6

95.7K 5.2K 13
                                        

Ervan melihat Ian yang telah datang melambaikan tangannya dengan semangat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Ervan melihat Ian yang telah datang melambaikan tangannya dengan semangat. Menatap Ian dengan mata yang berbinar.

Gio bangkit dari kursi dan mempersilahkan Ian untuk menempati tempat tersebut. Dan Ian menduduki kursi itu.

"Ervan, kenapa kamu bisa di rumah sakit? Ada yang sakit?" tanya Ian dengan menatap penuh khawatir pada Ervan.

Rencananya nanti sore ia akan mengajak Ervan jalan jalan dan membelanjakan Ervan. Dan pada akhirnya rencana itu hanya sekedar wacana. Mendengar pertanyaan Ian terhadap Ervan. Ervan hanya menggelengkan kepalanya. Seakan-akan menutupi apa yang ia alami.

"Apa ada yang menyakitimu? katakan ervan! jangan diam saja!" bentak Ian kepada Ervan. Ian tak sadar jika ia telah membentak adiknya. Ia hanya terlalu khawatir, dan tak puas dengan jawaban Ervan. Sangat menguji kesabarannya.

Seketika Ervan menundukkan kepalanya dan bibirnya melengkung sedih. Mata yang berbinar sekarang hilang, tergantikan dengan mata yang menyiratkan kesedihan. Tak berani menatap Ian. Baru kali ini Ian membentaknya. Mendapat tatapan tajam dari Ian sudah membuat ia takut, apalagi sekarang dibentak olehnya.

Gio melihat jika Ian terbawa emosi segera menghampirinya dan menenangkannya. Menepuk pundaknya. "Tenang, Ervan juga baru sadar. Jangan membuatnya pusing."

Ian memejamkan matanya sebentar. Kemudian menatap Ervan yang kini masih menundukkan kepala sambil memainkan jarinya.

"Maaf Kak Ian tak bermaksud, aku hanya khawatir," jelas Ian, tak mau adiknya takut terhadapnya. Gio memberikan bubur ke Ian, menyuruhnya untuk segera menyuapi Ervan.

"Suapi Ervan, aku sudah mengabari kejadian ini di grup keluarga. Setelah ini mereka akan datang. Aku akan menjelaskan semuanya," ucap Gio.

Ian menganggukkan kepala, menatap Ervan yang kini sudah tidak menundukkan kepala. "Ervan, kakak suapi ya?"

Ervan menganggukkan kepala dengan pelan. Jujur, Ervan merasa pusing. Tak mau merepotkan Gio dan Ian. Ervan cukup tau diri. Tak ingin terlalu membebani mereka.

"Terima kasih kak Ian," ucap Ervan.
Dengan anteng menerima suapan dari Ian. Sesekali mereka berbincang dan tertawa bersama.

Gio yang duduk di salah satu sofa ruangan itu, menatap keakraban mereka. Menyunggingkan senyum tipis, jarang sekali melihat Ian tertawa puas. Gio tau betul, Ian anaknya tak mudah untuk akrab dengan orang lain. Beruntung sekali Ervan hadir di tengah-tengah keluarga mereka.

Ceklek!

Seseorang membuka pintu ruangan tersebut. Itu mommy daddy dan Kak Ansel. Cukup terkejut jika Ansel datang. Karena kakaknya itu sangat gila kerja.

Mommy menghampiri Ervan dan segera memeluknya. "Ya ampun Ervan apa yang terjadi. Ada yang sakit sayang? Cepat katakan pada mommy."

Ervan segera menjawab pertanyaan mommynya yang kini sudah melepaskan pelukannya. "Ervan baik baik saja tante. " Balas Ervan dengan tenang. Menenangkan mommy Ian agar tidak terlalu khawatir.

"Cih, bohong! Buktinya kamu berada di sini." Kesal Ian. Merasa jika adiknya itu menutupi kejadian yang dialaminya.

Daddy menghampiri ranjang pasien Ervan. Mengelus sebentar rambut Ervan. "Hai Ervan, saya daddy dari Ian."

Ervan segera menjawab. "Halo om. Aku Ervan." Ervan Mengucapkan kata kata itu dengan senyum yang terbit dari bibirnya. Meskipun bibirnya sendikit pucat, tak mengurangi kemanisan dari senyuman tersebut.

Setelah mengucapkan itu. Ervan menatap Ansel. Merasa asing dengan laki laki itu. Semua orang juga menatap Ansel, menuntut untuk segera memperkenalkan dirinya.

Ansel  menyadari tatapan semua orang mengarah padanya. "Ekhem, namaku Ansel. Sulung Orlando," ujar Ansel dengan tatapan datar. Tak ada senyuman atau basa basi.

"Ansel anaknya memang begitu Ervan. Sama seperti daddynya," ucap mommy kepada Ervan.

"Iya tante, Ervan paham. " Ujar Ervan.
Daddy yang merasa namanya diseret dalam percakapan tersebut hanya menghela napas. Tak berani menimpali perkataan istrinya. Biarkanlah.

Merasa jika sekarang waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. "Ekhem, Gio akan menjelaskan apa yang telah terjadi."

Semua orang segera mengalihkan tatapan ke Gio. Siap untuk mendengar apa yang Gio lakukan.

"Lio, temen Gio tadi pagi hampir menabrak Ervan. Untung Lio segera rem mendadak. Jadi tak sampai menabrak Ervan. Ervan pingsan karena shock akan kejadian tersebut dan memang Ervan dalam keadaan sakit. Kata dokter, Ervan juga sepertinya belum sarapan. Berpesan jika jangan membuat Ervan untuk telat makan," jelas Gio. Menjelaskan semua yang telah ia ketahui. Selebihnya biar Ervan sendiri yang menceritakan kejadian sebenarnya.

Setelah mendengar penjelasan dari Gio. Sekarang tatapan semua orang beralih menatap Ervan. "Kenapa kamu bisa telat makan?  kenapa tidak sarapan?" tanya mommy.

"Jelaskan Ervan! Sudah cukup kamu diam dari tadi. Sekarang jelaskan. Jangan membuat kakak marah!" Peringat Ian kepada Ervan.
Sampai kapan adiknya itu diam. Dia kira semua orang tidak khawatir padanya.


"Emm..., " Gumam Ervan. Bingung untuk menjelaskannya. Harus dimulai darimana.

Daddy yang jengah atas terdiamnya Ervan. Segera mengucapkan sesuatu yang dapat membuat Ervan terkejut.

"Apa ka.u tidak diberi makan oleh ibumu?"
ungkap Daddy. Perkataan tersebut membuat semua orang terkejut. Apalagi Ian. Mengepalkan tangannya pertanda ia marah. Bagaimana bisa seorang ibu tidak memikirkan anaknya. Sudah disuruh bekerja, tak diberi makan juga?

"Bagaimana om tau?" tanya Ervan dengan pelan. Masih terkejut akan ucapan Daddynya Ian. Bagaimana bisa tau? Dia bahkan belum menjelaskan sesuatu.

"Saya tau dari asisten saya. Ervan laskara, berumur 13 tahun. Hanya tinggal bersama ibumu. Dan bekerja dari pagi sampai sore atas perintah ibumu. Bahkan ibumu tak pernah memberi perhatian kepadamu. Benar?" ungkap Daddy sejelas-jelasnya.

Ervan menundukkan kepalanya lagi, menghindari tatapan mereka kepadanya. Ervan tak tau harus menanggapi bagaimana lagi. Apakah mereka akan membencinya juga sama seperti ibunya? Atau mereka akan meninggalkan Ervan setelah mendengar informasi dari daddynya Ian.

"Ervan bekerja?" tanya Ansel yang sedari tadi diam. Mencerna perkataan daddynya. Cukup terkejut mendengar informasi dari Daddynya. Tak pernah berpikir jika kehidupan Ervan sungguh menyedihkan. Gio pun juga terkejut. Baru tau jika Ervan bekerja. Dan perilaku ibu Ervan terhadap Ervan. Bagaimana bisa seorang ibu memperlakukan anaknya seperti itu.

Mommy yang mendengarnya sangat sedih. Matanya berair. Tak sanggup mendengar kisah hidup Ervan. Tega sekali ibu Ervan itu. Bagaimana bisa memperlakukan anak selucu Ervan seperti itu.

Sudah cukup Ian menahan emosinya. Ia segera bangkit dari duduknya dan menatap Ervan. Menuntut penjelasan dari Ervan langsung.

"Sekarang katakan dengan sejujurnya Ervan! Kamu dengar kakak? katakan!" Pinta Ian dengan tegas. Tak menerima bantahan apapun. Terserah jika ia dianggap pemaksa. Memang. Ian suka memaksa.

"Tidak apa apa. Katakan dengan sejujurnya. Semua orang disini untuk Ervan. Jangan takut sayang," ucapan penenang mommy pada Ervan. Ervan yang mendengar perkataan itu segera menatap mereka semua secara bergantian.

Ya, memang sudah saatnya ia yang menceritakan kejadian yang sebenarnya. Sempat merasa takut dan tertekan.

Tetapi setelah mendengar kata kata penenang dari mommy Ian. Ervan jadi sedikit tenang. Ia akan menceritakan semuanya. Entah perlakuan mereka terhadapnya akan bagaimana jika ia sudah menjelaskan semuanya. Ervan sudah pasrah. Tidak ingin berharap lebih. Merasakan sakit hati karena harapannya sendiri, Seharusnya ia sudah terbiasa. Ya, Ervan sudah terbiasa.











.......


Ervan [End🤎]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang