JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA AGAR MENDAPATKAN NOTIFIKASI. CERITA INI ASLI DARI PIKIRAN SAYA SENDIRI DAN DIMOHON UNTUK TIDAK MEMBANDINGKAN LAPAK SAYA & ORANG LAIN, TERIMA KASIH.
"Nanti janji ya, nikah sama kakak," ucap seorang laki-laki yang be...
"Tidak ada gunanya merubah penampilan demi mendapatkan simpatik orang lain."
🌹🔪🌹🔪🌹🔪
Air Mata Penyesalan by SeltaApriani
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
AMP
Perempuan itu masih menangis dipelukan sang kakak sampai membuat kedua orang tuanya yang tadi tidur jadi terbangun.
Usapan lembut dikepalanya mampu membuat Alifa merasakan rasa nyaman itu kembali. Karena jujur, disaat Alaska memeluk dirinya, dia sama sekali tidak dapat merasakan kenyamanan itu lagi.
Ibu Tria mendekati anaknya yang sedang menangis. Hati ibu mana yang tidak sakit ketika mendapatti keadaan sang anak seperti ini? Pasti semua ibu yang ada di dunia menginginkan anak-anak mereka hidup bahagia. Perempuan paruh baya ini mengambil alih pelukan tadi.
Dia memeluk Alifa dengan sangat erat untuk memberikan kekuatan. Mengisyaratkan bahwa Alifa tidak sendirian, semua rasa sakit yang sudah dirasakan oleh putrinya pasti suatu saat nanti akan Allah balas dengan kebahagiaan. Air mata kesedihan yang hampir setiap detik keluar ini, pasti nanti akan Allah ganti dengan air mata kebahagiaan.
Ya Allah, biarkan putriku bahagia, kenapa hanya ada air mata yang selalu menghiasi hari-hari anakku? Apa dosa anakku sudah melampaui batas ya Rabb? Ibu Tria berdo'a dalam hati sambil sesekali menciumi kepala sang anak. Pak Sudar hanya duduk terdiam sambil memandangi anak dan istrinya yang sedang menangis.
Entah apa yang dipikirkan oleh pria tua ini. Sedikit demi sedikit kepalanya beralih melihat ke arah Gara. Mulutnya ia bukak untuk memanggil nama lelaki itu.
"Gara." Lelaki yang merasa namanya dipanggil langsung menoleh.
"Ada apa, Ayah?" tanya nya lembut.
"Kemarilah, Nak."
Gara menurut saja karena sepertinya sang ayah akan membicarakan hal yang sangat penting. Ia duduk di sebelah sofa dekat pak Sudar. Dapat dilihat jika tumpukan air bening itu sudah siap untuk keluar dari dalamnya.
Gara tersenyum kepada sang ayah, pria tua yang sudah membesarkan ia dengan keringatnya. Pria tangguh yang menjadi panutan Gara untuk bisa bersikap lembut dan menghormati seorang perempuan. Yang selalu mengajarkan kepadanya apa itu artinya kehidupan yang keras.
Pak Sudar melihat putra satu-satunya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa cemas, tidak setuju dan entah masih banyak lagi.
"Kenapa Ayah melihat Gara seperti itu?"
"Apa kamu sungguh-sungguh dengan apa yang sudah kamu ucapakan kemarin?"
Gara terdiam sejenak sambil menunduk, hanya selang beberapa detik kepala lelaki itu kembali ia angkat. Dia kembali tersenyum kepada ayahnya.