"Lo mau pesen apa?"
"Cookies and cream satu."
"Itu doang?"
Aruna mengangguk yakin.
"Ya udah lo tunggu bentar, gue pesenin."
"Oke pak bos!"
Raka membalikkan tubuhnya meninggalkan Aruna yang kini tengah duduk sambil memperhatikan akuarium yang berisikan ikan-ikan kecil di dalamnya.
Aruna melihat sekeliling, rasanya sudah lama sekali Aruna dan Raka tidak ke sini, terakhir kali Aruna ke sini ada seorang yang pria yang menabraknya.
Aruna tersentak saat tiba-tiba ada hawa dingin menyentuh pipinya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Raka yang menempelkan minuman dingin itu ke pipi Aruna. Untung laki-laki itu tampan jadi Aruna tidak bisa marah.
Sumpah demi Tuhan, Aruna sangat menyayangi laki-laki dihadapannya ini. Raka benar-benar menjadi salah satu orang penting yang telah hadir di kehidupannya. Walau hanya sebatas teman, Raka selalu ada di sampingnya, saat Aruna melakukan kesalahan Raka akan menasehatinya, saat Aruna sedih Raka akan sigap membawakan makanan-makanan kesukaannya, saat Aruna bahagia Raka akan ikut tersenyum. Aruna sampai bingung apa yang dilakukan Raka di kehidupan sebelumnya sampai menjadi orang sebaik ini.
Anna pernah bertanya apa Aruna pernah menyukai Raka, tapi ia selalu menyangkal dan bilang kalau dia hanya menyayangi Raka sebagai teman. Padahal di lubuk hatinya tentu saja Aruna pernah menyukai Raka. Aruna mencintai Raka sampai dititik ia mengikhlaskannya. Aruna sadar, ia dan Raka tidak mungkin bisa bersama, ia dan Raka sama-sama menyimpan sakit pada masa lalu yang belum selesai.
Aruna hanya berharap yang terbaik pada Tuhan. Sama seperti sekarang, Aruna berharap Langit baik-baik saja entah dimana ia berada.
Setelah kejadian malam itu, Langit tidak pernah memberitahukan apa yang telah terjadi padanya saat itu. Aruna pernah mencoba menanyakannya namun Langit tak mau menjawab dan malah mengalihkan pembicaraan. Hari-hari kembali berjalan seperti biasanya tanpa Aruna tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Bak di telan bumi, Langit menghilang. Ada saat-saat di mana Aruna sendirian di kamar sambil menikmati dinginnya malam dan rasa rindu itu muncul tiba-tiba.
Laki-laki itu selalu punya cara yang unik untuk membuatnya tertawa. Sialnya, Aruna terlambat menyadari bahwa hatinya sudah kembali terbuka untuk Langit. Entah Tuhan ingin Aruna belajar kembali tentang ikhlas atau karma, Aruna pun juga tidak tahu pasti.
"Run!"
Aruna lagi-lagi terkejut kala Raka memanggil namanya dengan cukup keras.
"Lo kenapa sih? Dari tadi melamun mulu."
"Hah? Gak, gue ga kenapa-kenapa."
"Beneran?"
"Iya, gapapa."
Tidak sampai semenit berlalu, Raka bergerak gelisah sambil mengusap perutnya.
"Aduh perut gue sakit," gumam Raka pelan.
"Kenapa lo?" tanya Aruna heran.
Raka tersenyum canggung hingga memperlihatnya eye smile-nya. "Hehe.. Sorry ya Run, gue ke toilet bentar."
"Yeuuuuuu! Udah sana cepetan!"
Keheningan kembali menyerbak pada ruangan yang ditempati Aruna setelah Raka kembali pergi dari hadapannya. Gadis itu cukup kaget karena suara musik yang dinyalakan.
Sejenak Aruna berpikir, lagu ini seperti tidak asing di telinganya.
Saat lirik lagu mulai dinyanyikan Aruna tersenyum, benar saja, ini lagu Sorai milik Nadin Amizah. Salah satu penyanyi favoritnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aruna | Mark Lee ✓
Teen Fiction❝Lo tuh harusnya hati-hati, entar lo suka sama gue. Mampus lo!❞ ❝Gak dulu, makasih.❞ ©jaayrxs 2021
