Setiap orang berhak bahagia, meskipun harus melewati hal yang tidak menyenangkan untuk menuju kebahagiaan. Tak terkecuali Ervan.
Seorang anak kecil laki laki yang polos dan penurut. Hidup penuh dengan penderitaan bahkan untuk merasakan kebahagiaan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Banyak sekali mobil yang memasuki kawasan Orlando. Itu adalah rombongan bodyguard yang dikerahkan oleh Axton untuk mencari Ervan. Di antara mobil itu tentu ada mobil Varrel. Beberapa bodyguard keluar dari mobilnya. Setelah itu Varrel juga keluar dari mobilnya.
Jika bukan karena panggilan dari papanya untuk segera kembali, mungkin Varrel tetap akan melanjutkan pencarian adiknya. Sial, bahkan ia pun belum menemukan keberadaan adiknya.
Saat Varrel berjalan menuju ke dalam mansion, bodyguard-bodyguard itu seketika menundukkan kepalanya. Memberi hormat pada Varrel. Aura Varrel begitu mendominasi situasi saat ini. Meskipun tubuh bodyguard lebih kekar, tapi aura Varrel tak terkalahkan.
Sepertinya tinggal ia saja yang belum bergabung, buktinya sepeda motor milik adik-adiknya sudah terparkir bebas di depan mansion. Tidak puas rasanya jika belum menemukan Ervan.
Varrel langsung memasuki ruangan yang dimaksud oleh papanya saat di sambungan telepon. Tanpa mengistirahatkan tubuhnya, ia langsung masuk ke ruangan itu, dimana terdapat tiga orang asing di sini. Maid itu, perempuan itu, dan seorang anak kecil.
…..
Selia tak henti-hentinya merapalkan doa supaya masalah ini cepat selesai. Siapa sangka jika ia akan berada di tengah-tengah ruangan yang berisi para keluarga bermarga Orlando ini. Bahkan di sana ada seorang perempuan juga dengan keadaan terikat, tubuhnya penuh luka memar. Selia bergidik ngeri.
Ceklek!
Pintu ruangan ini terbuka. Masuk lah Varrel dengan aura gelapnya yang masih memancar. Tidak ada lelahnya si Varrel itu. Kembali dari luar negeri langsung pergi mencari Ervan, sampai sekarang ketika sampai di mansion, ia langsung menuju ke ruangan ini.
“Jadi?” tanya Varrel pada keluarganya mengenai langkah selanjutnya.
Selia semakin merasa tersudutkan karena kedatangan Varrel. Hawa dingin di sini begitu menusuk kulitnya, ia tidak tahan dengan situasi saat ini.
“Tolong maafkan saya nyonya, tuan. Saya tidak bermaksud. Saya berniat baik untuk mengantarkan Ervan pulang dengan cepat. Ternyata saya salah menyerahkan Ervan,” ucap Selia menyesali keputusannya yang terburu-buru.
Memang penyesalan selalu datang di akhir.
Mereka semua sudah dijelaskan oleh Selia. Di mulai dari bertemu dengan Ervan sampai ke hal bodoh yang ia putuskan. Selia ingat saat itu para kakak Ervan bersiap untuk menghabisinya ketika ia selesai menjelaskannya. Patut lah mereka emosi. Di saat mereka bersikeras mencari Ervan di seluruh penjuru kota ini, ia dengan mudahnya menyerahkan Ervan ke musuh. Untung ada nyonya Orlando yang menjaga dirinya dari amukan para pawang Ervan.
Entah apa yang akan terjadi pada nasibnya ketika tidak ada Freya. Bahkan Freya berterimakasih padanya karena sudah membiarkan Ervan menginap di rumahnya. Nyonya Orlando benar-benar baik hati, tidak seperti anak-anaknya, ups.