CHAPTER 45 (THE ENEMY'S PLAN)

88 8 0
                                        

Seorang pemuda terlihat berada dalam sebuah tabung kaca dengan seluruh badan yang terpasang oleh selang. Tubuhnya tak lagi utuh, sebagian besar sudah tergantikan oleh potongan besi. Derap langkah kaki mendekat ke arah kapsul itu. Seorang dokter dengan perawakan tubuh gendut tanpa rambut mendekat ke arah tabung kaca itu. Yup, siapa lagi kalau bukan Dokter Rudolf.

Dokter Rudolf terkekeh pelan. Seakan tawa itu adalah sebuah tawa bahagia akan ciptaan barunya yang sudah berhasil dia kembangkan. "Aku tidak sabar mengeluarkanmu dari sini. Agar kau bisa reuni bersama dengan mereka."

Dokter Rudolf berjalan ke arah monitor di ruangan itu. Matanya mulai fokus pada laporan status perkembangan umano itu. "Sepertinya kau sudah cukup stabil. Hanya saja... tsk! Dasar kenapa kakimu jelek sekali sih?! Ah, tidak masalah. Aku akan menggantinya dengan yang lebih baik. Agar kakimu bisa terpasang pada hoverboard yang khusus kubuatkan untuk menempel pada kakimu. Hahaha!!"

Tawa yang baru saja menggema itu terdengar di ruangan sunyi itu, tergantikan dengan suara batuk Dokter Rudolf.

"Dokter maaf mengganggu waktumu, tapi aku ada berita buruk!", Dokter Rafael masuk dengan langkah tergesa.

"Uhuk-akh dadaku! Sialan! Tidak bisakah kau tidak mengagetkan aku dengan dobrakan pintumu, hah!!"

"Maafkan saya, dokter. Tapi saya ada berita buruk. Mereka berhasil mengambil semua uniquer yang akan dikirimkan ke markas . Begitu juga dengan uniquer yang akan dikirim ke pangkal militer."

"Bodoh! Dasar tidak berguna! Apa gunanya aku membayar mahal para petugas itu!", Dokter Rudolf sedang meluapkan semua amarahnya karena tidak berhasil menjaga para uniquer sampai pada tujuannya. Dokter botak itu melempar semua barang yang ada di atas meja.

Dokter Rafael hanya bisa menutup matanya sambil menghela nafas lelah dengan perilaku atasannya itu. "Yang mereka lawan itu uniquer, bodoh! Dan kau hanya membayar para petugas itu yang notabenenya adalah manusia biasa! Mana bisa sebanding?!", umpat Dokter Rafael dalam hati.

"Cukup. sebaiknya kau diam daripada menimbulkan polusi suara.", seorang pria paruh baya tiba-tiba muncul dari belakang Dokter Rudolf.

"Tuan?! Apa yang anda lakukan di sini?", Dokter Rudolf seketika terkejut melihat kedatangannya. Pria itu hanya mengangkat sebelah alisnya menatap Dokter Rudolf.

"Tentu saja membereskan seluruh kekacauanmu. Sudahlah, jika mereka berhasil merebut uniquer itu biarkan saja. Walaupun kau membuat umano terkuat sekalipun, kau tidak akan bisa mengalahkan mereka, apalagi si kembar.

"Lalu apa yang harus kita lakukan, tuan?", tanya Dokter Rudolf

"Otakmu... hanya pintar bereksperimen, tapi tidak dengan membuat strategi.", pria itu hanya mendengus lelah melihat Dokter Rudolf yang tidak bisa berpikir.

"Aku tidak bilang kita tidak bisa mengalahkan mereka. Jika mereka masih bersatu, tidak akan ada yang bisa mengalahkan mereka. Ditambah kelima pemuda itu sudah semakin kuat. Aku membutuhkan kelima pemuda itu untuk membuka segel di pulau itu."

"Maksud, tuan? Aku tidak paham.", pria paruh baya itu merotasikan matanya lelah. Jika saja dia tidak membutuhkan otak dokter gendut itu, sudah dipastikan Rudolf hanya tinggal nama.

"Kita harus membuat mereka terpecah belah, kalau perlu mereka saling serang. Setidaknya itu memudahkan kita untuk menghemat kekuatan, jika mereka sendiri yang menghancurkan satu sama lain. Karena, selama mereka bersatu. Sekuat apapun kita, tetap tidak bisa mengalahkan si kembar, apalagi dia berhasil membawa 5 uniquer itu karena kebodohanmu!", Dokter Rudolf hanya bisa menunduk takut.

"Äpakah tuan punya rencana?", Dokter Rudolf memberanikan diri bertanya sekali lagi.

"Tentu saja. Kau pikir aku sepertimu yang tidak memiliki rencana cadangan?". Pria itu menjentikkan jari seketika muncul dua orang yang seakan jatuh dari langit. Rudolf melihat kedua orang itu terkejut, ternyata tuannya itu membawa Nana dan Raul. Bersamaan dengan itu beberapa petugas juga ikut masuk untuk berjaga, sesuai dengan perintah Dokter Rafael. Setelah dia mendapat kode dari Dokter Rudolf.

