JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA AGAR MENDAPATKAN NOTIFIKASI. CERITA INI ASLI DARI PIKIRAN SAYA SENDIRI DAN DIMOHON UNTUK TIDAK MEMBANDINGKAN LAPAK SAYA & ORANG LAIN, TERIMA KASIH.
"Nanti janji ya, nikah sama kakak," ucap seorang laki-laki yang be...
"Apabila ada yang memaki kita, jangan memaki balik, sabarlah. Jaga adab sebagai orang berilmu. Jadilah seperti kayu gaharu, apabila dibakar semerbak bau wanginya."
🌹🔪🌹🔪🌹🔪
Air Mata Penyesalan by SeltaApriani
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
AMP
Tiga hari sudah berlalu atas meninggalnya Umi Fima istri dari pemilik pesantren ternama yaitu Abi Basyor. Selama itu juga Gabriel dan ibu Liana belum pulang. Mereka ingin menemani keluarga pesantren dan sekaligus Alifa kecil tidak mau ditinggal oleh Gabriel.
Seperti sekarang, Alifa kecil masih terus menangis walaupun hanya tangisan kecil. Gadis ini sesegukan akibat terlalu banyak menangis, Gus Awan hanya melihat adiknya yang digendong oleh ibu Liana.
Gus Awan ingin menangis sambil berteriak keras untuk melampiaskan rasa sesak karena ditinggalkan oleh sang Umi. Namun itu semua tidaklah berguna, jika menangis bisa mengembalikan Umi Fima mungkin dia sudah melakukan hal tersebut.
Malam hari yang sudah menunjukkan pukul 22:00 malam nampak sunyi, ditambah lagi dengan rintikan hujan yang datang dari langit hingga turun ke bumi. Gabriel duduk di samping Gus Awan yang hanya melamun sedari tadi. Tangannya menyentuh pundak anak pemilik pesantren sekaligus penerus Abi Basyor.
Gus Awan menoleh ke samping dan langsung disambut oleh senyuman tulus dari Gabriel. Mata Gus Awan sedikit berair di bagian sudut, lalu memeluk laki-laki yang berada di sampingnya karena sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
"Jangan menangis, nanti Umi akan sedih."
"Mii Umii." Alifa kecil menoleh ke arah Gabriel yang baru saja bersuara.
"Aku gak kuat kak. Alifa juga masih kecil dia sangat membutuhkan kasih sayang Umi."
"Abang, Umii itu Umii." Alifa memanggil Gus Awan sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar rumah.
Gus Awan melepaskan pelukan tadi dan melihat adiknya, ia tersenyum.
"Iya dek, Umi di luar sekarang."
"Sudah. Jangan bersedih ikhlaskan Umi kamu ya Nak," ucap ibu Liana.
"Iya, Bu."
"Sekarang Alifa tidur ya Nak." Ibu Liana membawa Alifa ke dalam kamar milik gadis kecil yang sedang dia gendong.
"Alifa sangat dekat dengan kamu, Kak," ucap Gus Awan melemah.
Gabriel menoleh ke samping. "Mungkin dia merasa nyaman dengan saya."