Cerita hanya fiktif, berdasarkan imajinasi, jika ada kesamaan tempat, nama, dan kejadian, hanya kebetulan semata.
•–•
Meneguk ludah, tidak bisa berkedip, dan tangan bergerak sendiri ingin menyentuh, begitulah saat gadis muda melihat tubuh Raden yang bertelanjang dada. Walau di punggungnya terdapat luka, tapi memberikan kesan seksi dan keren yang sulit di katakan. Pagi ini, setelah di berikan obat dengan dokter Zayn, pundaknya tidak berdenyut dengan gila gilaan lagi, lebih tenang membuat Raden yang membuka buka berkas di tempat duduknya bisa lebih fokus membaca.
Raden merasa pundak kanannya di sentuh, sebuah tangan sedikit menekannya, Raden melirik, menahan erangan karena Adnan berdiri di belakangnya, mencondongkan tubuh untuk melihat apa yang Raden baca.
"Saya yang mengurus semuanya" Adnan menoleh ke arah Raden, "kamu tidak percaya pada saya?"
Adnan berdiri tegak, berjalan dan berhenti di sebelah Raden. Ekspresi Raden langsung berubah, dia tersenyum lembut sembari meletakkan map itu di atas meja, "saya hanya tidak ingin menambah pekerjaan yang tidak perlu untuk ayah" alis Raden terangkat, "bukannya ayah terlalu banyak bekerja? Tidak ingin istirahat sejenak?"
"Ha, saya memang memikirkan itu" Adnan menyesap tehnya, "tapi jika saya tidak turun tangan, semuanya akan berubah jalan, iya kan Raden?"
Raden menyeringai, bersandar pada sofa, dia mendesah pelan, "ayah benar, jika tidak sesuai keinginan ayah, maka akan berjalan sesuai keinginan saya. Jadi, istirahat saja, saya yang akan mengambil alih, bagaimana?"
Adnan tersenyum, "lakukanlah, jalan kan yang kamu mau" Adnan mendekat, senyum palsu yang menawan itu menambah kesan bukan orang sembarang. "dan saya akan datang, merubahnya di detik terakhir, membanting stir sampai menabrak dengan keras, sehingga kamu tidak bisa selamat"
Raden terdiam sejenak, setelah berhasil mengendalikan dirinya, Raden tertawa, dia mengangguk, "ah, ayah.. saya bersyukur kamu adalah ayah saya, jika tidak..."
Adnan meraih satu kertas di atas meja, membacanya dengan sudut bibir terangkat naik, dia menoleh ke arah Raden, "jika tidak? Kita pasti sudah salih menyerang, begitu? Jalan manapun yang kita ambil, kita akan bertemu kembali di garis finish, perbedaannya adalah, siapa pemenangnya"
Raden berdiri, mengangguk sejenak, "terimakasih ayah"
"jangan paksakan dirimu, istirahat yang cukup" Adnan meletakkan cangkir tehnya di atas meja lalu berbalik pergi ke arah pintu depan.
"Tentu" Raden membalas dengan nada riang. Setelah Adnan pergi, detik selanjutnya Raden mengatupkan giginya dengan kuat, sampai rahangnya mengeras.
Dia tidak bisa melakukan apapun jika itu berkaitan dengan Adnan. Dia bukan siapa siapa jika melawan pria itu, pengaruhnya bahkan bisa membuat Raden masuk penjara tanpa melakukan tindak kriminal, bagaimana remaja sepertinya melawan Adnan?
Di tengah pergulatan dengan fikirannya,, handpone yang ada di atas meja berdering, "gimana?"
"Den, gue ke rumah itu lagi, ada orang di situ. Inget cowok yang gue bilang nanyain Lo? Namanya Rafi. Gue tanya dari mana tau Raden, dia jawab, salah satu temen Yoga, ngasih tau semuanya ke mereka. Dia nolak ngasih tau dimana mereka tinggal sekarang, dan gue juga udah bilang, Lo mau ketemu, cuma gue gak tau Rafi bakal nyampein ke orang tuanya atau engga"
KAMU SEDANG MEMBACA
LILBROTHER [SELESAI]
Ficção Adolescente"Tentangnya yang berusaha menjaga apa yang belum di rebut darinya" ____ • Terdapat adegan kekerasan dan kata kata kasar Raden cowok galak, kasar, pemarah, dan menakutkan, leader dari kelompok kecil cowok nakal SMA RAJAWALI. Dia tidak pandang bu...
![LILBROTHER [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/338174141-64-k681911.jpg)