"Apa hubungannya dengan mereka berdua, tuan?"

"Sebaiknya kau tutup mulutmu, gendut! Tidak usah banyak bertanya, atau aku akan membuatmu menjadi nama di atas batu nisan!", habis sudah kesabarannya menghadapi manusia gendut seperti Rudolf.

"Apa yang kalian mau?!", Raul menatap tajam pria paruh baya di depannya itu sambil memeluk Nana yang sudah tidak sadarkan diri. Jujur saja dia sama sekali tidak mengenali pria itu. Bukankah semua dalang dari eksperimen ini adalah Dokter Rudolf? Kenapa sepertinya dokter gendut itu terlihat ketakutan dan segan pada pria asing itu?

"Yang aku mau? Mudah, kekuatan istrimu. Hahaha!!", kata pria asing itu.

"Tidak! Jangan! Jangan coba-coba menyakiti istriku!", teriak Raul saat dia melihat tubuh Nana yang sudah tidak sadarkan diri terangkat ke udara.

"Tidak melakukan apa-apa tenang saja, aku hanya membutuhkan kekuatannya, jadi kuambil ya.", jawab pria itu dengan santai.

Seketika teriakan Nana menggema di seluruh ruangan, tubuhnya terasa tercabik dari dalam, seakan ditarik paksa dari berbagai sisi.

"Apa yang kau lakukan pada istriku! Hentikan! Hentikan! Aku mohon hentikan... jangan... jangan sakiti dia! Kalian iblis! Berhenti!", Raul terus meronta berusaha melepaskan diri dari para penjaga yang sedang mengunci tubuhnya.

Air matanya sudah berjatuhan layaknya air terjun, bagaimana tidak. Matanya sendiri melihat betapa tersiksa dan kesakitan istrinya saat ini. Dan beberapa menit kemudian, tubuh Nana langsung terjatuh diiringi dentuman yang keras.

"Wahh, sangat luar biasa. Hm menarik, kekuatan bayangan ya? Aku tidak sabar menunjukkan ini pada si kembar.", pria paruh baya itu merasakan pouvir baru mengalir di dalam tubuhnya.

Dirasa para penjaga mulai lemah Raul segera menghentakan tangannya dan berlari ke arah istrinya yang sudah terkulai tidak bergerak. Raul terus memanggil istrinya, namun tidak ada jawaban.

"Tsk, sudahlah. Dia sudah tenang. Tidak perlu kau tangisi.", pria asing itu mengkode para petugas untuk memisahkan Raul dengan Nana.

Raul terus memberontak, mulutnya juga mengumpat ke arah Dokter Rudolf dan pria asing itu. Bahkan para petugas cukup kuwalahan dengan berontakan Raul yang cukup kuat. Hingga akhirnya Dokter Rafael membius Raul, agar pemuda itu tenang saat dibawa pergi.

"Kau bawa pemuda bernama Raul itu ke tempat si kembar. Dan aku membutuhkan otakmu untuk mengubahnya menjadi umano. Aku butuh pengalihan dan pancingan amarah untuk mereka.", kata pria itu dengan seringaian di wajahnya.

"Baik, tuan.", Dokter Rudolf membisikan sesuatu ke arah Dokter Rafael dan seketika perempuan itu berjalan meninggalkan ruangan dengan membawa tubuh Nana yang sudah berada di atas brankar.

Pria paruh baya itu berjalan mendekat ke arah tabung kaca dan menyentuhnya. "Hei, gendut. Umano ini sudah bisa diaktifakan bukan?"

"Sudah, tuan. Hanya saja tinggal menyesuaikan kakinya."

"Tsk, tidak perlu terlalu sempurna hanya untuk sebuah robot tidak berguna. Luncurkan sekarang ke tempat si kembar. Sudah saatnya memecah belah mereka. Karena sebentar lagi perang sesungguhnya akan dimulai. Katakan juga pada mereka untuk membawa kunci pulau rahasia padaku.", kata pria paruh baya itu dengan seringai di wajahnya.


To be continue....

Hai semuanya!!!
Maafkan setelah sekian lama tidak ada kelanjutan cerita ini 
😔
Apakah masih ada yang nunggu ceritanya??? Hmm semoga masih ada 
🥹🥹🥹

Selain karena aku buntu, jujur karena di dunia pekerjaan yang jobdesku semakin banyak dan waktu buat cerita makin dikit. Pulang kerja selalu malem dan akhir pekan aku buat untuk santai, dan jadi pembaca aja😅
Nggak kerasa ternyata udah lama banget updatenya, hampir 1 tahun 
😭😭
Maafkan kalau akan slow update, tapi tetep nantikan ya chapter selanjutnya 😁😁
Karena kayaknya masih bakal agak panjang, mungkin dari kalian masih banyak pertanyaan jadi akan terjawab di chapter-chapter berikutnya~~~

Selamat menikmati... dan sampai jumpa di chapter berikutnya.... 

UNIQUERCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang