Setiap orang berhak bahagia, meskipun harus melewati hal yang tidak menyenangkan untuk menuju kebahagiaan. Tak terkecuali Ervan.
Seorang anak kecil laki laki yang polos dan penurut. Hidup penuh dengan penderitaan bahkan untuk merasakan kebahagiaan...
Hai Erpan balik lagi. Terima kasih untuk 2 juta pembaca💗💗💗 Sayang banget ama kalian☹️☝
Kasih kesan pesan dong selama baca cerita Erpan. Hehe☺☺☺☺
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Extra part : 1 [Sebuah rencana]
Terik matahari mulai menyorot celah-celah jendela kamar milik seorang anak berusia 13 tahun yang masih terlelap di acara tidurnya.
Masuknya cahaya-cahaya itu karena seseorang telah membuka gorden kamar tersebut. Freya lah yang membukanya. Freya membiarkan cahaya menerangi kamar ini, dengan begitu anaknya akan cepat bangun.
Tapi menunggu beberapa menit setelahnya, Ervan tidak kunjung bangun. Bahkan terdengar gumaman yang terlihat begitu menikmati acara tidurnya.
Tidak apa-apa sih sebenarnya jika Ervan bangun siang, kan sudah tidak sekolah lagi. Guru privat Ervan pun nanti siang datangnya. Itu pun atas permintaan Ervan, katanya tidak ingin belajar pagi-pagi. Entah apa alasannya, yang penting Ervan tidak memberontak dengan keputusan saat ini. Ya, seminggu berlalu dan Ervan sudah mulai menerima kenyataan hidupnya. Bagus kalau begitu.
Ceklek!
Pintu terbuka dan masuk lah Ian dengan seragam yang membalut tubuhnya. Arah pandangnya langsung terpaku pada adiknya yang masih tertidur nyenyak.
“Ternyata masih tidur, Ian dan yang lain nungguin dari tadi,” ucap Ian mulai memasuki kamar Ervan. Ini lah salah satu alasan kenapa Ervan harus bangun pagi. Selain Ervan harus tetap mengikuti acara sarapan, keluarga yang lain ingin bersama Ervan sebelum mereka memulai aktivitas mereka. Jika Ervan tidak hadir, bisa-bisa mood mereka yang jadi ancamannya.
Intinya ada Ervan, ada semangat dalam menjalani aktivitas mereka.
“Ya, terlihat lelap sekali,” balas Freya sembari mengelus lembut surai Ervan. Dengan apa yang Freya lakukan pada Ervan, semakin membuat Ervan nyenyak dalam tidurnya. Tubuh Ervan mulai bergerak sedikit. Mata itu masih terpejam, tapi mulutnya tiba-tiba manyun.
Freya dan Ian mengulum bibir mereka sendiri lantaran gemas dengan apa yang Ervan lakukan.
Ian yang tidak tahan dengan ekspresi Ervan segera mengulurkan tangannya untuk mengapit pipi chubby Ervan. Membuat mulut Ervan semakin mengerucut lucu. Akibat perlakuan Ian tadi, Ervan mulai merasa terganggu dengan tidurnya. Matanya mulai mengerjap-ngerjap. Lenguhan mulai keluar dari bibir mungilnya.
Melihat adiknya mulai bangun, Ian menjauhkan tangannya sebelum terkena semprotan amarah dari adiknya. Mata Ervan mulai terbuka. Bola matanya menatap bergantian mommy dan kakaknya. Ervan tidak kunjung duduk dari tidurnya, Ervan malah menarik selimut sampai setinggi lehernya dan salah satu tangannya menggaruk pipi chubbynya. Ekspresi kebingungan tercetak jelas sekali di raut mukanya.