Setiap orang berhak bahagia, meskipun harus melewati hal yang tidak menyenangkan untuk menuju kebahagiaan. Tak terkecuali Ervan.
Seorang anak kecil laki laki yang polos dan penurut. Hidup penuh dengan penderitaan bahkan untuk merasakan kebahagiaan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Huh capek." Keluh Ervan sambil menyeka keringatnya. Siang hari ini begitu panas. Membuat anak laki laki tersebut yakni Ervan merasa pegal dan panas. Dengan membawa dagangannya yang kecil kecilan sambil berjalan mengelilingi tempat untuk menawarkan dagangannya.
Sampai siang pun dagangan Ervan masih utuh. Bisa bisa Ervan dimarahi ibunya jika pulang tidak membawa uang. Saat Ervan sedang merenungi nasib dagangannya. Tiba tiba muncul seorang perempuan datang dari belakang Ervan untuk membeli jajan yang dijualnya.
"Hai adik manis, kakak beli ini empat ya?" ucap perempuan tersebut sambil mengambil jajan yang dimaksud. Ervan yang merasa akhirnya ada yang membeli dagangannya pun merasa senang. Memberi senyuman manis ke perempuan tersebut yang sekarang terpana akan senyuman manis Ervan.
"Semuanya jadi dua belas ribu ya kakak cantik.," jawab Ervan dengan riang. Begitu senang dagangannya dibeli oleh seseorang.
Perempuan tersebut juga ikut tersenyum melihat tingkah Ervan saat ini. Merasa kasihan melihat Ervan berdiam diri sambil menatap dagangannya dengan muka yang sedih.
Akhirnya dia membeli dagangannya. Perempuan tersebut membayar dengan uang dua puluh ribu "ini dek, ambil aja kembaliannya."
Ervan menerima itu dengan mata yang berbinar. Menyiratkan betapa dia sangat senang sekali. "Terima kasih kakak cantik," ucap Ervan.
Dan perempuan tersebut pergi. Sekarang Ervan sendiri lagi. Dia tak punya teman. pasti seru kalau punya teman kan?
-----------
"Tuan muda, setelah ini anda akan mampir ke suatu tempat atau langsung kembali ke mansion?" tanya sopir sambil membuka pintu mobil.
"Langsung," jawab tuan muda tersebut dengan singkat dan tak lupa wajah datarnya yang selalu diperlihatkan ke semua orang.
Dia adalah Ian Orlando. Bungsu dari keluarga Orlando. Umurnya saat ini 16 tahun. Tinggi, putih, hidung mancung dan rahang yang tegas. Dengan fisiknya yang seperti itu, tidak sedikit yang menyukai Ian orlando. Sudah kaya, ganteng. Siapa yang gamau coba?
Tak lama kemudian, mobil tersebut melaju dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil Ian hanya duduk diam sembari mendengarkan musik lewat headphone dengan mata tertutup.
Merasa mobil tidak bergerak, Ian membuka matanya dan melihat sopirnya keluar dari mobil. Ian pun menyusul sopir tersebut.
"Ada apa pak Feri?" tanya Ian dengan nada tegas. Nama sopir tersebut pak Feri.
"Itu tuan muda, ban depan tiba tiba kempes. Saya akan memperbaikinya. Saya menelpon sopir lain di mansion agar segera menjemput anda tuan muda," jawab sopir tersebut dengan wajah yang merasa bersalah. Takut jika tuan mudanya ini marah karena hal ini.
Ian yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala dan segera duduk di halte. Kebetulan tempat tersebut dekat halte.
Saat Ian menunggu jemputan sopir lain di halte. Tiba tiba ada yang menepuk nepuk pundaknya. pandangan Ian yang tadinya mengarah ke handphonenya, sekarang teralihkan ke samping. Itu Ervan. Dia menepuk nepuk pundak Ian karena Ian dipanggil tidak menjawab.
