Setiap orang berhak bahagia, meskipun harus melewati hal yang tidak menyenangkan untuk menuju kebahagiaan. Tak terkecuali Ervan.
Seorang anak kecil laki laki yang polos dan penurut. Hidup penuh dengan penderitaan bahkan untuk merasakan kebahagiaan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gio sedang duduk di kursi, tepat di sebelah ranjang pasien yang di tempati Ervan. Menatap tak percaya, yang sedang berbaring di ranjang pasien itu Ervan. Adik yang diklaim Ian dan anak kesayangan mommynya.
Bagaimana jika Ian tau kabar ini? Saat ini ia belum mengabari Ian. Pasti anak itu sedang sekolah. Seharusnya Gio hari ini juga bersekolah. Tetapi mendengar salah satu temannya di rumah sakit, membuat Gio dan teman-temannya membolos sekolah.
"Ekhem, Gio. Lo kenal dia?" tanya Lio memastikan.
Gio yang mendengar pertanyaan Lio, segera menghampirinya. Mencengkram kerah seragam Lio dan menatapnya tajam.
"Lo apain Ervan?" sarkas Gio yang semakin mencengkram kuat kerah seragam Lio.
Bagas, Ega dan Nino yang melihat Gio menatap penuh emosi kepada Lio segera menghampiri mereka dan melerainya.
"Eits, tenang bro. " Lerai Bagas sambil berusaha melepaskan cengkraman Gio dari Lio.
"Ini rumah sakit, Jangan membuat kegaduhan!" nasihat Ega. Lio yang dicengkram kuat oleh Gio segera menjelaskan kejadian tadi pagi.
"Beneran gua gak ngapa-ngapain dia. Tadi anak itu tiba tiba nyebrang tanpa noleh kanan kiri. Gua rem mendadak, enggak sampai mengenai anak itu. Anak itu hanya shock dan sepertinya dia sedang sakit," jelas Lio dengan takut.
Selama ini Lio berusaha untuk tidak membuat masalah dengan Gio. Karena jika Gio marah, apapun akan dia lakukan asal emosinya mereda.
Mendengar penjelasan Lio, Gio perlahan melepaskan cengkraman tersebut. Dan kembali memasang raut muka datar.
"Emm," gumam Ervan yang sudah mulai sadar. Mengerjapkan matanya sedikit demi sedikit. Perlahan matanya mulai terbuka. Gio yang melihat Ervan sudah sadar, segera menghampiri dan menanyakan keadaannya.
"Kau sudah bangun? Apakah ada yang sakit? " Tanya Gio sambil mengelus rambut Ervan dengan lembut. Ervan menggelengkan kepalanya sebagai respon dari pertanyaan Gio.
Hening beberapa saat. Ervan yang sudah sepenuhnya sadar, memandang Gio dan teman-temannya. Ervan merasa asing dengan mereka.
"Siapa?" tanya Ervan dengan nada lemah.
Teman-teman Gio hanya diam. Membiarkan Gio yang berbicara dengan Ervan. Karena hanya Gio yang mengenal Ervan, ya meskipun Ervan tak mengenal Gio.