunya hal yang kuingat adalah ketika aku berlari dengan panik di hutan, dekat 'laboratorium Moskow'," ucapku sambil terdiam, berusaha menahan air mataku yang ingin pecah.
"Apa maksudnya itu?" tanya Ameena.
"Saat itu, aku berlari di tengah hutan dengan tubuh penuh luka dan darah. Air mataku tak tertahankan lagi, dan aku terjatuh berkali-kali karena ranting yang tinggi. Aku berusaha semaksimal mungkin untuk melarikan diri dari sesuatu yang tidak dapat aku ingat. Akhirnya, aku ditemukan oleh pihak panti asuhan tempatku dulu tinggal." Ceritaku dengan tubuh dibasahi oleh keringat. "Mereka memberitahuku bahwa aku ditemukan pada tanggal 1 Januari 2360, tepat pada hari ulang tahun aku, yaitu pada 1 Januari 2350."