JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA AGAR MENDAPATKAN NOTIFIKASI. CERITA INI ASLI DARI PIKIRAN SAYA SENDIRI DAN DIMOHON UNTUK TIDAK MEMBANDINGKAN LAPAK SAYA & ORANG LAIN, TERIMA KASIH.
"Nanti janji ya, nikah sama kakak," ucap seorang laki-laki yang be...
"Jika kamu belum mampu menyembelih hewan kurban tahun ini, maka katakanlah pada diri, wahai diri aku sembelihkan sifat sombongku dalam diriku, yang selama ini selalu merasa benar, selalu merasa pandai, selalu merasa berilmu (alim)"
(Jalaluddin Rumi)
🌹🔪🌹🔪🌹🔪
Air Mata Penyesalan by SeltaApriani
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
AMP
Alaska kini terkapar tak berdaya di lantai rumahnya sendiri. Para satpam sudah melerai namun Gara yang emosinya sudah di ubun-ubun membuat mereka semua kewalahan untuk mengimbangi kekuatan laki-laki itu.
Adakah seorang kakak yang rela jika adiknya disakiti sampai seperti ini? Gara rasa tidak ada yang rela kecuali sang kakak tersebut memang otaknya yang sudah rusak. kini Gara akan melakukan apa saja untuk membalaskan semua rasa sakit adiknya pada keluarga ini.
Ayahnya sudah tua, jadi otomatis Gara lah yang akan maju paling depan dalam menghadapi setiap masalah. Wajah Alaska sudah babak-belur akibat berkelahi dengan kakak iparnya. Wajah Gara pun tak kala memprihatinkan akibat perkelahian ini.
Ibu Sulastri menangis histeris saat melihat keadaan sang anak yang seperti itu.
"KAMU INGIN MEMBUNUH ANAK SAYA, HA?" Ibu Sulastri memukul-mukul dada Gara.
Namun lelaki itu hanya diam, dirinya juga tidak tega melakukan ini kepada suami adiknya. Tapi Alifa sudah menderita dengan hebat.
"KAMU YANG JUSTRU SUDAH MEMBUNUH PERASAAN ANAK SAYA. ALIFA SUDAH PERGI ENTAH KEMANA, DAN ITU SEMUA KARENA KALIAN." Ibu Tria menjanggam rambut ibu Sulastri sambil menangis dan dengan emosi yang menggebu-gebu.
Dulu dirinya tidak berani untuk melawan mertua Alifa, tapi sekarang tidak lagi karena mereka tidak boleh dianggap rendah oleh orang sombong seperti ini.
Tatapan ibu Tria beralih pada perempuan yang sudah merusak rumah tangga anaknya. Hatinya menangis kala bayangan-bayangan Alifa yang tersiksa. kini tangannya langsung beralih menampar Nabila dengan keras.
Plak.
"Ini untuk sakitnya Alifa ketika dipoligami.
Plak.
"Ini untuk sakitnya Alifa ketika anaknya meninggal."
Plak.
"Ini untuk sakitnya Alifa ketika kalian menghinanya."
Lalu setelah itu ibu Tria menampar Nabila dan sekaligus menjanggam rambut itu dengan kuat dan bertubi-tubi.
"DAN INI UNTUK SEMUA SAKIT YANG SUDAH ANAKKU RASAKAN." Pak Sudar yang dari tadi hanya membiarkan istrinya untuk meluapkan segala rasa sakit, kini dia tarik untuk menenangkan.