Cerita hanya fiktif, berdasarkan imajinasi, jika ada kesamaan tempat, nama, dan kejadian, hanya kebetulan semata.
•-•
Benar kata orang jaman dulu, jangan terlalu banyak tertawa, nanti datang suatu hal yang membuatmu menangis.
Itu terjadi malam ini.
Amelia mendekat untuk bersandar di dada Raden, aroma parfum yang lembut membuatnya semakin membenamkan wajah ke dada bidang anaknya itu. Pemandangan itu mengharukan, ibu dan anak akhirnya bertemu setelah sekian lama.
Prabu menarik sudut bibir, sepenuhnya lupa dengan rasa sakit di tangannya. Melihat mereka, Prabu mendapatkan harapan baru untuk membentuk sebuah keluarga seperti dulu.
"Ah, Abang Raden …., Mama cari sekian lama—" Amelia mengangkat wajahnya, "akhirnya ketemu."
Amelia menghela nafas, "Mama datang ke sini, karena rindu sama Abang .... Mau ketemu sama Abang .... Dulu, Abang nangis nangis karena mama tinggal, kan?" Raden tetap diam, Amelia tidak terganggu dengan reaksi itu, dia terlihat nyaman menggelus dada Raden, "Mama gak akan biarkan abang pergi lagi."
Bibirnya membentuk senyuman lembut, dia berbisik, "sekarang, Mama udah disini...."
Beberapa detik berlalu, akhirnya bibir Raden bergerak, suaranya sangat pelan dan dalam.
".... Disini ..."
Amelia mengangkat kepalanya, "apa, bang?"
Raden perlahan menunduk, melihat mata Amelia. Suaranya dingin dan menusuk, "Biar mampus kamu disini."
"Huh?"
Tinju Raden mendarat tepat di wajah Amelia, suara pukulan seperti bom itu di sertai teriakan melengking, membuat semua orang di tempat mematung, kaku, takut, kalut.
Bagaimana bisa tatapan teduh itu menjadi tatapan menusuk penuh niat membunuh? Hanya Raden yang bisa melakukannya. Gerakannya terlalu cepat, tangan kirinya menarik rambut Amelia, menjauhkannya agar tangan Raden bisa leluasa menghantam wajah Amelia. Pukulan terkenal itu mendarat tepat di pipi sehingga dia berteriak kencang, kakinya bergetar seperti tidak ada tulang, pukulan kedua menghantam hidungnya, suaranya membuat jantung berdetak hebat, dan pukulan ketiga, Amelia jatuh ke lantai.
Raden terlihat garang, matanya tajam dengan rahang yang mengeras, tangan kanannya seperti tidak puas. Dia mendekat lagi, menyambar rambut Amelia, mengangkatnya untuk di pukuli, mungkin sampai mati.
"Raden! Apa apaan Lo?!" Prabu tersadar, tapi belum sempat dia mendekat, Aca berteriak begitu keras, tangannya bergetar sehingga boneka usang itu jatuh ke lantai.
Prabu panik, dia segera menyambar tangan Aca, meremasnya sedikit kuat, "Aca, Aca, liat Abang." Prabu menangkup pipi anak kecil itu, tangannya basah karena air mata Aca, "ada Bi Yus di dapur, panggil bi Yus kesini." Prabu mencoba tenang.
Aca melepaskan pandangannya dari Raden yang menghantam wajah Amelia, di menoleh ke belakang, Prabu segera berucap, "cepet, Ca." Dengan kaki gemetar, Aca berlari ke dapur.
Prabu segera berbalik, dia meringis melihat mata hitam itu terlihat begitu gelap, tenggelam dalam nafsunya. Tidak berfikir dua kali, Prabu mendekat, menarik kerah Raden dan menghentakkan tangannya, dia menggerang, menggeluarkan seluruh kekuatannya untuk mendorong Raden menjauh, menabrak dinding rumah.
"Lo gila, den?! Itu mama!!" Nafas Prabu berseru, dia takut, tapi lebih takut jika dia tidak bisa menghentikan Raden.
Setelah teriakan itu, Raden menatap matanya, dan seketika Prabu ikut terdiam. Ada yang berbeda, tidak sepenuhnya terlihat dia sedang marah. Prabu meletakan tangan kanannya di leher Raden, menekannya sedikit kuat. Dia mesih mempertahankan kontak mata itu, menantangnya seolah tidak takut.
KAMU SEDANG MEMBACA
LILBROTHER [SELESAI]
Novela Juvenil"Tentangnya yang berusaha menjaga apa yang belum di rebut darinya" ____ • Terdapat adegan kekerasan dan kata kata kasar Raden cowok galak, kasar, pemarah, dan menakutkan, leader dari kelompok kecil cowok nakal SMA RAJAWALI. Dia tidak pandang bu...
![LILBROTHER [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/338174141-64-k681911.jpg)