Setiap orang berhak bahagia, meskipun harus melewati hal yang tidak menyenangkan untuk menuju kebahagiaan. Tak terkecuali Ervan.
Seorang anak kecil laki laki yang polos dan penurut. Hidup penuh dengan penderitaan bahkan untuk merasakan kebahagiaan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tahu kesalahanmu?" Pertanyaan dengan suara dingin dilontarkan oleh Axton, sang kepala keluarga. Berhubung semuanya sudah berkumpul, sekarang waktu yang pas untuk menghakimi Ervan.
Ervan menganggukan kepalanya, pandangannya menatap ke bawah. Menghindari tatapan –tatapan tajam terutama dari tiga kakaknya. Duduk di sebelah Freya, mengelus lengannya dan mengerucutkan bibirnya. Itulah yang Ervan lakukan saat ini.
"Angkat pandanganmu Ervan." Perintah Gio. Ervan seperti lari dari kenyataan.
Mendengar perintah Gio, Ervan langsung mengangkat pandangannya. Menatap keluarganya dengan tatapan polos. Ian memalingkan mukanya ke samping, tidak tahan dengan raut muka Ervan yang polos menggemaskan. Lihatlah muka adiknya, seperti sedang tidak melakukan kesalahan.
"Ervan makan biskuit mommy tanpa izin," sesal Ervan.
Sepertinya Ervan salah tangkap permasalahan ini. Bukan itu permasalahannya. Untuk tidak membuatnya salah paham. Freya segera menjelaskannya pada Ervan.
"Hey, mommy tidak mempermasalahkan jika kamu ingin biskuit itu tanpa perizinan mommy," ucap Freya memberi pengertian pada Ervan. "Mommy hanya tidak suka ketika kamu berbohong. Kamu ingat kan?Apa yang kamu katakan pada maid itu?" sambung Freya mengingatkan Ervan tentang pembicaraan Ervan dengan maid yang ia suruh.
Maid sudah menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Dan maid itu meminta maaf karena tidak bias mencegah Ervan. Memang yang bersalah di sini adalah Ervan. Jika Ervan tidak diberi ketegasan tentang sikapnya tadi. Bisa jadi Ervan keterusan. Tidak cocok dengan sifat Ervan yang polos.
Ervan memasang raut muka berpikir. Ketika ia teringat kejadian itu, matanya langsung melebar.
"Owh itu, itu semua gara gara biskuit coklat itu, biskuitnya ngerayu Ervan biar dimakan sama Ervan. Terus Ervan tergoda deh. Ya udah Ervan makan. Biskuitnya seneng kalau Ervan memakannya. Ervan sampai lupa mengantarkan biskuit itu ke mommy," jawab Ervan di luar nalar.
Semua orang tercengang mendengar jawaban Ervan. Apalagi Freya menatap tidak percaya dengan jawaban Ervan.
"Biskuit yang senang atau Ervannya yang senang?" tanya Danita dengan tawa kecilnya.
Jawaban Ervan sangat menghibur dirinya. Suasana tegang yang menyelimuti ruangan ini langsung hilang karena jawaban Ervan yang di luar nalar. Cucunya selain mukanya yang polos, ucapannya pun juga sangat polos.
Axton memijat pelan pelipisnya, ia pusing dengan jawaban Ervan. Mau memarahi pun tak tega. Lihatlah Ervan, tidak menghiraukan tatapan tajamnya. Ervan malah ikut tertawa ketika melihat neneknya yang tertawa mendengar jawabannya.