JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA AGAR MENDAPATKAN NOTIFIKASI. CERITA INI ASLI DARI PIKIRAN SAYA SENDIRI DAN DIMOHON UNTUK TIDAK MEMBANDINGKAN LAPAK SAYA & ORANG LAIN, TERIMA KASIH.
"Nanti janji ya, nikah sama kakak," ucap seorang laki-laki yang be...
"Lisan adalah merupakan gambaran hati, maka jadilah dirimu pribadi yang memiliki lisan yang jujur dan suci hati."
(Al Habib Umar bin Hafidz)
🌹🔪🌹🔪🌹🔪
Air Mata Penyesalan by SeltaApriani
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
AMP
Hujan terus mengguyur jalanan di kota. Awan hitam sedari tadi sudah menutupi langit-langit yang berwarna biru. Tak lupa juga sesekali kilatan cahaya yang menakutkan bagi sebagian manusia itu nampak terang di langit.
Sedari tadi perempuan yang menggunakan gamis berwarna hitam dan jilbab beserta cadar dengan warnah hitam pula sedang duduk di teras rumahnya. Teras rumah yang sederhana itu mampu membuat sebagian air membasahi lantai.
Cuaca dingin yang dapat menusuk ke tulang sama sekali tidak bisa membuat perempuan ini beranjak dari tempatnya. Ia dengan setia duduk di sana sambil memperhatikan rintikan air hujan yang turun dari langit.
"Assalamu'alaikum." Seorang lelaki baru saja pulang dari kerja.
Tidak mendapat jawaban salam dari perempuan ini, ia memilih langsung menghampiri saja.
"ALIFA."
"Astaghfirullah." Alifa mengelus dadanya karena kaget. Suara gelak tawa dari laki-laki tadi membuat dirinya geram. "Iiss, kak Gara ngagetin aja."
"Salah siapa bengong." Gara mengelus kepala adiknya. "Ayo masuk." Perempuan itu hanya menurut sambil mengangguk lesuh.
"Itu di tangan kakak apa?"
"Bakso. Tapi gak ada jatah yang kamu."
"Kok gitu, sih?" Alifa mendengus sebal.
"Ya beli dong kalau mau, hahaha."
"Yaudah Alifa pergi dulu, mau beli."
Gara melihat adiknya yang sangat nekat langsung mencegahnya. "Kakak becanda, ayo kita makan sama-sama."
"Panggil Ibu sama Ayah, gih," suruhnya.
"Iya, bentar." Alifa pergi ke dalam untuk memanggil kedua orang tuanya yang sedang membersihkan kandang ayam di belakang rumah.
"Ibu, Ayah. Kak Gara suruh masuk buat makan."
Pak Sudar menoleh ke belakang. "Alifa, kenapa kamu keluar? Ini hujan cepat masuk."
"Kalian masuk juga, kak Gara bawa bakso tu." Ia melihat kedua orang tuanya seperti ini jadi tidak tega, sampai kapan dirinya akan seperti ini terus?
"Nak, masuklah dulu kamu sudah basah," suruh ibu Tria.