JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA YA FRIENDS AGAR MENDAPATKAN NOTIFIKASI. DAN DIMOHON UNTUK TIDAK MEMBANDINGKAN LAPAK SAYA & ORG LAIN, TERIMA KASIH.
"Nanti janji ya, nikah sama kakak," ucap seorang laki-laki yang berusia 14 tahun.
"Nanti kalau Ali...
"Hallo, saya kembali lagi, jangan lupa vote dan komen ya. Maaf jika lama up nya."
🌹بسم الله الرحمن الرحيم 🌹
"Jangan kau anggap allah lambat mengabulkan doamu, karena sungguh kau yang menutupi jalan terkabulnya doa dengan dosa-dosamu"
(Yahya bin Muadz Rahimahullah dalam Siyar 15:13)
🌹🔪🌹🔪🌹🔪
Air Mata Penyesalan by LieWeyWey.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
AMP
Ibu Liana tersenyum senang saat Alifa ingin ikut bersamanya. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi saat masih berada di sekitar rumah Alaska dan menjadi sedang saat sudah jauh. Sesekali perempuan paruh baya ini melirik ke arah anak dari mantan pembantunya dulu yang sudah berhasil membuat putranya jatuh cinta.
Dirinya sudah berhasil membawa Alifa pergi dari rumah neraka tapi putranya sudah tidak ada lagi, itu yang ada di pikiran ibu Liana sekarang.
Alifa menatap jalanan yang sangat bagus dan cerah sudah cukup lama dirinya berada di dalam mobil tapi tak kunjung juga sampai.
Maaf Mas, Alifa pergi tanpa sepengetahuan kamu. Dirinya menangis dalam diam saat selesai membatin. Kemudian kepalanya ia sandarkan untuk tidur mengistirahatkan sebentar pikiran yang sedang kacau.
Setelah Alifa tertidur tangan ibu Liana bergerak mengelus jilbab yang digunakan oleh Alifa.
"Tante harap kamu bisa bahagia setelah ini walaupun tanpa Alaska dan tanpa anak Tante, Gabriel."
Kemudian ia fokus mengendarai mobil agar segera sampai ke rumah. Sedangkan Alifa sudah tertidur dengan pulas nampak sekali jika perempuan itu kelelahan.
Setelah dua jam perjalanan akhirnya mereka sampai ke sebuah rumah yang tak kalah besarnya. Dia tidak akan membawa Alifa ke rumah yang ia tinggali sekarang karena dia yakin Alaska pasti akan ke sana jika mengingat dirinya dan Alifa tadi pergi jalan belakang dengan bantuan bi Santi dan bi Ilma, otomatis ibu Sulastri tau siapa yang sudah membawa Alifa pergi.
Alifa terbangun saat mobil berhenti, matanya dia kerjapkan beberapa kali. Ibu Liana tersenyum dan mematikan mobil.
"Kita sudah sampai."
Mereka berdua turun dari mobil dan dapat Alifa lihat jika rumah ini jauh lebih besar dari rumah-rumah orang kaya yang dia lihat. Dirinya kembali minder setelah melihat itu.