Niatnya hanya ingin menawarkan dagangannya kepada Ian, tapi setelah Ian memandang Ervan dengan tatapan tajamnya. Ervan menarik niatnya untuk menawarkan dagangannya.
Ervan hanya berdiri dan menundukkan kepalanya. Ian yang melihat itupun menghela napasnya.
"Ada apa?" tanya Ian yang sekarang tatapannya fokus ke handphone kembali.
Ervan yang mendengar ucapan itu, mulai menatap Ian. "Kakak beli ini yuk, ini murah. Semua murah ehehehhe," jawab Ervan dengan nada riang. Melupakan bahwa tadi ia sempat merasa takut terhadap Ian.
Ian yang mendengar tawaran itu, langsung mengarahkan pandangannya ke Ervan. Jika dilihat lihat Ervan lucu juga. Manis. Pikir Ian dalam hatinya.
Ervan membalas tatapan Ian dengan senyum manisnya. Yaa memang senyumannya itu dapat mengalihkan dunia kalian ahhahahah.
Ian sempat merasa terpana. Jarang jarang dia memuji orang lain. Karena setiap hari dirinya lah yang selalu dipuji orang. "Ya, gua beli semuanya. "
Sontak Ervan melebarkan matanya dan mulutnya membentuk huruf O. "INI BENERAN KAKAK? TERIMAKASIH KAKAK TAMPAN," teriakan penuh semangat dari Ervan menandakan ia sangat teramat senang. Melompat lompat sambil tersenyum.
Pemandangan yang indah bagi Ian. Ingin mempunyai adik seperti Ervan. Pasti hidupnya lebih berwarna jika mempunyai adik seperti Ervan.
Memikirkan hal tersebut, membuat Ian tersenyum miring. Sekelebat ide muncul di kepalanya.
Kenapa tidak menyuruh daddy untuk menjadikannya adikku.
Ian tersenyum kepada Ervan. "Nama kamu siapa? Aku Ian."
Ervan yang merasa diajak berkenalan, membalas dengan senang. "Namaku Ervan kak Ian. Kakak tampan kalau tersenyum seperti itu. Daripada muka serem kayak tadi."
Ucapan polos yang keluar dari mulut Ervan membuat Ian tersenyum.
"Iya kah? Kalau begitu kakak akan selalu tersenyum kapanpun kamu minta," tawar Ian.
Ervan menganggukkan anggukan kepalanya. Dia memberikan dagangannya kepada Ian. Ian yang melihat hal tersebut, segera memberi uangnya kepada Ervan.
"Ini banyak banget kak Ian. Ervan gak punya kembalian." Adu Ervan kepada Ian. Karena Ian memberikannya uang seratus ribunya banyak.
"Ambil saja. Rumahmu dimana. Biar kakak antar," ajak Ian. Melihat sopirnya sudah menjemputnya. Ia menawari Ervan untuk pulang bersama. Hitung hitung Ian tau dimana letak rumah adik kesayangannya. Tak ingin cepat cepat berpisah dengan adiknya.
"Gak usah kak Ian. Ervan jalan kaki saja. Rumah Ervan gak jauh kok," tolak Ervan dengan lembut. Takut jika ucapannya menyinggung Ian.
Ian yang mendengar penolakan tersebut seketika merubah mukanya menjadi datar. Ian tidak pernah mendapatkan penolakan sebelumnya. Tapi hari ini. Dia mendapat penolakan dari adik kesayangannya? Adik yang baru ia klaim.
"Hmm, setuju atau tidak. Kamu tetep kakak antar." Tegas Ian sambil menatap Ervan dengan tatapan tajamnya. Agar Ervan tau kalo ucapannya itu tidak main main.
Ervan yang mendapat tatapan tajam lagi dari Ian hanya menganggukkan kepalanya dengan pasrah. Takut jika Ian marah. Ya udah. Hitung hitung tidak merasa lelah untuk pulang ke rumahnya. Sebenarnya rumahnya jauh dari tempat ini.