11

87.1K 4.4K 26
                                        

Ansel melangkah mendekati Ervan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ansel melangkah mendekati Ervan. Tanpa aba-aba, ia menggendong Ervan dan membawanya duduk di pangkuannya menghadap meja makan.

"Makan," perintah Ansel tanpa basa basi. Memerintahkan Ervan untuk makan.

Ervan menatap makanan yang ada di depannya. Banyak sekali. Satu pun makanan tersebut tidak pernah Ervan rasakan.

Dulu, ketika ibunya membeli makanan yang enak. Selalu dimakan sendiri. Sedangkan ia? Ia memakan makanan yang seadanya. Kata ibunya, jika membeli makanan yang banyak, uangnya tidak cukup. Ervan mengiyakan saja. Toh yang penting bisa makan.

Freya mengambilkan ayam bakar untuk Ervan, meletakkan itu di piringnya. "Makan sayang, jika ingin ambil lagi, ambilah!" ujar mommy.

"Terimakasih mommy," cicit Ervan. Tidak pernah Ervan merasakan suasana makan bersama, dan ada yang mengambilkan makanan untuknya. Baru kali ini merasakan suasana seperti ini. Ervan cukup senang, meskipun masih canggung dengan keluarga Ian.

Semua orang memulai acara makanannya. Semua sibuk dengan makanannya masing masing. Ansel makan dengan tenang. Dengan Ervan yang berada di pangkuannya tidak membuat ia kesulitan.

Ervan menatap Ian sedari tadi. Dia ingin duduk di sebelah Ian. Bukan maksud Ervan tidak suka jika bersama Ansel. Tetapi saat ini Ian lah yang paling dekat dengan dirinya.

Merasa diperhatikan oleh seseorang, Ian mengalihkan tatapannya. Ternyata Ervan sedang menatap dirinya. Dengan mata bulat yang memancarkan harapan, mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali. Mulut yang mengatup. Seakan akan mencari perhatian pada Ian.

Ian merespon tatapan itu dengan menaikan alisnya, pertanda menanyakan sesuatu. Dalam hati Ian merasa gemas dengan tingkah adiknya. Beberapa kali dibuat gemas dengan tingkahnya. Tak bosan bosan dengan tingkah Ervan tersebut.

"Ervan, ada apa? Kenapa tidak dimakan?" tanya Gio yang berada di sebelahnya. Menatap piring Ervan. Makanannya masih utuh. Tangannya memang memegang sendok, tetapi tidak segera menyendokkan makanannya.

Pertanyaan Gio itu membuat atensi Axton -daddy- mengarah ke Ervan.

"Apakah makanannya tidak enak?" tanya Axton dengan suara baritonya.

Jika memang masakan tersebut membuat Ervan tidak berselera makan. Tidak segan segan ia akan memecat koki yang membuat menu ini. Kenyamanan keluarga adalah hal utama.

Ervan menggeleng dengan cepat. Bukan! Bukan itu yang dia maksud.

"Ervan suka, tapi..," ucap Ervan yang menggantungkan ucapannya. Ragu ingin mengatakannya.


"Tapi?" tanya mommy memastikan. Tubuh Ervan itu kurus dan kecil. Ervan harus makan yang banyak. Freya akan mengatur pola makan Ervan. Pasti ibunya tidak pernah memperhatikan itu. Bagi Freya, itu hal yang sangat penting.



Ervan [End🤎]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang