Setiap orang berhak bahagia, meskipun harus melewati hal yang tidak menyenangkan untuk menuju kebahagiaan. Tak terkecuali Ervan.
Seorang anak kecil laki laki yang polos dan penurut. Hidup penuh dengan penderitaan bahkan untuk merasakan kebahagiaan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sepertinya kakak-kakaknya Ervan sedang menunggu jawaban dari Ervan mengenai anak tadi. Duh, Ervan jadi merasa bersalah karena telah mengadu.
"Siapa?" tanya Ian saat Ervan belum menjawab sama sekali.
"Bukan siapa-siapa," elak Ervan mencoba tidak peduli dengan pertanyaan dari kakak-kakaknya. Kasihan juga jika teman Ervan itu kena amukan kakak-kakaknya.
"Ervan, beritahu kami. Daddy juga ingin tau," ucap Axton dengan nada dinginnya. Mendengar anaknya dikatai seperti itu, tentu ia tak terima.
Berani sekali anak itu berbuat seperti itu pada bungsu Orlando. Apalagi diajak membolos. Berani sekali. Lihat saja jika Axton tau marga anak-anak itu, Axton akan memberi mereka pelajaran.
Axton bukan sosok orang tua yang sabar dan menerima perilaku orang lain pada anaknya.
"Daddy ingin tau juga?" tanya Ervan dengan polos. Sebenarnya saat ini ia sedang mengulur waktu. Ia berharap setelah ini ada topik baru.
"Kami semua ingin tau Ervan, kakek juga ingin tau anaknya," geram Aaron pada cucu lucunya itu.
"Hehehe." Ervan tertawa canggung. Masalahnya ia juga lupa nama anak itu. Beneran. Karena Ervan juga jarang berinteraksi dengan mereka. Asik Niko saja. Dan juga teman yang duduk di depannya. Itu saja. Apalagi Ervan juga jarang masuk. Jika tidak karena sakit, ya kena hukuman.
"Ervan lupa namanya," jawab Ervan dengan santai. Dan jawaban Ervan mengundang tatapan dingin dari semua keluarganya.
"Ervan, jangan main-main," desis Ansel dengan tangan terkepal di atas meja.
"Beneran. Soalnya Ervan suka main sama Niko. Jadi gak inget nama temen Ervan itu." Ervan mencoba meyakinkan keluarganya.
"Ya sudah, tidak apa apa jika tidak tau," ucap Aric dengan santai.
Ervan lega mendengarnya. Tapi semuanya tidak. Bahkan Axton menatap tajam kakaknya itu.
"Apa maksudmu?" tanya Axton dengan geraman tertahan. Jawaban kakaknya itu seperti tak masalah dengan anak yang dimaksud Ervan.
Ervan anaknya, dan ia tidak akan membiarkan masalah ini selesai begitu saja.
"Tak apa jika Ervan tidak tau. Jangan memaksanya, kasihan Ervan." Aric sama sekali tak merasa terintimidasi oleh tatapan semuanya. Termasuk tatapan Axton padanya. Adiknya itu memang suka emosi, tak jauh berbeda dengan anak-anaknya.
"Kita masih bisa meminta rekaman CCTV nya, iya kan?" sambung Aric mulai mengedarkan tatapan datarnya seraya menyunggingkan seringai liciknya.
Keluarganya ini bodoh atau bagaimana. Ada jalan yang gampang, malah memilih jalan yang buntu. Tinggal meminta rekaman CCTV, sudah beres. Tak bisa mendapat info nama anak itu, setidaknya bisa mengetahui rupa anak anak itu. Itu lebih enak.