27

62.4K 3.3K 51
                                        

"Ervan beneran  marah? " Tanya Steve dengan lirih

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ervan beneran  marah? " Tanya Steve dengan lirih.

Steve menatap adik-adiknya yang mengangguk lesu. Saat ini ia, Kenzie, Gio dan Ian sedang duduk di ruangan tengah. Varrel dan Ansel belum pulang.

Steve tidak tau jika perbuatan keluarganya tadi pagi akan berdampak seperti sekarang.

Hey, mereka hanya menyetujui, bukan yang mengusulkan. Kenapa Ervan marah pada mereka. Sedangkan dengan para orang tua. Tidak.

"Sialan. " Desis Ian dengan mengacak kasar surai miliknya.

Adiknya marah padanya? Ian baru tau jika Ervan bisa merajuk. Baru pertama kali Ervan merajuk padanya dan itu sangat sangat tidak mengenakkan.

Diajak bicara, tidak mau. Malah melengos pergi. Dibelikan sesuatu, diterima, tapi langsung pergi lagi tanpa mengucapkan satu kata pun.

Kata neneknya dan mamanya itu karena kejadian tadi pagi.

"Kita harus apa? " Tanya Gio dengan sorot mata dingin. Kesabarannya sedang di uji saat ini. Sebisa mungkin ia menahannya tatkala rasa emosinya membuncah ketika Ervan mengabaikannya. Gio tidak suka.

"Kita tunggu kak Ansel sama kak Varrel. " Usul Kenzie dengan wajah datar. Ternyata adik yang begitu imut lucu seperti Ervan, bisa marah juga ya. Bukan mau melarang Ervan marah kepada mereka. Tapi mereka tidak suka jika Ervan marah. Jadi mereka harus membujuk? Atau bagaimana?

Suara derap langkah kaki memasuki mansion. Itu adalah Axton dan Aric yang baru pulang kerja.


"Kenapa wajah kalian? Seperti tidak bersemangat. " Tanya Axton yang kebetulan melewati ruang tengah. Di ikuti oleh Aric.

Belum sempat salah satu dari mereka menjawab pertanyaan Axton. Suara teriakan dari arah yang berlawanan mengalun menyerukan panggilan untuk Axton dan Aric.

Itu Ervan, ia berjalan dengan cepat. Tidak lari, tapi jalan dengan cepat karena ada keluarganya.

Aric langsung menggendong Ervan. Ervan tertawa senang saat digendong oleh Aric. Menumpukan pipinya ke pundak kokoh milik papanya.

"Papa, Ervan barusan mencicipi bolu buatan mama. Enak. Papa harus mencobanya. Ayo ayo pa. " Ajak Ervan dengan antusiasnya.

"Ayo. Papa tidak sabar. " Jawab Aric. Segera melenggang pergi dengan Ervan yang berada di gendongannya. Melihat Ervan yang belepotan karena habis makan bolu, ia semakin yakin jika bolu buatan istrinya itu enak.

Ervan [End🤎]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang