Setiap orang berhak bahagia, meskipun harus melewati hal yang tidak menyenangkan untuk menuju kebahagiaan. Tak terkecuali Ervan.
Seorang anak kecil laki laki yang polos dan penurut. Hidup penuh dengan penderitaan bahkan untuk merasakan kebahagiaan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aric menyesap kopi panas yang baru saja diantar oleh office boy. Sekarang Aric dan Steve sudah berada di kantor milik keluarga. Dalam ruangan itu ada Aaron, Axton dan Ansel.
"Bagaimana kabarmu Ric?" Aaron menanyakan kabar ke anaknya.
"Biasa saja." Jawab Aric dengan wajah bosan menatap Aaron yang berada di depannya. Saat ini mereka duduk saling berhadapan dan terhalang meja di tengah-tengah mereka.
Aric bersebelahan dengan Steve anaknya, Axton duduk di kursi besarnya, ia sedang mengerjakan pekerjaannya. Dan Ansel duduk di sebelah Aaron.
"Kapan kalian sampai?" Tanya Ansel basa basi.
"Beberapa jam yang lalu." Jawab Steve dengan menumpukan tangannya di sandaran sofa.
Aric membicarakan tentang bisnis keluarganya bersama Aaron, sesekali Axton menimpalinya. Meskipun banyak nyimaknya. Ansel sibuk dengan handphonenya, sepertinya ia sedang melihat foto atau sedang menonton video. Karena Ansel sesekali tersenyum kecil memandang handphonenya. Tidak biasanya.
Steve menatap heran ke arah Ansel, saudaranya itu tidak apa-apa kan? Karena kepribadian Ansel yang sekarang ia lihat, sangat berbeda dengan yang dulu. Steve bahkan hampir tidak pernah melihat Ansel yang sibuk bermain dengan handphonenya apalagi dengan senyuman tipis itu, Ansel yang ia kenal adalah seorang yang gila kerja. Selalu membawa laptopnya kemana-mana.
Mau bertanya ke Ansel pun ia segan.
Axton berjalan menghampiri ayah dan kakaknya. Menduduki sofa yang kosong.
"Kalian sudah bertemu anak bungsuku?" Tanya Axton.
Aric dan Steve menganggukkan kepala. Ansel yang merasa perbincangan ini mengenai Ervan, segera mencampakkan handphonenya meskipun handphone itu sedang menayangkan video tentang Ervan. Ia harus ikut campur dengan sesuatu hal yang mengenai adiknya. Apapun itu.
"Hm, Ervan anak yang polos dan menggemaskan. Sepertinya ia anaknya penakut dan pemalu. " Tutur Aric, menjelaskan tanggapannya mengenai Ervan.
Axton terkekeh, anaknya memang polos dan menggemaskan. Apalagi jika anaknya dalam mode pemalu, pipinya pasti bersemu merah. Axton jadi ingin pulang dengan cepat.
"Sudah berapa kali Ervan dihukum?" Steve bertanya dengan tatapan datar. Ia harus mengetahui tentang Ervan.
Ansel menyeringai tipis, dihukum ya? Ansel berjanji jika Ervan melakukan hal seperti itu lagi. Dengan senang hati Ansel langsung menghukumnya. Adiknya harus terbiasa dengan beberapa kekangan yang keluarganya berikan padanya. Semakin banyak anggota keluarga, maka semakin banyak kekangan kekangan dari setiap keluarga.