Bab 13

27 6 5
                                        

Ark 1: Tragedi di kota Runville

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ark 1: Tragedi di kota Runville

Bagian 1: Api Kemarahan

Bagian 1: Api Kemarahan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

~∆~

Hari itu, seperti biasa aku berangkat menuju sekolahku dengan penuh semangat dan harapan. Namun, begitu kaki ini melangkah melewati gerbang sekolah, aku merasakan sebandung tatapan aneh yang diarahkan langsung kepadaku oleh teman-teman sekelas. Tatapan mereka penuh sinisme, serta bibir mereka mulai melengkung dengan keangkuhan yang mencibirku.

Meski hatiku tertohok, aku memilih untuk mempertahankan sikap tegar.

Aku memasuki lorong sekolah dengan kepala tegak, berusaha keras untuk tidak terpengaruh oleh pandangan mereka. Namun, betapa terkejutnya aku ketika aku melihat Ameena di tengah lorong, dengan rambutnya yang tiba-tiba berubah dari emas menjadi hitam kecoklatan. Warna rambut barunya menyerupai keindahan alam, memberikan sentuhan yang sempurna pada dirinya. Aku tak dapat menahan diri untuk tidak memuji keberanian dan kecantikan yang dipancarkannya.

Dengan tulus, aku berbicara, "Ameena, rambutmu terlihat luar biasa! Warna rambut ini sungguh cocok dengan kepribadian kamu yang sangat manis."

Namun, Ameena hanya menjawab dengan nada santai, "Aish, kamu terlalu formal, Milky." Ia tersenyum lebar dan melanjutkan, "Terima kasih, sayang. Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang berbeda, dan aku sangat senang mendengar apabila kau menyukainya."

"Kamu juga berbicara formal."

"Abisnya kamu sih yang duluan," kata Ameena. "Lama-lama, kita berdua bisa saja menjadi pasangan yang formal, bukan?" Ameena tertawa bersamaku.

Kami berjalan bersama menuju kelas. Tetapi kali ini, semua orang terlihat memandang kami dengan tatapan sinis. Aku merasa heran dan sedikit terluka oleh sikap mereka. Aku tidak pernah mengganggu siapa pun atau mencoba untuk menonjolkan diriku di kelas ini.

Ameena duduk di belakangku, dan aku menempati kursi di depannya. Ketika aku melihat sekeliling, aku merasakan tatapan-tatapan yang tidak ramah dari teman-teman sekelas kami. Mereka terlihat berbisik dan tertawa sendiri dengan jahil, seolah menyembunyikan rahasia yang hanya diketahui mereka.

Bimasakti - Dark Beggining Of AllCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang