Setiap orang berhak bahagia, meskipun harus melewati hal yang tidak menyenangkan untuk menuju kebahagiaan. Tak terkecuali Ervan.
Seorang anak kecil laki laki yang polos dan penurut. Hidup penuh dengan penderitaan bahkan untuk merasakan kebahagiaan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari telah berganti hari. Para bodyguard yang mencari keberadaan Ervan belum menyerahkan hasil laporannya pada tuannya karena mereka belum menemukan keberadaan Ervan.
Kota ini begitu luas. Di kota yang luas ini, sungguh mustahil untuk menemukan dalam jangka waktu yang singkat. Mungkin butuh dua hari atau tiga hari. Atau mungkin hanya satu hari.
Pagi ini di ruang makan tampak sunyi. Tentu saja, permata mereka menghilang, lagi. Adanya Ervan di dalam keluarga ini sangat berpengaruh. Keharmonisan dalam keluarga ini sudah berada di ujung tanduk. Tidak ada yang saling menyapa, bahkan kakak-kakak Ervan bersiap mencari keberadaan adiknya dan memilih tidak berangkat ke sekolah.
Begitu pun dengan Axton dan Ansel, mereka berdua tidak pergi ke perusahaan. Sudah ada sekretaris mereka yang meng-handle nya. Sekarang yang terpenting adalah menemukan permata mereka dulu. Anak nakal yang suka kabur dari mereka.
Banyak rencana yang belum mereka laksanakan. Saat mereka sudah mendapatkan Ervan, baru keluarga ini akan membalas perkataan-perkataan mereka yang menghina permata keluarga Orlando, meskipun itu keluarga Bratajaya yang selalu dijaga kehormatannya. Kini tidak lagi. Bahkan Ansel langsung membatalkan kerja samanya dengan Azka.
Tidak peduli dengan kerugian yang besar, ia sudah tidak bisa untuk menjalin kerja sama dengan keturunan Bratajaya itu. Mereka biasanya jika bertemu akan membahas mengenai kerja sama, itu dulu. Nanti jika ia dan Azka bertemu, tanpa banyak bicara ia akan kembali menghajar Azka. Rasanya tidak puas ketika kemarin menghajar Azka.
Berani sekali mulutnya menghina adik kesayangannya. Ervan tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu. Adiknya lebih berharga, bahkan lebih berharga daripada nyawa Azka.
“Kalian akan mencari Ervan sekarang?” tanya Freya pada anak dan keponakannya yang sudah siap dan akan beranjak.
“Ya mom,” balas Kenzie. Ia pun juga akan mencari adiknya. Rasanya mengandalkan bodyguard saja tidak cukup. Mereka juga harus ikut turun tangan.
Axton tidak menjawab. Daripada menjawab pertanyaan istrinya, ia malah mengambil handphonenya dan menekan kontak yang akan ia hubungi.
Setelah itu salah satu tangan kekar nan berurat milik Axton mendekatkan handphone itu di dekat telinganya. Tidak lama sambungan itu langsung terhubung.
“.....”
"Sudah melakukan tugasmu?" ucap Axton pada seseorang yang berada di seberang.
“......”
“Hm, kerja bagus. Pastikan semua orang tau,” ucap Axton lagi. Tepat setelah ia mengucapkan itu, Axton langsung mematikan teleponnya.
"Ada apa dad?" tanya Ansel dengan wajah datarnya. Ia sudah siap untuk mencari adiknya yang nakal, dan sekarang pergerakannya diberhentikan oleh daddy nya. Apakah Axton tidak tau jika ia sedari malam ingin sekali mencari adiknya.